
“Matilah kau Delima, kau harus membayar semua yang telah kau lakukan pada orang-orang tak bersalah itu.” Sarah pun mendudukkan tubuh Delima.
Kemudian ia yang telah buta perasaan melilitkan tali pandu itu ke leher jenjang sahabatnya.
“Andai kau tak punya niat jahat pada ku, pasti aku akan memaafkan mu.” Sarah yang telah siap menarik kedua sisi tali itu sekencang-kencangnya.
Delima yang tertidur seketika terbangun. Delima pun melihat semua yang di lakukan Sarah. Namun ia yang tak berdaya oleh efek alkohol tak bisa berbuat apa-apa.
“Pergilah dengan tenang Delima, susul keluarga mu yang lainnya.” ucap Sarah seraya tertawa menyeringai
“Kenapa? Pada hal kita adalah sabahat.” Delima ingin tahu alasan Sarah membunuhnya.
“Karena kau itu licik! Kau pikir aku enggak tahu rencana mu!” Sarah makin menggila, tawa jahat menghiasi setiap lekuk bibir indahnya.
...Flash Back...
Setelah melakukan ritual penyatuan dengan sang raja ular, Sarah pun keluar dari istana raja Garaga pada pukul 03:30 subuh.
Ia pun di antar menggunakan obor oleh pengawal kerajaan yang menjelma jadi pria gagah.
“Aku sampai di sini saja.” Sarah memutuskan hanya di antar sampai pos dua.
“Baiklah.” pengawal itu pun balik kanan, dan wujudnya langsung berubah jadi ular piton besar.
Sarah yang akan sampai ke pohon besar melihat Delima bicara dengan sebuah ranting pohon.
“Ya, aku memang sengaja membawanya kemari bu, karena aku tahu dia akan takut selama perjalanan ke atas, tadi saja dia panik banget, apa lagi tadi malam hujan badai, ku yakin orang payah sepertinya tidak akan bisa bertahan, lagi pula dia sudah ku tandai, kalau dia mati maka dia adalah tumbal pertama ku tahun ini untuk Raja Garaga.” Delima mengatakan niat jahatnya pada pada Rani yang berwujud ranting pohon.
Mendengar pengkhianatan sahabat baiknya emosi Sarah mendidih.
Ia Yang tak mau jadi sasaran Delima memutuskan untuk membunuh sahabatnya tersebut.
Sarah pun bersembunyi di balik pohon besar yang ada di pinggir jalur.
“Sebaiknya aku menemuinya pagi saja. Hum! Awas saja kau Delima, kau pasti menyesal telah berniat jahat pada ku!” Sarah mengepal tangannya kuat-kuat.
...Flash Back Off...
Mengingat perbuatan buruk Delima Sarah makin semangat untuk mengencangkan kedua ujung tali yang ia pegang, sebab jika Delima mati, ia bisa memiliki seluruh harta perempuan kaya yang membuatnya iri selama ini.
Delima yang sudah pada batasnya menatap ke arah langit-langit rumahnya dengan lidah menjulur seraya napas terengah-engah.
Rumah besar yang tak punya Art dan satpam makin membuat Sarah lebih leluasa berbuat apapun.
__ADS_1
“Hahahaha! Dasar manusia pelit, andai kau punya teman di rumah ini, pasti semua tak akan terjadi.” Sarah berulang kali melepas tawa, ia sangat puas dengan hasil kinerjanya yang sukses.
Setelah Delima meninggal dunia, Sarah menyeret mayat sahabatnya menuju kamar pribadinya.
Delima yang tak bernyawa memudahkan Sarah untung menggotong tubuhnya.
Sesampainya di kamar, Sarah merebahkan tubuh Delima di atas ranjang, tak lupa ia menyelimuti sahabatnya agar terlihat tidur pulas.
Selesai mengurus jasad sahabatnya, ia pun mengambil kunci kamar penyimpanan harta milik Delima yang ada di laci meja rias.
Selanjutnya Sarah menuju ruangan istimewa Delima. Ia yang telah ada di depan pintu harta tersebut, ia pun membukanya tanpa pikir lama.
Retek!
Krieeett!!!
Setelah pintu terbuka lebar, Sarah melihat kembali tumpukan uang yang tak ia tahu berapa jumlahnya.
“Uang ku!!!” Sarah berteriak seraya memeluk uang hasil curiannya.
“Akhirnya aku mendapatkan kalian.” puas melepas rindu pada uang dengan nilai 100 ribu perlembarnya.
Kemudian Sarah menuju brangkas raksasa berisi emas Delima.
Sarah yang cerdas dan jeli dalam melihat ternyata memperhatikan Delima saat memasukkan sandi brangkas nya. Ia pun menekan nomor 224006.
Karena memasukkan kode yang tepat, pintu brangkas itu pun terbuka lebar.
Sarah yang berhadapan langsung dengan tumpukan emas batangan, cincin, gelang, dan juga kalung menjadi gelagapan.
Kakinya bergetar, karena ia yang miskin tiba-tiba menjadi orang kaya baru.
“Haha haha hahaha...” tawanya kian pecah, senyumnya sulit hilang.
“Aku mau keliling dunia.” Sarah berencana menghilangkan jejak dari Garaga dengan menetap di luar negeri.
“Takkan ada yang bisa menghalangi ku, apa lagi si raja ular bodoh itu! Setelah aku menguras habis harta raja Garaga aku akan pergi, atau kalau perlu ku bunuh dia.” sikap tamak yang makin menjadi-jadi membuat Sarah lupa daratan.
Serangkaian rencana licik pun ia susun demi menyelamatkan dirinya dari ular yang sangat menjijikkan di matanya.
Sarah yang girang masuk ke dalam berangkas raksasa berukuran 200x200 meter dengan panjang 200 meter.
“Hahaha... mandi emas!! Asyik!!!” Sarah masuk ke dalam tumpukan emas yang tak ternilai harganya.
__ADS_1
Sarah yang mirip orang gila menari-nari, mencoba banyak kalung, gelang, cincin hingga menutupi sebagian tubuhnya.
“Ayah dan ibu pasti bahagia melihat aku yang sekarang, tak ada lagi yang berani menyepelekan ku, hahaha...” Sarah pun membayangkan kalau dirinya hidup bahagia di negara impiannya.
Ia yang fokus pada emas-emasnya tidak sadar pintu brangkas yang tak ia ganjal mulai bergerak.
Ret ret ret...
Bam!
Suasana gelap yang tiba-tiba membuat Sarah menoleh ke arah pintu yang kini telah tertutup rapat.
”Asataga, ganggu banget pintunya.” Sarah bangkit dari duduknya, dan dengan perlahan berjalan menuju pintu brangkas yang ternyata terkunci otomatis.
Sarah pun meraba-raba handle pintu, namun ia tak kunjung menemukannya.
“Astaga! Bagaimana ini?” Sarah menjadi kalang kabut.
Jemarinya terus saja mencari handle pintu yang ternyata tidak di pasang dari dalam.
“Buka!! Tolong!!” Brangkas yang terbuat dari baja asli di tambah tanpa fentilasi dan juga kedap suara membuat Sarah sesak napas.
Keringatnya pun bercucuran dengan sangat deras.
“Siapapun tolong aku...” seketika Sarah menyesal dengan perbuatannya.
“Harusnya aku mengambil uang yang ada di luar itu saja, hiks...” Sarah menangis sesungukan.
Ia yang dehidrasi merasa tercekik ada di tempat itu.
Bam! Bam!
Sarah terus memukul pintu brangkas yang tak mungkin terbuka dari dalam.
Saat ia masih terisak dalam tangisnya, tiba-tiba Delima masuk ke dalam ruangan maut tersebut.
“Masuk perangkap juga, hahaha...” Delima tertawa cekikikan.
Ternyata Sarah adalah korban yang kesekian, Delima yang berpengalaman tahu jika Sarah akan tertarik pada hartanya, untuk itu ia menunjukkannya pada sahabat karibnya itu.
Delima juga menunjukkan pin berangkasnya secara terang-terangan. Hingga membuat siapapun akan tergiur untuk mencuri semua uang dan emasnya.
“Sarah... Sarah... kau pikir aku akan mati semudah itu?! Dasar sialan! Tapi ku hargai nyali mu yang berani membunuh ku, walau pun itu gagal.” Delima yang merasa sudah capai target mengambil air minum di dalam kulkas.
__ADS_1
Ia pun meminum air mineral dingin dengan santai seraya menunggu kematian sahabatnya.
...Bersambung......