Kualat Di Gunung Keramat

Kualat Di Gunung Keramat
Panggilan Dari Alam Lain (Ratih)


__ADS_3

Fatir juga merasa kalau di tenggorokannya ada sesuatu yang mengganjal.


Hoek!!


Fatir menepuk-nepuk dadanya, ia merasa benda itu semakin menyakiti lehernya.


Fatir yang tak tahan memasukkan tangannya ke dalam mulutnya.


Meski berulang kali muntah karena merasa mual, Fatir akhirnya dapat meraih sesuatu yang membuat ia tak nyaman.


Fatir pun menarik benda itu secara perlahan, setelah ia melihat apa yang keluar dari mulutnya, Fatir terkejut bukan main, saat tali pocong sepanjang 50 senti ada di mulutnya.


Hoek! Hoek!


Fatir muntah dengan sangat hebat, ia yang ingin membuang tali pocong itu di hentikan oleh si kakek.


“Jangan!” kemudian si kakek mengambil tali pocong itu dari tangan Fatir.


“Wajib di bakar, kalau tidak! Tali ini akan mengikuti mu kemana pun kau pergi!” si kakek yang selalu serius membuat Fatir makin merinding.


“Sekarang dia ada dimana kek?” Fatir benar-benar takut pada Asrita.


“Di sebelah mu, tapi dia tak bisa menyentuh mu lagi.” si kakek tertawa getir.


Tik!


Si kakek menyalakan api dengan pemantik rokoknya.


Lalu si kakek membakar benda yang membuat pemuda baik hati di hadapannya kesusahan.


Setelah selesai, si kakek memberikan sebuah batu berwarna hijau pada Fatir.


“Jaga baik-baik, karena ini bisa melindungi mu dari hal-hal berbau mistis, apabila kau berhasil menjaganya dalam 15 hari, maka semua gangguan akan lenyap takkan kembali, tapi kalau gagal, setan-setan itu akan menghantui hidup mu, meski kau telah berhasil, kau harus terus menjaganya sampai kapan pun, karena kalau batu ini berpindah tangan, malapetaka akan datang pada orang yang memegang batu ini,” terang si kakek


“Aku mengerti kek, akan ku jaga dengan baik,” ucap Fatir.


“Harus! Karena batu ini selalu butuh getih!” setelah memberi tahu segalanya, si kakek mempersilahkan Fatir untuk pulang.


“Terimaksih banyak kek atas bantuannya.” Fatir pun memberikan si kakek sejumlah uang, namun kakek tua itu menolak.


Alhasil Fatir memberikan si kakek sebuah cincin yang memiliki aksesoris batu Ruby yang sangat langka.


“Untuk kakek, jangan di tolak,” ucap Fatir.


”Baiklah.” si kakek pun mau menerima hadiah tersebut.


Fatir yang telah selesai berobat pulang ke rumahnya.


Perasaannya kian tentram dan tenang, karena semua masalahnya telah terselesaikan.


Sesampainya di rumah yang kini hanya ia tinggali sendiri, Fatir meletakkan batu yang baru ia dapat ke dalam toples kaca berukuran kecil.


Setelah itu ia mandi untuk membersihkan diri dari debu jalanan yang menempel di tubuhnya.


Sedang batu yang ada dalam toples terus saja bergerak seolah ingin keluar.

__ADS_1


Fatir yang telah selesai mandi melaksanakan ibadah sholat Magrib.


Sejak saat itu Fatir lebih rajin beribadah, ia pun melupakan hubungan yang pernah ia jalin bersama Dia.


2 bulan kemudian, Fatir yang telah memiliki pacar baru mengajak kekasihnya untuk singgah ke rumahnya.


“Tunggu sebentar, aku mandi dulu,” ujar Fatir.


“Oke sayang.” Ratih pun ikut masuk ke kamar Fatir.


Saat Fatir masih berada dalam kamar mandi. Mata Ratih yang liar menoleh ke seluruh penjuru kamar pujaan hatinya.


Matanya yang jeli dengan cepat melihat batu yang di simpan Fatir di rak buku kekasihnya.


“Bagus banget.” tangan panjang Ratih langsung meraih toples tersebut.


“Cuma batu biasa, tapi kok menarik ya?” Ratih mengantongi batu hijau itu tanpa izin dari kekasihnya.


10 menit kemudian Fatir yang telah selesai keluar dari kamar mandi dengan pakaian lengkap.


“Kita berangkat sekarang?” Fatir ingin mengantar Ratih pulang.


“Oke.” Ratih pun bangkit dari duduknya, kemudian keduanya keluar dari dalam rumah.


“Pegangan ya!” Fatir berharap di peluk oleh Ratih.


“Oke.” saat Ratih melingkarkan kedua tangannya di perut kekasihnya.


Fatir merasakan sesuatu yang aneh, sontak Fatir menoleh ke belakangnya.


“Enggak apa-apa.” Fatir yang tak menemukan kejanggalan pada kekasihnya tak dapat berkata apapun.


Kok aku jadi merinding di dekat Ratih? batin Fatir.


Bremmm!!!


Fatir melajukan motornya membelah jalan raya yang padat akan kendaraan.


Sesampainya di kontrakan Ratih turun dari motor Fatir.


“Terimakasih banyak sudah mengantar ku sayang.” Ratih mengecup pipi kekasihnya.


“Iya sayang, aku pergi dulu.” Fatir yang buru-buru pamit pada Ratih.


“Iya, hati-hati di jalan sayang.” setelah Fatir pergi, Ratih masuk ke dalam kontrakannya.


Ia yang ingat akan batu hijau yang ada di kantongnya langsung mengeluarkannya.


“Cocok banget jadi aksesoris kalung.” Ratih yang terhipnotis terobsesi dengan batu hijau itu.


Tanpa ia tahu kalau batu itu akan membawa malapetaka dalam hidupnya. Ratih yang merasa kalau badannya lengket akan keringat memutuskan untuk mandi.


Wuss... asap hitam keluar dari dalam batu hijau tersebut.


Pukul 01:00 dini hari, saat Ratih telah tidur lelap, batu yang ada di atas tempat tidurnya bergerak dengan sendirinya.

__ADS_1


Brak!!


Jendela kaca kamar Ratih pun terbuka lebar, hingga angin malam masuk dengan mudah.


Tik tik tik!!


Rintik hujan yang turun dari langit kian membasahi bumi. Cuaca yang semakin dingin membuat Ratih terbangun.


Matanya yang bulat langsung menoleh ke arah jendela


“Bukannya tadi sudah ku tutup?” Ratih bertanya-tanya pada hatinya.


Ia yang takut datang pencuri ke dalam kontrakan yang ia tinggali sendiri langsung menuju jendela.


Saat Ratih ingin menutup kedua jendelanya, tanpa sengaja ia melihat seorang wanita memakai baju merah berjongkok dengan posisi membelakanginya di antara pohon pisang yang belum berbuah.


Wanita berambut panjang itu hanya diam di bawah guyuran hujan yang turun lebat.


“Itu siapa?” gumam Ratih.


Ia yang ingin menyapa merasa malas sebab hujan malam itu membuatnya ingin segera kembali ke ranjang.


Akhirnya Ratih menutup kedua jendelanya rapat-rapat. Saat ia ingin berbalik, ia pun kepikiran dengan wanita yang baru saja ia lihat.


“Bagaimana kalau dia bunuh diri?” perasaan Ratih menjadi tidak tenang, ia pun menyingkap gorden jendela kamarnya.


“Dimana dia?” wanita yang baru sekejap mata ia tinggalkan kini sudah lenyap.


Ratih menutup kembali tirai jendela kamarnya, saat ia membalik badannya, wanita misterius itu telah berdiri di belakangnya.


Ratih yang ingin tidur segera menuju ranjangnya.


Rasa kantuk yang tidak tertahankan membuat Ratih langsung terlelap.


Tek! Tek! Tek!


Baru saja Ratih tertidur, tiba-tiba ada yang melempar jendelanya berulang kali.


Ratih yang merasa terganggu terpaksa bangun, lalu ia menuju jendelanya.


“Siapa sih!” Ratih menjadi emosi karena waktu istirahatnya di ganggu.


Kriieet!!!


Dengan mudah Ratih membuka jendela kamarnya.


“Siapa sih?! Jangan usil dong! Orang lagi istirahat! Jangan bikin emosi deh!” Ratih marah-marah ke arah pohon pisang.


Setelah ia selesai bicara, ia pun melihat seorang anak laki-laki mengintip dari batang pisang hang berjarak 100 meter di hadapannya.


“Fadil! Ngapain disitu?!” Ratih mengira itu anak tetangganya.


“Fadil! Kau dengar enggak?!” Fadil yang tak menyahut membuat Ratih terpaksa keluar dari kamarnya.


Ia yang ingin cepat sampai ke pohon pisang itu malah keluar lewat jendela.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2