
Nyai Putri yang Murka berjalan menuju Rahman dan ketiga temannya.
Nyai Putri yang pada batasnya mengamuk dan mengibaskan ekornya kesana kemari, hingga para budak dan pengawalnya terhempas.
Suara teriakan pun terdengar dimana-mana. Lidah nyai Putri yang terus menjulur siap menyemburkan bisanya ke arah Rahman dan kawan-kawan.
Rahman dan kedua temannya pun telah bersiap di posisi mereka.
Burrr!!!
Nyai Ratu menyemburkan bisanya ke Rahman yang terbang kesana kemari.
Sssstttt!!!
Nyai Putri semakin menggila, karena ia berulang kali gagal mengenai sasarannya.
Rahman yang telah murka melempar tongkatnya ke kepala nyai Putri.
Pluk!
“Akh....” sontak nyai Putri merasa kepanasan dan juga perih.
Tubuh raksasa nyai Putri menggeliat ke kiri dan kanan.
Hingga semua orang yang menyaksikan kena imbasnya.
“Selamatkan diri kalian!!!” teriak Rahman.
Semua jiwa yang tertahan disana menuju tempat yang aman meski sulit bagi mereka untuk melangkah.
Pertarungan menegangkan pun terjadi antaran nyai Putri melawan Rahman dan kedua rekannya.
Semua orang yang menyaksikan merasa ketakutan.
Meski begitu mereka berharap bisa bebas dari dunia lain itu.
Ali sendiri memerintahkan kusir kudanya untuk kembali ke istana.
Sesampainya Ali ke istana, ia pun menuju sebuah pintu, yang ia yakini jalan untuk keluar menuju dunia nyata.
“Aku pernah melihat Asrita lewat sini, tidak salah lagi.” saat Ali akan melangkahkan kakinya, tiba-tiba Roro anak pertama Ali dengan perawakan dari pinggang ke kepala manusia, sedang ke bawah adalah adalah ular.
“Ayah mau kemana?” tanya Roro.
Ali pun menoleh ke arah putrinya yang kini telah menjadi remaja.
“Putri ku.” Ali menggenggam tangan putri sulungnya.
“Bukannya ibu telah melarang kita untuk mendekati pintu itu?” Roro mengingatkan sang ayah akan peraturan ibunya.
“Ayah tahu, tapi kau juga tahukan nak, kalau ayah memiliki keluarga di dunia manusia?” Ali berharap jika putrinya mengerti.
“Tapi ayah, ibu akan marah kalau ayah membuka pintu itu.” Roro tidak ingin jika ayahnya pergi.
“Ayah tahu, tapi ayah sangat merindukan kakek dan nenek mu yang ada disana, tolong jangan halangi ayah, sudah terlalu lama ayah tidak pulang.” Ali mengelus puncak kepala putrinya.
“Aku mengerti, apa tidak sebaiknya ayah berpamitan pada ibu dan adik ku yang lainnya.” Roro ingin ayahnya di antar oleh ibu dan 99 saudara dan saudarinya yang lain.
“Kalau ayah harus pamit, pasti ayah tidak akan di di izinkan untuk pergi, Roro kau adalah putri kepercayaan ayah, tolong jangan katakan pada siapapun, kalau ayah pulang.” Ali memohon pada Putrinya.
Roro yang menyayangi ayahnya pun bersedia untuk merahasiakan kepulangan ayahnya.
“Baiklah ayah. Ku harap ayah bahagia disana, jangan lupa untuk pulang.” Roro pun mengantar ayahnya menuju pintu gerbang dua dunia itu.
__ADS_1
Ceklek!
Krieett!!
Ali memutar handle pintu rahasia tersebut. Lalu ia pun melihat makam yang membuat mereka semua dalam kesialan.
“Terimakasih karena sudah menyayangi ayah.” Ali pun melangkahkan kakinya, dan melewati penghubung antara dunia nyata dan gaib.
Baru saja Ali keluar, tiba-tiba istana nyai Putri bergetar.
“Ada apa ini?” Roro melihat langit-langit istana megah ibunya yang mulai retak.
“Gawat! Pasti telah terjadi sesuatu!” Roro yang tahu ada yang tidak beres langusung bergerak untuk mencek keluar istana.
Namun saat Roro melewati lorong panjang yang sangat gelap, tiba-tiba dinding istana yang terbuat dari batu asli runtuh dan menimpa tubuh Roro.
“Akh!!! Tolong!!!” Roro meringis kesakitan, ia yang ingin menyelamatkan diri sulit untuk bergerak, karena kini dirinya telah tertimbun oleh bebatuan.
Sementara di luar istana, nyai Putri yang di takuti terbaring lemah di atas tanah dengan wujud ularnya.
“Semua harus di akhiri, sudah terlalu banyak manusia yang kau sakiti. Ibrahim!” Rahman memanggil temannya.
“Siap, Rahman!” Ibrahim pun datang ke sebelah Rahman.
“Cincang-cincang tubuhnya!” titah Rahman.
Ibrahim yang mendapat perintah segera mengerjakannya, ia pun mengeluarkan pedang berukuran 60 senti meter dari sarung yang ia semant kan di pinggangnya.
Cak cak cak!
Ibrahim mencincang tubuh nyai Putri menjadi beberapa bagian.
Para budak dan pengawal yang menyaksikan kematian nyai Putri merasa senang, karena kini mereka terbebas dari derita yang mereka rasakan selama ini.
“Mungkin kau bisa, tapi aku tidak, karena aku telah mati,” ujar Rita.
“Benarkah?” Ratih merasa jika dirinya juga telah mengalami hal yang sama.
“Ratih, kau harus tetap semangat, karena setelah kau bangun, dunia yang kau hadapi akan berbeda dari biasanya.” Rita memegang pundak Ratih.
“Apa?” belum sempat Ratih menemukan jawaban dari apa yang Rita katakan. Tiba-tiba ia membuka matanya, Ratih yang bingung dengan gelap malam yang ia lihat bangkit dari tidurnya.
“Kau baik-baik saja?” Ali menyapa Ratih yang duduk di atas makam Asrita.
“Kau, Ali kan?” ucap Ratih.
“Iya,” sahut Ali.
Ratih yang baru sadar jika dirinya berada di antara makam tua langsung menjerit.
“Akhh!!!” ia pun bangkit dari makam Asrita.
“Ayo, ku antar pulang.” Ali ingin turun gunung bersama Ratih.
“Baiklah.” Ratih yang ingin keluar dari tempat itu mengikuti Ali.
Pada pukul 07:00 pagi, mereka pun tiba di kaki gunung.
“Kita harus naik apa dari sini?” tanya Ratih.
“Itu.” Ali menunjuk ke arah mobil yang baru datang.
“Itu mobil siapa?” tanya Ratih lebih lanjut.
__ADS_1
“Teman ku.” ternyata Ali meminta bantuan Angga untuk menjemputnya melalui mimpi.
Saat mobil sedan hitam berhenti tepat di hadapan Ratih.
Angga pun keluar dari dalam mobil. “Apa kau temannya, Ali?” sapa Angga.
“Iya,” sahut Ratih.
“Apa?” Angga tak mengerti dengan apa yang Ratih katakan, karena Ratih yang tak memiliki lidah hanya berkata gaga gugu.
“Aku temannya Ali.” lagi-lagi Ratih membuat Angga bingung.
Mungkin dia bisu, batin Angga.
“Mari ku antar.” ucap Angga.
“Baiklah, Ayo Li.” Ratih mengajak Ali untuk masuk mobil.
Namun Ratih yang menoleh ke sebelahnya tak melihat Ali dimana pun.
“Dimana dia?” Ratih mencari Ali kesekitarnya.
“Bawa dia pulang Ngga,” pinta Ali.
“Aku mengerti.” lalu Angga menggenggan tangan Ratih.
“Ali sudah meninggal, yang tadi hanya sukmanya saja, ayo pulang.” Angga menuntun Ratih untuk masuk ke dalam mobilnya.
Ali yang berada di sebelah Angga pun menceritakan apa yang terjadi tentang Ratih.
Angga turut prihatin pada wanita muda itu, ia sendiri mengalami hal yang sama, yaitu kehilangan orang-orang berharganya.
6 jam kemudian, Angga memberhentikan mobilnya tepat di depan kontrakan Ratih.
Ratih pun melihat Fatir yang duduk di bangku teras kontrakannya.
“Fatir!” Ratih yang rindu keluar dari dalam mobilnya Angga tanpa mengucapkan terimakasih
Angga yang mendapat perlakuan itu hanya tersenyum tipis.
“Terimakasih karena memenuhi permintaan ku.” Ali meneteskan air matanya
“Kenapa kau tak bisa hidup juga!” tanya Angga.
“Karena jasad ku telah habis di makam belatung dan binatang buas,” terang Ali.
Angga yang mendengar hal tersebut ikut menangis.
Setelah itu Angga melajukan mobilnya, mengantar Ali ke rumah orang tuanya.
“Fatir!” Ratih memeluk kekasihnya.
“Kau kenapa?” tanya Fatir, sebab kekasihnya bicara tak jelas padanya.
“Maksudnya apa?” tanya Ratih. Fatir yang curiga membuka mulut Ratih.
“Ratih, siapa yang memotong lidah mu?” tanya Fatir dengan perasaan syok.
“Apa?” Ratih pun memasukkan jarinya ke dalam tenggorokannya.
Seketika ia pun ingat kejadian naas yang menimpanya, ia juga sadar kalau selama di alam lain ia menggunakan bahasa batin untuk bicara dengan Rita.
Jadi ini arti kata-kata yang Rita sampaikan pada ku? batin Ratih.
__ADS_1
...Selesai....