Kualat Di Gunung Keramat

Kualat Di Gunung Keramat
Jadi Pocong (Sendirian)


__ADS_3

Apa mungkin gadis ini keluarganya tuan besar? batin Ratna.


Ratna yang ingin memastikan pun menyapa gadis itu.


“Maaf, nona siapa ya?” suara Ratna menghentikan si gadis yang sedang bersenandung.


“Saya ingin menutup jendela kamar ini, apa saya boleh masuk?” Ratna meminta izin dengan sopan.


Namun si gadis hanya diam membisu, ia tak menjawab apa yang di katakan Ratna.


Gimana sih? Orang ngomong kok enggak di sahut, batin Ratna.


Ratna yang ingin melanjutkan pekerjaannya masuk ke dalam kamar.


Namun si gadis yang tadinya diam kini mulai menunjukkan gelagat aneh.


Di malam yang sunyi


Aku hanya sendiri...


Tiada yang menemani


Aku harus bagaimana?


Sang gadis yang kembali bersenandung dengan cepat membuat Ratna mual, sebab suara gadis itu begitu melengking sampai menusuk telinga.


Sontak Ratna menutup kedua telinganya. Lalu gadis itu pun menoleh ke arah Ratna yang ada di belakangnya.


“Jangan ganggu aku!!!” teriak si gadis dengan wajah rata.


“Akhh!! Setan!!!” Ratna yang kembali di usik langsung balik kanan dan lari terbirit-birit menuju lantai satu.


Ratna yang akan mencapai pintu tiba-tiba di kejutkan dengan matinya listrik di rumah itu.


Deg deg deg!


Jantung Ratna berdetak dengan sangat kencang.


Ia yang bertekad ingin keluar berjalan dengan sangat pelan agar tak menabrak sesuatu.


Saat Ratna telah ada di depan pintu yang bahanya 90 persen dari kaca merasa panas dingin.


Karena tepat di balik pintu itu, ada sosok pocong berdiri tegap wajah gosong dan penuh belatung.


“Ya Allah, tolong aku!!” tubuh Ratna bergetar hebat, ia yang mundur teratur malah menabrak seseorang.


“A-ampun!! Ja-jangan ganggu saya...” Ratna tak bisa kemana-mana karena takut.


Buliran air mata pun membasahi pipi Ratna. Ia yang sudah tak kuat meminta pada sang pencipta.


“Buat aku pingsan, Tuhan.” namun sayang, yang maha kuasa tak mengabulkan do'anya.


Kemudian, seseorang yang berdiri di belakang Ratna mulai melingkarkan kedua tangannya di pinggang penuh lemak wanita tua itu.


Ratna pun melihat dengan jelas, tangan yang memeluk dirinya bersisik, penuh luka, serta kuku-kukunya hitam panjang.


“Ikut aku yuk!” bisik seorang wanita yang tak di kenali Ratna.


“Tidak!!!”

__ADS_1


Zaaar!!!


Ratna yang malang di tarik bagai magnet, tubuhnya pun menyatu ke dalam dinding kamar majikannya.


Pukul 20:00 malam, Fatir yang baru sampai ke rumah kakeknya langsung mengetuk pintu.


Tok tok tok!


Ia yang telah mengetuk pintu berulang kali tak kunjung mendapat respon.


“Assalamu'alaikum.” Fatir yang ingin segera masuk membuka handle pintu.


Ceklek!


“Eh, tidak di kunci?” Fatir yang merasa beruntung langsung masuk ke dalam rumah.


“Bi Ratna?” Fatir memanggil nama wanita tua yang merawat kakeknya. Namun Ratna tak kunjung menyahut.


“Bi Ratna kemana sih?” Fatir yang kedinginan langsung menuju kamar yang biasa ia tempati, yaitu di sebelah kamar kakeknya.


Fatir yang telah berada di kamar langsung memakai jaket tebalnya. Setelah itu ia menuju kamar kakeknya.


“Assalamu'alaikum kek.” Fatir masuk dengan langkah meragu. Sebab kamar si kakek begitu gelap.


“Apa bibi lupa menyalakan lampu?” Fatir pun berusaha mencari saklar lampu.


Tangannya yang jenjang meraba-raba di dinding.


Saat ia masih sibuk mencari saklar lampu, tanpa sengaja tangannya menyentuh tubuh seseorang.


“Hah!” hatinya tersentak. “Siapa?” tanya Fatir.


Namun sosok yang tak dapat ia lihat wajahnya hanya diam.


Tek!


Mata Fatir langsung mencari seseorang yang tak ia temukan dimana pun. Kecuali jasad kakeknya yang masih diam di ranjang.


Glek!


Fatir menelan salivanya, sebab ia melihat netra sang kakek menengok ke arah plafon.


“Kek?” meski tahu kakeknya sudah tiada, namun Fatir tetap menyapanya.


Walau Fatir dekat dengan sang kakek, tapi Fatir enggan duduk di dekat orang yang telah menyayanginya selama ini


Fatir yang ingin meninggalkan kamar merasa tak tega, sebab ia kasihan pada kakeknya yang tak ada yang menemani.


Terpaksa Fatir duduk di kursi yang ada di sebelah ranjang kakeknya.


Fatir merasa tak nyaman dengan mata kakeknya yang terbuka lebar, ia pun berinisiatif untuk menutupnya.


Saat Fatir telah menutup dengan tangannya, mata sang kakek masih saja terbuka.


“Apa karena sudah lama terbuka ya?” Fatir semakin takut di buatnya.


Ia yang tak sanggup berada di kamar kakeknya memutuskan untuk keluar menuju teras.


“Gila, entah kenapa, rasanya aku takut banget sama kakek.” untuk menghilangkan perasaan resahnya, Fatir menyalakan rokok yang ia simpan di sakunya.

__ADS_1


Tik!


Fatir membakar rokoknya dengan pemantik, lalu ia menghisap filternya.


“Ibu dan ayah sampainya kapan ya? Orang-orang yang melayat juga enggak ada lagi.” Fatir mengelus tengkuknya yang terasa berat.


Saat ia menghisap kembali rokoknya, ia pun melihat sosok yang di bungkus dengan kain putih berdiri di tengah-tengah hamparan kebun teh.


“Bangsat! Aku harus gimana nih?!” Fatir bingung harus berbuat apa.


Masuk ke dalam rumah ia segan pada kakeknya, menetap di teras ia takut di hampiri pocong mengerikan tersebut.


Fatir terus menggoyang kakinya karena bingung harus kemana.


Pocong yang sedari tadi menatap ke arah jendela kamar si kakek tiba-tiba melirik ke arah Fatir.


Deg!


Jantung Fatir berdetak semakin kencang, rasanya ia ingin kencing di celana.


“Kurang ajar!” Fatir dengan cepat masuk ke dalam rumah, meski di dalam ia merasa sesak.


Brak!


Ia pun menutup pintu dengan sangat keras. Lalu Fatir melihat ke seluruh penjuru rumah kakeknya yang sunyi.


“Bi Ratna kemana sih?” gumam Fatir.


Lalu ia pun mengambil handphonenya dan mendial nomor ibunya.


Berulang kali ia memanggil kontak Melisa, namun nomor ibunya tak kunjung aktif.


Fatir yang ingin memecahkan kesunyian tak habis akal, ia pun menelepon pujaan hatinya.


Halo, kau lagi apa? 📲 Fatir.


Mau tidur, kenapa sayang? 📲 Dia.


Aku rindu, kapan kita bertemu? Fatir.


Paling minggu depan, tumben banget kau bilang kangen, bukannya kita baru jalan kemarin? 📲 Dia.


Mamangnya aku tidak boleh mengatakan isi hati ku? 📲 Fatir.


Boleh dong sayang, hanya saja kau berbeda dari biasanya. 📲 Dia.


Saat Fatir sudah mulai merasa tenang, tiba-tiba ada suara yang berbisik di telinganya.


“Anak nakal! Harusnya kau mengaji, bukan malah pacaran, ihhihihihi!!” suara tawa yang begitu melengking menggema di telinga Fatir.


Sontak Fatir celingak-celinguk untuk mencari pelakunya, tapi sayang ia tak melihat siapapun.


Halo, sudah dulu ya, aku mau tidur. 📲 Fatir.


Oke sayang. 📲 Dia.


“Apa aku pulang saja?” Gangguan yang terus berlangsung membuat Fatir tak betah.


Saat ia akan beranjak dari tempat ia duduk, Fatir pun kembali mengingat kenangannya bersama sang kakek semasa hidup.

__ADS_1


“Tega banget kalau aku meninggalkan kakek sendirian, bi Ratna juga enggak tahu pergi kemana , kalau ada bibi, mungkin enggak apa-apa kalau aku pulang.” Fatir merasa bersalah, ia juga malu dengan sikap tak perduli nya pada kakek yang selalu memanjakannya selama ini.


...Bersambung......


__ADS_2