Kualat Di Gunung Keramat

Kualat Di Gunung Keramat
Ingin Cepat Kaya (Berkhianat)


__ADS_3

Sarah yang ingin cepat pulang ke rumah membangunkan sahabatnya yang masih tertidur terlelap.


“Hei, Delima! Ayo cepat bangun! Sudah pagi!” Sarah mencubit wajah mulus Delima.


Perlahan-lahan Delima bangun dari tidurnya dan melihat Sarah yang berdiri tepat di hadapannya.


“Alhamdulillah, akhirnya kau pulang juga, aku khawatir banget pada mu.” Sarah bangkit dari tanah yang ia anggap ranjang.


“Benarkah?” Sarah menatap tak percaya.


“Iya, mana mungkin aku bohong.” Delima memeluk Sarah yang selamat dari hujan badai yang terjadi tadi malam.


“Kalau benar harusnya kau menyusul ku ke atas, Del!” pekik Sarah.


“Aku takut, hehehe...” Sarah tertawa cekikikan.


“Ya sudahlah, ayo kita pulang.” mereka pun turun dengan penuh canda tawa.


Saat keduanya dalam perjalanan pulang, Delima mengajukan banyak pertanyaan pada Sarah.


“Apa kau sudah bertemu dengan raja Garaga?” Delima penasaran penuh dengan apa yang telah di lalui Sarah tadi malam.


“Sudah, kau benar, orangnya tampan banget, aku sampai tak percaya diri bercinta dengannya,” ujar Sarah.


“Apa?!”


Cit!!!!


Delima melakukan rem mendadak karena ia syok mendengar pernyataan Sarah.


“Kau serius? Raja dan kau sudah bercinta?” Delima bertanya dengan tegas karena tak yakin.


“Sudah, memangnya kenapa?” ucap Sarah.


“Kalau pertama kali bertemu, raja hanya akan memberi mu satu keping emas sebagai tanda kau setuju mengabdi padanya, setelah itu kau harus menugggu selama 6 bulan untuk bercinta dengan raja, kau pasti bercanda kan?” Delima pikir Sarah mempermainkannya.


“Terserah kau mau percaya atau tidak, yang jelas itu sudah terjadi, entah itu dimana, yang jelas kamarnya sangat klasik.” Sarah pun menceritakan apa yang ia lalui pada Delima, namun ia menyembunyikan wujud Garaga yang berubah jadi ular hingga ia pulang.


Delima yang menyimak cerita sahabatnya tak hentinya berpikir kenapa hal itu bisa terjadi.


“Tapi anehnya, aku enggak di kasih emas seperti yang kau katakan,” ujar Sarah.


“Apa? Yang benar saja kau? Apa mungkin raja lupa?” Delima makin bingung mendengar cerita Sarah.


“Iya, aku serius loh, terus gimana dong? Apa aku bisa kaya atau tidak tanpa emas itu?” Sarah menjadi resah, ia takut jika dirinya di tipu.

__ADS_1


“Coba periksa tas ransel mu,” ujar Delima


“Baiklah.” Sarah pun membuka tasnya, ia pun mendapati telur emas ada gulungan bajunya.


“Wah! Gila!!” Delima berteriak histeris.


“Astaga! aku baru tahu kalau ada emas disini!” Sarah yang senang memeluk Delima.


“Syukurlah, ingat ya Sar! Kau harus tepat janji dalam menjalankan tugas mu.” Delima menasehati sahabatnya


“Iya, aku mengerti, nanti kita berhenti di toko emas, karena aku akan menjual emas ini, setelah itu aku akan traktir kau makan.” Sarah ingin membalas kenaikan Delima.


“Iya, bisa di atur tenang saja.” kemudian Delima kembali melajukan mobilnya menuju jalan pulang.


Sesampainya mereka di kota, Delima membawa Sarah ke mall besar untuk menjual telur emas Sarah.


Keduanya pun menuju toko emas paling besar dan berkelas langganan Delima.


Lalu Delima yang berwibawa di kata karyawan toko itu langsung di layani dengan baik.


Delima pun membantu menjual emas Sarah yang tak memiliki surat-surat.


Setelah di lakukan cek ke aslian barang, kualitas dan berat, akhirnya emas Sarah terjual dengan harga 100 juta rupiah.


Sarah yang melihat tumpukan uang dalam tas secara tunai membuat jantungnya berdetak dengan sangat kencang.


“Ya ampun Sar! Kalau kau begitu yang ada kita kena begal, sebaiknya masukkan uang mu ke atm, kirim sebagaian pada orang tua mu di kampung,” ujar Delima.


Sontak Sarah menoleh ke arah Delima, “Kau benar juga, ayo kita ke bank,” ucap Sarah.


“Ayo, bank Rakyat ada di lantai 2.” Delima pun membawa Sarah naik lift.


Sarah pun mengikuti kemana pun Delima pergi.


Sesampainya di bank Rakyat, Sarah nenyetor seluruh uangnya, lalu mengirim 30 juta pada orang tuanya.


Setelah selesai, mereka berdua menuju restoran paling mewah dan mahal di mall itu.


Hari itu keduanya bersenang-senang, Sarah dan Delima berpesta dengan menghamburkan uang pemberian raja ular yang kini dalam masalah.


🏵️


Di dalam singgah sana raja, Garaga memijat pelipisnya yang terasa sakit.


“Kenapa aku tidak bisa jadi ular kembali?” Garaga yang selalu mulus berubah jadi manusia dan ular kini tak bisa berbuat sesuka hatinya lagi.

__ADS_1


Ternyata perkataan asal Sarah merupakan suatu kutukan bagi Garaga.


Jika ia tak menjadi ular, maka kekuatannya akan berkurang, sebab ia yang kini jadi manusia yang tinggi badannya mencapai 180 senti meter tak mungkin bisa menelan ular atau musuh yang datang untuk menyerang kerajaannya.


Masalah yang ia hadapi sekarang tak boleh di ketahui oleh orang lain.


Karena Garaga tahu betul, kalau bawahannya banyak yang akan jadi pengkhianat jika tahu dirinya lemah.


Untuk itu Garaga tak tampil di hadapan siapapun, karena jika kemana-mana Garaga harus berwujud ular untuk menghindari musuh menyerang.


“Apa yang sebenarnya terjadi? Bagaimana bisa paduka tak dapat berubah jadi ular?” Dewi sang ratu di gunung keramat itu bertanya pada Garaga.


“Entahlah, aku tak mengerti, jaga rahasia ini Dewi! Jangan sampai ada yang tahu.” Garaga mengajak istrinya bekerja sama.


“Paduka tenang saja, aku juga akan memanggil paman Bima untuk mengobati sekaligus mencari tahu, apa penyebab paduka sampai seperti ini.” Dewi membantu suaminya untuk memecahkan permasalahan yang sedang mereka hadapi saat ini.


“Terimakasih Dewi, Ratu ku.” Garaga memeluk istrinya.


🏵️


Sarah dan Delima yang baru selesai berpesta memutuskan untuk pulang.


Keduanya mabuk berat sampai tak sanggup untuk pulang sendiri. Terlebih Delima, entah apa yang terjadi, ia yang mabuk parah harus pulang dengan naik taksi online.


Sarah pun menginap di rumah Delima malam itu, sebab ia tak mungkin kembali ke rumah orang tuanya, di tambah dirinya yang belum memiliki kontrakan.


Sesampainya di rumah mewah Delima, keduanya pun masuk dengan langkah terhuyung.


Sarah yang memapah Delima merebahkan tubuh sahabatnya di ruang tamu.


Lalu ia pun mendaratkan bokongnya di sofa yang ada tepat di hadapan Delima, ia yang kelelahan memejamkan matanya.


“Malam ini indah sekali, aku suka berpesta dengan mu.” Delima memuji sahabatnya yang selalu berhasil membuatnya bahagia.


“Aku juga.” jawab Sarah seraya membuka matanya yang terlihat cerah.


Setelah Delima terlelap, Sarah bangkit dari duduknya dan menuju dapur.


Ia pun membuka satu persatu lemari dapur yang terdapat di bawah wastafel.


“Dapat!” tawa Sarah kian melebar saat ia menemukan tali pandu berwarna putih di sudut lemari.


Sarah yang telah mendapat apa yang ia cari langsung menuju ruang tamu.


“Kau yang mengajari ku Del, Maafkan aku jika terlihat tak tahu diri, tapi jujur saja, aku ingin seluruh harta mu.” Sarah yang tamak menjadikan Delima tumbal pertamanya.

__ADS_1


Ia merasa Delima pantas untuk menerima itu semua, karena di matanya Delima adalah orang yang tak punya hati karena telah mengorbankan keluarganya sendiri.


...Bersambung......


__ADS_2