
Rekan-rekan Tejo yang melihat hal itu menjadi khawatir.
“Jangan ke sungai, cukup di rumah saja.” Tejo melarang anak dan istrinya untuk keluar rumah.
Beruntungnya bagi keluarga Tejo, mereka memiliki sumur di dalam rumah.
Meski mereka tak kena penyakit kulit, namun ia, istri dan kedua anaknya mengalami batuk-batuk.
Tejo yang masih ingin mencari jasad Tio terpaksa keluar rumah, ia pun menggunakan sapu tangan untuk menutupi hidungnya.
Ia yang sedang berjalan di pemukiman desa pun melihat banyak warga yang bergeletakan di tanah tanpa nyawa.
Tejo yang telah janjian dengan ketiga temannya segera menuju jurang tempat Tio terjatuh.
Sesampainya Tejo, ia pun melihat Sukirman sibuk menggaruk badannya.
“Jangan pakai jari.” Tejo memberikan ranting pohon pada Sukirman.
“Pakai ini, selesai kau garuk, patahkan ujung rantingnya, ini mencegah penyebaran gatal-gatal mu,” terang Tejo.
“Terimakasih banyak, Tejo.” Sukirman pun melakukan apa yang di katakan Tejo.
Setelah itu mereka lanjut berjalan menuruni jurang yang sangat curam.
Parjo yang kena gatal-gatal juga mengikuti saran Tejo.
Namun Parman yang tak puas dengan ujung ranting pohon yang di katakan Tejo, malah menggaruk tubuhnya dengan jemarinya. Sontak tubuhnya makin gatal sampai tak tertahankan.
“Parman, sudah ku katakan, pakai ranting!" pekik Tejo.
“Maaf, aku tidak tahan!” rasa gatal yang terus meningkat dan menyebar ke seluruh bagian tubuhnya membuat Parman nekat menyayat setiap bagian tubuhnya yang terkontaminasi.
“Parman! Jangan!!!” Pekik Tejo.
Pemandangan mengerikan itu membuat Parjo, Sukirman dan Tejo menangis.
Mereka tak bisa memegang apa yang di sentuh Parman, karena mereka takut tertular.
“Gatal, gatal sekali! Tolong aku!!!” Parman terus saja menggaruk tubuhnya dengan pisau yang ia bawa.
Sreeet!! Sreett!!!
Parman yang menjadi hilang kontrol tanpa sengaja terpeleset dan jatuh ke dasar jurang.
Mereka bertiga yang menyaksikan keadaan itu syok bukan main.
Deg!
Jantung Tejo berdekat dengan sangat kencang.
“Cepat! Cepat! Kita harus segera naik!” ucap Tejo dengan tergesah-gesah.
“Ada apa?!” tanya Sukirman.
”Siluman iblis itu datang dari bawah! Cepatlah! Jangan sampai ada yang jadi korban lagi!” ucap Tejo seraya lari sekencang-kencangnya.
__ADS_1
Mereka yang belum terlalu jauh turun ke jurang dengan cepat naik ke jalan setapak.
“Ayo pulang!!” titah Tejo.
Mereka semua pun lari terbirit-birit karena takut jadi korban keganasan nyai Putri.
“Jangan lupa bakar cabai, tabur lada di sekitar area pintu dan rumah, semoga kita semua panjang umur!” ucap Tejo.
“Aamiin.” sahut Sukirman dan Parjo.
Mereka bertiga pun pulang ke rumah masing-masing.
Tejo yang memiliki banyak stok cabai kering dan lada halus dengan cepat menaburkan di depan pintu depan rumah, dapur dan juga sekitar jendela.
Tak lupa cabai kering itu di bakar, agar ular yang mengincar mereka tak dapat mendekat.
Di rasa cukup aman, Tejo dan seluruh keluarganya bersembunyi dalam satu kamar.
“Jangan ada yang keluar,” titah Tejo.
Ia dan keluarganya pun memutuskan untuk sholat hajat berjamaah, mereka ingin meminta perlindungan dari Allah SWT.
Saat mereka sedang berdo'a, mereka pun mendengar banyak ular yang mendesis di luar kamar mereka.
Bahkan ada yang membuka pintu dapur mereka.
Saat kepala seekor ular telah berhasil masuk dari celah pintu kamar mereka, Tejo yang menyimpan bambu runcing di dalam kamarnya dengan bringas menancap ujung bambu itu ke kepala si ular.
Puk! Puk puk!
Cak!
Ular kobra itu mati seketika, Ratna yang berhasil membunuh satu ekor ular merasa sangat puas, sebab ia sendiri muak dalam ketegangan yang di berikan oleh para siluman itu.
Sementara orang-orang yang ada di luar rumah mereka telah banyak yang meregang nyawa.
Ular-ular siluman, serta makhluk tak kasar mata lainnya telah membantai 80% warga desa.
Hingga satu jam berselang, keadaan ricuh yang mereka dengar jadi hening.
Tejo yang penasaran pun mengintip dari celah papan rumahnya.
“Innalillah!” ia merasa sangat berduka saat melihat pemandangan mengerikan di depan matanya. Istri dan anak-anaknya juga melihat hal itu.
“Kita harus pindah! Aku tidak mau kalau kita semua berakhir seperti itu.” Safia meminta untuk meninggalkan desa itu pada suaminya.
“Iya, setelah keadaan tenang, kita akan pergi dari sini,” ujar Tejo.
Ia yang mementingkan keselamatan keluarganya setuju untuk meninggalkan desa kelahirannya.
“Kita mau pergi kemana bu?” Ratna yang tak pernah turun gunung, berpikir tak ada desa lain selain yang ia tinggali selama ini.
“Banyak desa yang bisa kita tinggali,” ujar Safia.
“Ibu mu benar,” ujar Tejo.
__ADS_1
Ratna pun mengangguk mengerti dengan apa yang di katakan kedua orang tuanya.
🏵️
Keesokan harinya, Tejo dan keluarga masih ada dalam kamar.
Tejo yang penasaran dengan dunia luar, mengintip kembali.
“Siapa Dia?” Tejo melihat seorang pemuda lengkap dengan pakaian serba putih berjalan di antara mayat-mayat yang mengeluarkan bau tak sedap.
Rahman yang tahu dirinya di perhatikan seseorang dengan cepat menuju rumah Tejo.
“Assalamu'alaikum, paman,” ucap Rahman
“Walaikum salam, kau siapa?” tanya Tejo dari dalam kamarnya.
“Aku Rahman, manusia biasa seperti mu paman.” Rahman memperkenalkan dirinya.
“Apa buktinya?” Tejo tak mau percaya begitu saja.
“Sebaiknya paman keluar, karena mayat-mayat ini harus segera di kebumikan, kalau tidak, mereka akan jadi makanan hewan buas,” ujar Rahman.
“Perkataan Rahman yang begitu menyakinkan membuat Tejo memberanikan diri untuk keluar rumah.
Krieett!!
Setelah pintu terbuka, Tejo melihat Rahman yang tersenyum padanya.
“Warga desa yang lain sedang bekerja, apa paman akan tetap sembunyi?” ucap Rahma.
Lalu Tejo melihat ke sekitarnya, ia pun baru percaya, jika Rahman adalah orang baik.
Hatinya juga merasa bahagia, saat melihat ke dua sahabatnya masih hidup.
“Kenapa mereka memegang mayat-mayat itu?” Tejo merasa heran, karena setahunya wabah penyakit yang menimpa desa mereka itu menular.
“Tidak apa-apa paman, berkat pertolongan Allah, semua sudah aman, tidak akan ada yang terjangkit lagi, Insya Allah.” Rahman tersenyum ramah pada Tejo.
Akhirnya Tejo keluar dari rumahnya, ia pun ikut membantu mengumpulkan mayat yang berjumlah 150 orang menjadi satu tempat, setelah itu warga desa yang tersisa 20 orang memandikan mayat-mayay itu sesuai syariat Islam.
Selanjutnya mereka semua bekerja sama menguburkan semua mayat yang telah di kafani di makam yang sama dengan Asrita.
Proses penggalian dan penguburan memakan waktu 24 jam.
Setelah selesai mereka semua merasa lega, meski dalam hati masing-masing menangis darah.
Pada sore hari yang sunyi, seluruh warga desa yang tersisa berkumpul di balai desa.
“Untuk sementara desa telah aman, tapi tak menjamin kalau para iblis itu akan kembali, sebaiknya kalian semua pindah, karena ada kehidupan yang lebih layak di bawah gunung,” ujar Rahman.
Semua orang memikirkan apa yang di katakan Rahman.
“Baiklah, aku juga setuju, tapi kita baru pergi setelah menyemen dan memberi nisan pada setiap makam,” ujar Tejo.
Semua orang pun setuju dengan pendapat Tejo.
__ADS_1
...Bersambung......