Kualat Di Gunung Keramat

Kualat Di Gunung Keramat
Terpisah


__ADS_3

“Dia, ini enggak ada racunnya kok,” ucap Angga dengan penuh senyuman.


“Iya, aku tahu, tapi aku punya minum sendiri, tas ku akan lebih ringan kalau minum air yang ku bawa sendiri,” ucap Dia.


Karena Dia tetap menolak, Angga pun tak memaksa gadis cantik itu untuk menerima pemberiannya.


Rita yang ada di barisan paling depan melihat wajah teman-temannya satu persatu.


“Kasihan,” gumamnya.


Ali yang mendengar perkataan Rita pun mulai bertanya.


“Siapa yang kau kasihani?”


“Kalian,” jawab Rita.


“Alasannya??” tanya Ali lebih lanjut.


“Masih muda tapi jiwa tua.” Rita menyindir jasmani teman-temannya yang ia anggap kurang prima.


”Maklum Rit, kitakan jarang olah raga, tapi tumben loh, di pendakian kali ini kau enggak ada cape-capenya,” ujar Ali.


“Sudah biasa.” jawab Rita dengan tertawa penuh makna.


“Iya juga sih.” jawab Ali dengan menganggukkan kepalanya.


Sementara Dia yang sedang duduk melihat ke arah pinggir jalur yang di tumbuhi ilang tajam.


Srak srak srak!


Ia pun mendengar suara langkah kaki datang dari dalam hutan.


“Her, kau dengar itu?” ucap Dia seraya menoleh ke arah Heru.


“Dengar apa?” tanya Heru.


“Suara langkah kaki, mungkin itu Reza dan Meli.” Dia berpikir itu kedua temannya.


“Oh, bisa jadi.” Heru yang cemas kalau Dia takut, berpura-pura mendengar apa yang di katakan Dia.


Gila, kayaknya dari tadi kita dapat gangguan terus, batin Heru.


“Tapi aku enggak dengar apa-apa,” celetuk Angga.


Sontak Heru geleng-geleng kepala, karena menurutnya Angga akan menakut-nakuti Dia.


“Mungkin telinga mu kurang bersih, Heru saja dengar, masa kau enggak,” ucap ketus Dia.


“Benar, harusnya kau sering-sering bersihkan telinga, Ngga! Hahaha!!” Heru memecahkan suasana yang mulai horor.


“Kalau benar itu mereka, kok enggak muncul-muncul? Atau mungkin itu babi hutan?” ucap Angga.


“Masa sih.” kali itu Dia setuju dengan pendapat Angga.

__ADS_1


Karena kedua insan yang menghilang itu tak kunjung muncul di hadapan mereka.


“Ayo! Kita jalan lagi, sebentar lagi mau siang!” Rita mengajak teman-temannya untuk melanjutkan perjalanan.


“Memang butuh berapa jam untuk sampai ke puncak?” tanya Angga.


Sebab rencananya, setelah mereka mendirikan tenda, Angga dan Rita akan meninggalkan teman-teman mereka menuju tempat penyimpanan emas batangan itu.


“12 jam,” ujar Rita.


“Apa?!” sontak Dia menatap tak percaya ke arah Rita.


“Iya,” jawab Rita.


“Sejauh itu?” Dia tak menyangka untuk mencapai sebuah puncak gunung di perlukan waktu selama itu.


“Nikmati saja, Di. Hitung-hitung buat pengalaman,” ujar Rita.


“Tahu gitu aku enggak ikut! Ini sih namanya menyiksa diri!” pekik Dia.


Ia tak suka dengan Rita yang tak cerita sedari awal mengenai estimasi yang mereka perlukan selama perjalanan mendaki.


“Nanti kalau aku jujur, kau malah enggak mau ikut lagi.” Rita yang selalu gagal mengajak Di untuk mendaki terpaksa berbohong pada sahabatnya itu.


“Sialan kau!” umpat Dia dengan perasaan kesal.


“Sudahlah Di. Lagi pula sudah disini, hitung-hitung buat pengalaman, percaya deh, kalau sudah di puncak, segala lelah dan sakit mu akan hilang,” ujar Ali.


Sedang Angga hanya diam, sebab ia yang sudah tahu, malah tak mengatakannya pada Dia.


Saat mereka masih dalam ketegangan, tiba-tiba Reza datang bersama Meli datang dengan bergandengan tangan dari arah berlawanan.


“Kalian ngapain disini?” tanya Reza dengan tersenyum pada semua orang yang kesal pada mereka berdua.


“Istirahatlah, kau sendiri kenapa menghilang hampir 2 jam?” tanya Angga kembali.


“Kita nunggu kalian di atas, karena kalian enggak datang-datang, kita putuskan buat turun,” terang Reza.


“Iya, kalian lama banget sih, cape tahu nunggunya,” timpal Meli.


Angga yang melihat Meli dan Reza terlihat prima, tak ada keringat sama sekali di tubuh mereka mulai bertanya-tanya dalam hatinya.


Mereka makan vitamin apa, kok bisa bugar begitu, batin Angga.


“Karena kita semua sudah berkumpul kembali, sebaiknya kita lanjut jalan, karena tempat yang landai untuk mendirikan tenda masih 5 jam lagi dari sini,” ujar Rita.


“Hah?!!” lagi-lagi Dia merasa syok.


“Sudahlah Dia, pelan-pelan saja, nanti juga sampai kok, bayangkan saja kita lagi Pramuka,” ucap Angga.


“Iya deh, ayo jalan.” Dia pun berdiri dari duduknya dan menyandang tasnya kembali.


Setelah itu mereka semua pun melanjutkan perjalan mereka dengan posisi Rita sebagai leader, di belakangnya ada Reza, Meli, Ali, Heru Dia terakhir Angga sebagai sweeper.

__ADS_1


Sepanjang perjalanan yang semakin lama rutenya semakin miring, membuat semua orang dengan cepat kelelahan.


Heru yang tadinya bersemangat kini merasa kalau tasnya tiba-tiba menjadi berat.


Aduh, kok bisa jadi berat gini sih, pada hal tadi ringan, batin Heru.


Dia fokus melihat ke arah bawa tiba-tiba merasa pegal di leher belakangnya, ia pun mendongak untuk meluruskan lehernya.


“Hah!” Dia terkejut saat melihat 2 anak kecil sedang duduk di atas tas Heru.


Ia yang ingin melangkah menjadi ragu, terlebih 2 anak kecil berkepala pontos tanpa memakai baju itu tersenyum padanya.


“Jalan saja, lihat ke bawah.” ucap Angga yang juga melihat penampakan yang sama dengan Dia.


“Aku takut Ngga, mereka melihat ku.” ucap Dia yang tak mau maju seinci pun.


“Kalau kau takut, nanti mereka malah pindah ke tas mu, lihat ke bawah saja,” ucap Angga.


“Tapi aku takut, Angga.” Dia yang penakut tak berani melangkah.


“Atau kau mau tukar tempat?” Angga memberi pilihan pada Dia.


“Ya sudah.” dengan cepat Dia pindah ke belakang Angga.


“Kalau takut pegang tas ku saja, dan lihat ke bawah.” Angga berusaha membuat Dia nyaman.


“Baiklah.” kemudian Dia dan Angga pun menyusul teman-teman mereka yang kini berjarak 50 meter di hadapan mereka.


“Ayo, jangan sampai ketinggalan rombongan.” Angga pun melangkahkan kakinya kembali.


Dia yang takut ketinggalan pun berjalan dengan cepat.


Rasa lelah dan pegal di lehernya jadi hilang karena perasaan takut yang amat besar dalam hatinya.


Dia yang hanya melihat ke bawah tiba-tiba mendengar suara dari belakangnya.


“Sesekali lihat ke depan dong.” suara lirih itu membuat bulu kuduknya merinding.


“Akhhh!!!” Dia yang ketakutan mencoba memegang tas Angga.


Namun anehnya, ia tak melihat Angga dan yang lainnya di hadapannya.


“Dimana aku? Kenapa aku terpisah dari rombongan?” Dia merasa bingung.


Karena kini ia ada di sebuah Sabanah yang sangat luas.


Dia pun melihat kesana kemari, berharap melihat seseorang.


Namun sayang, di tempat itu hanya ada ia seorang.


“Ibu!!!” Dia berteriak histeris, karena hatinya tiba-tiba menyesal karena tak jujur pada kedua orang tuanya.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2