
Suci yang baru dapat kontrakan langsung pindah hari itu juga, sebab jadwal masuk kuliahnya 2 hari lagi.
Jarak dari kontrakannya ke kampus hanya membutuhkan 5 menit berjalan kaki.
“Ya ampun, yang benar saja sih! Masa si Heri enggak jadi datang!” Suci marah pada kekasihnya yang ingkar janji.
Ia pun memasukkan barang-barangnya yang terbungkus dalam kardus ke dalam kontrakan dengan kasar.
Brak brak!
“Laki-laki macam apa yang tak bisa membantu pacarnya pindahan.” Suci yang kelelahan menutup pintu kontrakannya, setelah itu ia menuju kamarnya.
“Untung pemilik kotrakan ini baik hati, dia mau membersihkan kontrakan ini untuk ku.” Suci merasa bersyukur, setidaknya ada hal baik yang ia dapatkan hari itu.
Hatinya yang marah sedikit terobati, karena kamar yang menjadi pelepas lelahnya begitu indah dan terlihat nyaman untuk di tempati.
“Wangi.” Suci suka aroma kamar yang di berikan pemilik kontrakan padanya.
Ia pun merebahkan tubuhnya ke atas ranjang berukuran 200x180x30 senti meter.
“Ini baru namanya tempat tidur.” Suci tersenyum puas.
Ia pun dengan mudah terlelap tanpa membaca do'a.
Pada pukul 23:59 malam, Suci terbangun karena marena merasa lapar yang tak bisa di tunda sampai pagi.
Ia pun bangun dari tidurnya, “Sial! Perut ku kok bisa keroncongan gini sih.” Suci mengelus perutnya yang terus berdendang.
Ruggg... rugg...
Ia yang ingin mengobati rasa laparnya turun dari atas ranjang.
Suci yang berjalan sempoyongan tanpa sengaja menabrak kursi goyang yang terbuat dari rotan asli berwarna coklat tua.
“Sejak kapan ada kursi disini?” Suci tidak ingat kalau ada kursi di dalam kamarnya.
Namun ia yang merasa lapar tak terlalu memikirkanya.
Ia pun menggeser kursi goyang itu dari mulut pintu.
Lalu ia menuju ruang tamu, untuk membuka kardus yang belum ia rapikan.
Sekk!!!
Suci menyobek kardus yang ada di atas lantai dengan tergesah-gesah.
“Astaga, hanya ada mie, ck!” Suci mendecak.
Setelah itu ia menuju dapur untuk memasak makanan instan tersebut.
Suci yang sedang asik memasak mendapat telepon dari sang kekasih.
Gunggg...!!!
Handphone yang ada di saku belang cekana jeansnya pun bergetar.
“Siapa sih!” Suci yang merasa terganggu mengambil handphonenya.
“Heri?” ia pun segera mengangkat telepon dari kekasihnya.
Halo! 📲 Suci.
__ADS_1
Halo sayang, kau ada dimana sekarang? 📲 Heri.
Di kontrakan, menangnya aku ada dimana lagi?! 📲 Suci.
Aku dari tadi di depan kontrakan mu! Tapi kau enggak ada tuh! 📲 Heri.
Yang benar saja, kau jangan bercanda pada ku! Aku dari tadi menunggu mu.📲 Suci.
Suci, aku jujur! Sekarang keluar saja, biar kau lihat aku ada disini! 📲 Heri.
Baiklah! 📲 Suci.
Suci yang penasaran pun mematikan api kompornya, setelah itu ia meninggalkan dapur untuk memastikan apa yang di katakan kekasihnya.
Ceklek!
Krieett!!!
Suci membuka pintu rumah barunya, lalu ia pun melihat Heri berdiri di teras.
“Kau!” ucap Suci.
“Lama banget sih buka pintunya!” Heri yang kedinginan pun segera masuk ke dalam rumah kekasihnya tanpa izin.
“Heh, ini sudah malam, kau enggak bermaksud buat tidur disini kan?!” Suci tak mau jika kekasihnya menginap di kontrakannya.
“Jadi kau mau menyuruh ku pulang di cuaca sedingin ini?” sorot mata Heri yang begitu tajam membuat Suci tertawa getir.
“Heri, aku enggak mau jadi bahan gosip disini ya!” Suci tak ingin jika citranya buruk di tempat barunya.
“Aku pulang besok! Jangan paksa aku buat kembali sekarang!” Heri yang tak ada aturan langsung menuju kamar Suci.
Suci yang ingin mencegah Heri malah mencium bau hangus dari dapur.
“Astaga!” Suci segera mematikan api kompornya.
“Bukannya tadi sudah ku matikan?!” Suci ingat betul kalau ia telah mematikan api kompor gasnya.
Ia yang kembali mengingat Heri pun segera menuju kamarnya.
“Hei, Heri!”
Buk!
Suci yang tak lihat jalan malah menabrak kursi goyang yang tepat di pintu masuk kamarnya.
“Heri!” Suci mengira kalau itu adalah kerjaan pacarnya.
Suci pun naik ke atas ranjang dan membuka selimut yang terlihat ada seseorang di dalamnya.
Braak!!
Setelah Suci membuka selimutnya, ia mengernyitkan dahinya, sebab Heri tidak ada disana.
Gluk!
Sontak Suci menelan salivanya, ”Benar-benar enggak lucu, apa dia pulang?”
Suci yang tak suka cara kekasihnya keluar dari kamarnya dan mencari Heri ke segala sudut ruangan kontrakannya.
“Benar, dia pulang, tapi enggak apa-apa sih, toh aku juga enggak mau dia ada disini.” suci pun mengunci pintu kontrakannya, lalu beranjak ke kamarnya untuk tidur.
__ADS_1
Pukul 05:00 pagi, Suci terbangun karena mendengar dering telepon yang sangat berisik di telinganya.
Ketika Suci membuka mata, ia heran karena dirinya telah duduk di atas kursi goyang yang membuatnya tersandung.
“Kok aku bisa ada disini?” Suci menggaruk kepalanya, karena seingatnya ia tidur di atas ranjang.
Suci yang ingin mengangkat telepon pun bangkit dari kursi goyang itu. Lalu mengambil handphonenya yang ada di atas ranjang.
Ketika ia melihat layar handphonenya, ia pun membaca nama sang kekasih.
“Heri?” Suci yang ingin memarahi sikap tak sopan kekasihnya pun segera mengangkat telepon tersebut.
Halo. 📲 Suci.
Halo, maaf ya sayang, semalam kau demam, setelah minum obat aku malah ketiduran dan baru bangun sekarang. 📲 Heri.
Deg!
Jantung Suci berdetak dengan sangat kencang.
Lalu, yang datang tadi malam siapa? batin Suci.
Yang benar saja, bukannya tadi malam kau datang jam 00:00 malam?! Terus pulang tanpa pamit? Itu enggak sopan, Her! Lain kali jangan di ulangi! 📲 Suci.
Ya ampun sayang, aku enggak kemana-mana loh dari sore sampai sekarang, jangan bercanda, mana mungkin aku datang ke kontrakan mu, kalau kau enggak percaya tanya ibu ku, atau lihat cctv kamar ku. 📲 Heri.
Jangan bohong! 📲 Suci.
Baiklah, nanti ku kirim duplikat cctv kamarku pada mu. 📲 Heri.
Mendengar pernyataan Heru yang begitu menyakinkan membuat bulu kuduk Suci merinding.
Kirim saja! 📲 Suci.
Suci yang tak percaya pun menagih bukti pada kekasihnya.
Karena sudah masuk subuh Suci tak dapat tidur lagi, ia pun menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu.
Saat ia sedang berjalan menuju kamar mandi suci melewati sebuah kamar yang terkunci.
Tok tok!
Langkah kakinya pun terhenti karena mendengar ketukan dari balik pintu kamar yang di gembok itu.
“Apa tadi aku salah dengar?” Suci pun menuju kamar tersebut dan membalas ketukan pintu tersebut.
Tok tok!
Tok tok
Suci yang telah beberapa kali mengetuk pintu, tak kunjung mendapat balasan.
“Mungkin aku salah dengar.” ia pun kembali melanjutkan langkahnya menuju kamar mandi.
Suci yang mengambil air wudhu merasakan hal yang aneh, sebab kran airnya tak mengeluarkan air.
“Apa airnya habis? Tapi tadi malam, kran air yang ada di teras mengalir.” Suci pun membuka kran air itu, karena ia berpikir jika kran nya tersumbat.
Sik sik sik!
Setelah berhasil, air pun mengalir dengan deras hingga membuat basah baju Suci.
__ADS_1
Suci pun bergeser dari semprotan air besar itu, lalu ia pun melihat ke kran air yang tersebut karena gulungan rambut yang sangat tebal.
...Bersambung......