
Sarah yang ada di dalam brangkas tak habis akal, ia yang masih ingin hidup mengambil handphonenya dari sakunya.
“Alhamdulillah ada sinyal.” Sarah merasa beruntung karena Tuhan masih berpihak padanya.
Ia pun mendial nomor Delima yang ada di dapur.
Delima yang melihat panggilan masuk dari Sarah tersenyum getir.
Ia pun menggaruk kepalanya karena Sarah begitu berani di matanya.
“Kira-kira dia mau bicara apa pada ku?” Delima yang iseng sengaja mengangkat telepon dari Sarah.
Ada apa? 📲 Delima.
Keluarkan aku dari sini, aku belum mau mati! 📲 Sarah.
Enggak mau! Kau adalah tumbal ku, untuk apa aku mengeluarkan mu! Hahaha... 📲 Delima.
Kalau kau mau mengeluarkan ku, maka aku akan memberi nomor Angga pada mu, aku tahu dimana dia tinggal. 📲 Sarah.
Aku bisa mencarinya sendiri. 📲 Delima.
Delima! Ku mohon! Maafkan aku karena sudah lancang pada mu! 📲 Sarah.
Sudah ku maafkan, untuk itu kau harus mati, sebagai balasannya. 📲 Delima.
Delima yang tak butuh Sarah membiarkan sahabatnya mati di dalam brangkas-nya, ia pun mematikan sambungan telepon dari Sarah.
“Toh setelah kau mati, aku bisa mengambil handphone mu dan mencari nomor Angga disitu, kau pikir aku sebodoh dirimu?!” Delima tertawa seraya geleng-geleng kepala.
🏵️
Sarah yang ada dalam brangkas menjadi tak terkendali.
“Akhh!!! Sialan! Aku pasti membalas mu Delima!” Sarah menendang-nendang dinding brangkas yang akan menjadi kuburannya.
Ia yang dalam keputusasaan merasa mual, kepalanya kian pusing seperti ingin pecah.
“Astaga! Apakah ini maut ku?” Sarah memegang perutnya yang terasa sakit.
Hoek!
Ia pun muntah parah, seketika Sarah terjatuh di tumpukan emas yang tak dapat ia miliki.
“Tolong!! Siapapun tolong aku...” Sarah menitikkan air matanya.
Dirinya yang sekarat tak di temani oleh siapa pun.
Ia yang lemah tiba-tiba merasa perutnya bergejolak, seperti ada yang bergerak kesana dan kemari.
“Apa yang ada dalam perut ku?” hati Sarah bertanya-tanya, sebab dalam ruang gelap tanpa udara itu ia tak dapat berpikir dengan jernih lagi.
Baru saja ia merasa mual tiba-tiba perutnya membesar.
__ADS_1
“Kok bisa? Apa aku kena guna-guna?” Sarah tak tahu jika dirinya tengah mengandung benih raja Garaga.
Namanya hamil gaib memang sulit di tebak, Sarah yang baru mengandung tiba-tiba sudah ingin melahirkan.
Sarah merasakan mulas yang tak bisa di jelaskan.
“Apa aku mau datang bulan?” Sarah tak mengerti, jika dirinya akan melahirkan.
Namun Sarah merasa seperti ingin buang air besar.
”Mana mungkin aku buang air besar disini!” Sarah yang tak dapat menahan sesuatu yang ingin keluar dari perutnya pun terpaksa mengejan.
“Akkhh!!!” ia berteriak sekencang-kencangnya, sejurus dengan itu 10 bayi anaconda keluar dari peranakannya.
Ssssttt!!!
Mendengar suara desis ular Sarah menjerit, “Akkhh!!!” meski ia sadar itu adalah anak-anaknya, namun batinnya tetap tak menerima jika ia melahirkan anak ular.
Bayi-bayinya yang masih belia menjalar ke tubuh Sarah. Layaknya anak manusia yang memeluk ibunya.
Sarah yang syok dan merasa jijik serta takut langsung kejang-kejang, ia yang tak terima kenyataan malah mempertemukannya dengan malaikat maut.
kesepuluh anaknya yang memiliki mata malam melihat kematian ibu mereka.
Semua mendesis, seolah bersedih atas kematian Sarah ibunda yang melahirkan mereka.
Delima yang ada di depan pintu brangkas dapat merasakan jika Sarah telah mati, namun yang tak ia ketahui, Sarah adalah wanita terpilih yang berhasil memberi raja Garaga keturunan.
“Sudah beres.” Delima merasa senang karena tujuannya telah tercapai. Ia pun menuju kamarnya untuk istirahat.
“Angga!” Delima menyapa lelaki idaman yang jalan berdua dengan seorang wanita cantik.
“Siapa ya?” tanya Angga, karena ia tak mengenal Delima yang sudah lama tak bersua dengannya.
“Aku Delima, teman mu waktu SMA, kita akrab banget loh dulu.” Delima begitu semangat memperkenalkan dirinya.
Namun Angga tak dapat mengenali Delima yang telah banyak melakukan operasi plastik.
“Maaf, kalau aku lupa.” Angga tersenyum tipis.
“Hei, berikan nomor mu, aku ingin bernostalgia saat masa-masa kita SMA.” Delima tak hentinya memberi senyuman hangatnya pada Angga, tanpa perduli ada orang lain samping Angga.
Dia yang ada di sebelah Angga menatap sinis pada Delima yang dari tadi pendekatan pada kekasihnya.
Angga yang tak enak hati tak dapat menolak permintaan Delima.
Ia yang ingin memberikan nomornya pada teman SMA nya yang dulu malah di hentikan oleh Dia.
“Enggak boleh!” Dia mengambil handphone yang ada di tangan Angga.
Delima marah karena Dia menghalangi rencananya.
Perempuan sialan! Kau pasti akan jadi target ku selanjutnya, batin Delima.
__ADS_1
“Kok enggak boleh? Kami dulu pernah teman satu bangku, pokoknya best friend banget.” Delima menceritakan masa-masa yang pernah ia lalui bersama Angga.
Hingga Anga pun mengenali sosok Delima yang dulu tidak good looking.
“Oh, kau Delima?” wajah Angga berubah jadi sumringah.
“Iya!” keduanya tertawa bersamaan, hingga Dia merasa cemburu.
Dia yang takut jika calon suaminya kena tikung segera membawa Angga pergi.
“Ayo! Kita pulang! Aku tak mau kau lama-lama bicara dengan wanita jelek ini!” Dia langusung memberi sinyal perang pada Delima.
Delima yang mendapat perlakuan demikian tertawa getir.
Sialan! batinnya.
Ia merasa tersisih karena kehadiran Dia. Delima juga menganggap kalau Dia tak pantas ada di sebelah Angga.
Aku harus membunuhnya, batin Delima.
Angga yang merasa tak enak tersenyum canggung pada dua wanita yang ada di hadapannya.
“Del, sampai jumpa lagi, maaf kalau kami harus pergi.” Angga pamit pada Delima.
“Oke, hati-hati di jalan.” Delima melambaikan tangannya pada Angga
Kemudian Dia dan Angga pun beranjak meninggalkan Delima.
Delima yang tak mau kehilangan jejak Angga dengan sigap mengikuti cinta pertamanya itu.
“Aku enggak mau kalau kau beramah tamah pada wanita lain.” Dia yang cemburu melarang Angga dekat dengan wanita lain selain dirinya.
“Baiklah, yang tadi memang teman ku, tapi tak ku sangka wajah dan kulitnya berubah sampai 96%,” terang Angga.
“Operasi plastik, tapi lucunya masih tetap jelek.” Dia mengejek Delima yang jauh lebih cantik darinya.
“Tentu saja, kau yang terbaik, Dia!” Angga merangkul Dia yang begitu menggemaskan di matanya.
“Dasar cewek rese! Bilang saja kalau iri, seandainya kau punya uang, pasti kau mau juga di permak!” Delima tambah kesal pada Dia yang bicara terang-terangan mengenai dirinya.
Namun ia harus bersabar, karena jika ia menjambak Dia saat itu juga, maka citranya akan buruk di mata Angga.
Delima yang bersemangat pun terus mengikuti kedua pasangan itu hingga Angga pulang ke rumahnya.
“Ya Tuhan, ternyata dekat dari rumah ku? Hehehe...” kebahagiaan Delima bertambah, selain capai target, dirinya juga mendapatkan tempat tinggal kekasih dalam khayalannya itu.
“Aku pasti mendapatkan mu.” Delima yang punya segalanya menyusun strategi agar bisa dekat dengan Angga.
“Ya! Aku harus mendekati kedua orang tuanya.” Delima memilih jalur pintas, ia pun berencana memberi barang-barang mewah pada kedua orang tua Angga.
Setelah mendapatkan ide bagus itu, Delima memutuskan untuk pulang ke rumahnya.
“17 tahun bukan waktu yang singkat, tapi tidak masalah, asal aku mendapatkan mu, 40 tahun pun aku bersedia, Angga! I love you so much! Tidak ada yang bisa menjadi istri mu selain diriku.” Delima yang percaya diri merasa yakin kalau dirinya bisa mendapatkan Angga.
__ADS_1
...Bersambung......