Kualat Di Gunung Keramat

Kualat Di Gunung Keramat
Panggilan Dari Alam Lain (Antara Mimpi)


__ADS_3

Tanah liat yang becek membuat kaki Ratih kotor. Namun Ratih yang sudah marah tak perduli akan hal itu.


“Fadil! Sini kau! Apa mama mu mengizinkan mu main hujan malam-malam?” Ratih yang telah sampai di antara pohon pisang, tak melihat Fadil dimana pun.


“Kemana anak nakal itu?” Ratih menoleh ke arah kebun yang tak di beri penerangan apapun.


Ratih yang ingin memeriksa Fadil ke dalam kebun itu meragu, karena ia merasa akan terjadi hal buruk jika ia melakukannya.


Ketika Ratih balik kanan, matanya membulat sempurna.


“A-aku ada dimana?” Ratih bingung, karena kini di hadapannya adalah hutan belantara.


Ratih yang mulai takut berlari menuju tempat yang ia yakini adalah posisi kontrakannya berada.


“Dimana? Rumahnya ada dimana? Kok bisa hilang sih?!” mata indah Ratih mulai memerah.


Karena keadaan aneh itu membuat jantungnya berdebar dengan sangat kencang.


Ratih pun mendongak ke arah langit, awan hitam yang menutupi cahaya bulan perlahan-lahan hilang.


“Aku harus ke arah mana?” Ratih yang ingin mencari jalan keluar mengandalkan sinar rembulan sebagai penerang jalannya.


Kakinya yang akan melangkah tiba-tiba mendapat sebuah bisikan.


“Kalau ingin selamat, jangan bergerak!”


Ratih yang mendengar suara itu langsung merinding. Kalau menetap ia segan, jika beranjak ia takut tersesat.


“Aku harus bagaimana ya Tuhan, tolong tunjukkan aku jalan yang benar ya Allah, ku mohon!!!” Ratih pun melihat ke sekitarnya.


Srak srak srak!


Telinganya yang tangkas mendengar ada yang sedang berjalan di antara semak belukar yang ada di hadapannya.


Ratih yang ingin teriak harus berpikir dua kali sebab ia takut kalau semua penghuni hutan itu mendatanginya.


Di tengah ketakutannya, ia pun melihat di balik batang pohon besar, ada seseorang yang melambaikan tangannya padanya.


Ratih yang terdesak dengan cepat berlari menuju seseorang yang belum ia kenal siapa.


Pluk!


Sebelum Ratih sampai ke seseorang itu, kepalanya malah dapat lemparan batu kerikil berulang kali.


Ratih yang makin takut tak mau menoleh ke belakangnya.


Saat Ratih akan sampai ke pohon ia pun tiba-tiba berhenti, karena hati kecilnya berkata jika ia tak boleh kesana.


Ratih yang tak sepakat dengan dirinya sendiri dengan cepat melanjutkan langkahnya.


Zaarshh!!


Seluruh tubuh Ratih seolah tersedot ketika melewati batang pohon tempat seseorang yang tadi ia lihat.


“Yang tadi apa ya?" Ratih pun menoleh ke belakangnya.


“Apa aku harus kembali?” saat Ratih akan menuju tempat awal ia berdiri, tiba-tiba ada yang memanggilnya.

__ADS_1


“Sstt sst! Sini! Hei...” suara itu terdengar begitu jelas di tengah hutan belantara yang sunyi akan keramaian.


“Siapa?” tanya Ratih dengan sorot mata yang terus mengawasi sekitar.


“Kemarilah.” perlahan sebuah tangan muncul dari balik pohon mati.


Ratih yang tak punya teman langsung mendatangi orang tersebut.


“Halo, aku Ratih, nama mu siapa?” tanya Ratih pada seorang gadis berparas cantik yang memakai gaun serba hitam.


“Aku Asrita, sedang apa kau disini?” tanya Asrita meski sudah tahu penyebab Ratih ada di tempat itu.


“Aku juga enggak tahu, kenapa aku ada disini,” ujar Rita.


“Benarkah? Mau ikut dengan ku atau tetap disini?” Asrita memberi pilihan.


Ratih menoleh ke arah ia datang, hati kecilnya berkata untuk kembali ke tempat itu, namun rasa takutnya justru menyuruh ia untuk ikut dengan Asrita.


“Ikut saja.” ketika Ratih akan melangkahkan kakinya, tanpa sengaja ia melihat cahaya dari pohon pisang tempat ia berdiri tadi.


Cahaya itu seolah memanggil-manggil Ratih untuk kembali.


”Asrita.” Ratih menatap serius ke gadis cantik yang baru ia temui itu


“Iya, ada apa?” sahut Asrita.


“Aku enggak jadi ikut.” Ratih yang merasa terpanggil segera berlari ke arah ia datang.


Asrita menatap sinis Ratih yang tengah berlari kencang.


“Aku harus cepat!” entah apa yang Ratih rasakan, ia yakin jika menetap lebih lama di hutan itu maka akan membuatnya celaka.


Setelah melewati portal alam manusia dan nyata hati Ratih merasa lega.


“Hah!!!” Ratih terbangun dari tidurnya.


Ia yang baru membuka mata melihat langit-langit kamarnya.


“Yang tadi cuma mimpi?” Ratih yang merasa haus bangkit dari tidurnya.


Saat ia akan beranjak dari ranjang, ia pun melihat kakinya yang kotor akan lumpur.


“Apa?!” sontak Ratih menoleh ke arah jendela kamarnya yang terbuka lebar.


Deg!!!


Zarrr!!!


Jantungnya berdetak dengan sangat kencang, pembuluh darahnya seolah pecah saat ia melihat kakinya berlumpur.


Ratih memegang lumpur yang ada di kakinya yang masih basah.


Ratih yang ketakutan bangkit dari ranjang dan segera menutup jendela kamarnya.


Setelah itu Ratih ke kamar mandi untuk mencuci kakinya.


“Astaga... jadi yang tadi nyata?” Ratih yang masih sibuk membersihkan kakinya harus jantungan sebab pintu kamar mandinya tertutup dengan sangat keras.

__ADS_1


Bam!


“Allahu Akbar!” Ratih berteriak sekencang-kencangnya.


”Siapa itu?!” pekik Ratih.


Ia yang panik membuka handle pintu, namun pintu kamar mandi itu tak bisa di buka


Bam! Bam bam!


“Tolong!! Buka!! Tolong!!!” Ratih memukul-mukul pintu yang sedari tadi mengurungnya.


“Hiks... jangan ganggu aku! Siapapun itu, kalau aku salah, mohon maafkan aku, hiks.." setelah menangis berurai air mata, pintu yang menjadi sarana ia keluar terbuka dengan sendirinya.


Krieett!!


Ratih yang melihat ada celah langsung keluar dari kamar mandi.


Ia yang tak tahan dengan gangguan yang baru saja ia dapatkan masuk ke kamarnya, lalu mengambil tas dan handphonenya, setelah itu Ratih keluar dari kontrakannya.


Ratih pun mendial nomor Fatir agar datang menjemputnya


Truuttt!!!


Truuttt!!


Berulang kali Ratih mendial kontak sang kekasih, namun sayang Fatir tak kunjung menjawab.


Karena telinga Fatir yang sedang tidur nyenyak di sumbat oleh kuntilanak peliharaan almarhum ayah kandungnya.


🏵️


Ratih yang tak bisa mengharapkan sang kekasih terpaksa memesan taksi online.


Selagi menunggu taksi pesanannya datang, Ratih duduk di kursi yang ada di teras kontrakannya.


“Kenapa tiba-tiba aku mendapat gangguan dari makhluk halus?” Ratih bertanya-tanya dalam hatinya.


Saat ia belum menemukan jawaban atas kesialan yang ia alami. Ratih melihat seorang kakek tua berjalan ke arahnya.


Ratih yang tak mengenali sosok kakek itu mengira jika si kakek adalah hantu.


Ratih pun menundukkan kepalanya. “Lebih baik aku pura-pura enggak lihat.”


Lalu kakek tua itu pun berhenti tepat di hadapan Ratih.


“Kenapa kau ada di luar malam-malam begini?” tanya si kakek.


Sontak Dia menolah ke si kakek, “Aku ingin pergi ke rumah teman ku kek,” ucap Ratih.


“Besok saja, tidak baik gadis seperti mu keluar malam-malam begini,” ujar si kakek.


“Tapi saya takut di dalam kek,” ujar Ratih.


“Yang penting kau mengembalikan barang yang kau ambil, itu kuncinya.” setelah mengatakan itu, kakek tua itu pun pergi.


Ratih sadar jika yang di maksud kakek tua itu adalah batu hijau milik kekasihnya.

__ADS_1


...Bersambung.....


__ADS_2