
“Ayah!!!” Fatir menangis pilu melihat penderitaan Suryo.
Lalu pocong-pocong yang berdiri tak jauh di depan rumah ayahnya melompat-lompat menuju Fatir.
Zarr!!!
Seiring dengan itu, suara petir sahut menyahut di langit hitam malam itu.
Perlahan-lahan rintik hujan turun membasahi lahan perkebunan milik keluarga Fatir.
Fatir yang ketakutan terpaksa masuk ke dalam rumah.
Ia yang ingin bersembunyi ke kamarnya melihat jasad Suryo yang di tutupi kain hijau berdiri tegap dengan mata tertutup.
Fatir yang kembali di buat jantungan saat jasad ayahnya terlempar ke dinding yang ada di dekat tangga.
Bam!
Tubuh Suryo terbanting dengan sangat keras, kemudian badan Suryo perlahan-lahan masuk ke dalam dinding.
Fatir yang tak ingin ayahnya tertelan dinding langsung berlari menuju ayahnya.
Kemudian Fatir menarik tangan ayahnya dengan tenaga penuh.
Namun sayang, daya hisap dinding itu lebih besar.
Fatir hanya bisa menangis menyaksikan keluarganya terbantai hanya dalam satu malam.
Fatir yang telah pasrah dengan keadaan memeluk dinding yang telah menelan ayahnya.
“Kembalikan ayah ku,” pinta Fatir.
Di tengah-tengah dukanya, Fatir pun ingat kalau di rumah itu ada kampak.
Dengan cepat Fatir menuju dapur untuk mengambilnya
Setelah dapat, Fatir pun menuju dinding itu kembali.
Hatinya yang penuh emosi menghantam kampaknya yang tajam berulang kali ke dinding.
“Keluarkan ayah ku! Jangan ambil ayah ku!!” teriak Fatir dengan terus merusak dinding.
Brak!!
Dinding itu pun runtuh, lalu Fatir melihat ada sebuah ruangan yang tak dapat di masuki cahaya matahari.
Perlahan kaki Fatir masuk ke dalam ruangan itu, lalu ia pun melihat jasad bibi Ratna dan ayahnya tergelatak begitu saja di atas tanah.
Fatir yang tak bisa melihat dengan jelas menyalakan senter handphonenya.
Kemudian Fatir pun melihat tak jauh dari jasad ayahnya, ada sebuah tengkorak dengan baju berwarna putih.
Fatir dapat menebak siapa pemilik dari tengkorak itu.
“Ibu...” Fatir yang malang kembali sesungukan.
__ADS_1
Ia yang ingin berbakti pada orang tuanya memutuskan untuk memberikan peristirahatan yang layak pada ayah dan ibunya.
Fatir pun keluar menuju ke belakang rumah untuk menggali 2 makam.
Saat Fatir akan mengayun cangkulnya, ia pun melihat banyak tengkorak di sekitarnya.
Ternyata hujan yang turun malam itu sangat lebat, hingga tulang belulang dari orang yang di kubur Suryo dan Melisa muncul kepermukaan.
“Tolong maafkan ayah dan ibu ku.” ucap Fatir, ia pun tak lupa mengirimkan surat-surat pendek pada para tumbal ayah dan ibunya. Setelah itu Fatir pun mulai menggali tanah di pukul 04:00 pagi.
Pukul 17:00, Fatir baru selesai menggali tanah.
Ia pun memandikan jasad ibunya dan bi Ratna. Selanjutnya Fatir memakamkan ketiga orang penting dalam hidupnya itu.
“Ibu, ayah... aku pergi dulu, maaf hanya ini yang bisa ku lakukan untuk kalian.” Fatir yang trauma bertemu pocong lagi dengan segera naik ke motornya, lalu meluncur mulus menuju kota.
Keesokan harinya, Fatir yang masuk kampus mencari kekasihnya di jurusan Bahasa.
“Dia ada enggak?” tanya Fatir pada salah satu teman jurusan kekasihnya.
“Enggak, dia kan sudah enggak masuk selama 4 bulan.” ucap teman lelaki Dia.
“Oh ya?” Fatir bingung dengan informasi yang lelaki itu berikan.
Mungkin ada dua Dia di jurusan mereka, batin Fatir.
“Dia kemana ya? Enggak biasanya nomornya tak aktif.” Fatir yang baru menjalin hubungan dengan Dia selalu merasa rindu pada kekasih baik hatinya itu.
“Coba nanti aku ke rumahnya.” Fatir pun memutuskan untuk mengunjungi rumah Dia setelah pulang kuliah.
Saat Fatir sedang fokus mencatat, ia pun melihat sosok kuntilanak berdiri di sebelah dosennya yang sedang memberikan materi kuliah.
Sontak Fatir menundukkan kepalanya. Ia pun pura-pura tak melihat hantu menyeramkan itu.
Kenapa aku jadi sering dapat gangguan? batin Fatir.
Ia yang cape menunduk pun mencoba melirik ke arah depan.
“Hufftt!” Fatir menghela napas panjang, karena kuntilanak itu telah pergi.
Setelah mata kuliah selesai, Fatir keluar dari dalam kelas menuju parkiran.
Ia yang sudah rindu serta mau curhat perihal masalah yang ia alami ingin segera bertemu Dia.
Bremmm!!
Fatir melaju bersama motornya menuju rumah sang pujaan hati.
30 menit kemudian, Fatir sampai di rumah kekasihnya.
Ia pun melihat Marhan ayah Dia sibuk menggotong Martini ke dalam mobil.
Fatir yang penasaran langsung turun dari atas motornya.
“Ada apa om?” tanya Fatir pada Marhan yang belum kenal dengannya.
__ADS_1
“Istri om sakit nak, ini mau ke rumah sakit,” ucap Marhan.
“Benarkah?” Fatir yang melihat Marhan gemetaran langusung menawarkan bantuan
“Aku saja om yang menyetir ke rumah sakit,” ucap Fatir.
Marhan yang tak kenal Fatir tentu saja menolak. “Terimaksih nak, saya saja.”
“Saya Fatir om, pacarnya Dia, jangan takut om saya orang baik ” Fatir memperkenalkan dirinya.
“Apa?” Marhan mengernyitkan dahinya.
“Sudahlah om, ayo kita ke rumah sakit dulu, tante pasti butuh penanganan.” Fatir pun mengambil kunci mobil yang ada di tangan Marhan lalu masuk ke dalam mobil.
Meski bingung namun Marhan tak sempat memikirkan apapun, ia pun langsung naik ke dalam mobil tepatnya di bangku yang ada di belakang kemudi.
Selanjutnya Fatir melajukan mobil ayah Dia menuju rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit, Martini langsung di tangani oleh dokter.
“Keluarga pasien mohon tunggu di luar, nanti akan di beritahu kalau sudah bisa masuk,” ujar sang dokter.
Marhan dan Fatir pun menunggu di depan ruangan.
Marhan yang khawatir nampak jelas dari wajahnya.
“Duduk dulu om,” ajak Fatir. Marhan pun mengikuti perkataan Fatir.
“Tenang om, jangan terlalu khawatir, nanti om malah sakit lagi,” ujar Fatir.
“Iya, terimakasih nak.” Marhan merasa senang karena ada orang yang menemaninya.
“Oh ya, Dia mana om?” tanya Fatir.
“Apa kau belum tahu?” Marhan berat untuk mengatakannya.
“Soal apa om?” ucap Fatir.
“Dia menghilang sejak 5 bulan yang lalu, om dan tante sudah mencari kemana-mana tapi tak kunjung ketemu.” Marhan memberitahu Fatir situasi yang sebenarnya.
“A-apa om?!” wajah syok Fatir begitu ketara.
“Memangnya kau pacarnya dari kapan? Kenapa malah tidak tahu kabar ini?” tanya Marhan.
“Satu bulan yang lalu.” jawab Fatir dengan suara yang redup.
“Apa? Jadi kau tahu Dia ada dimana?” Marhan merasa senang, karena setidaknya ia menemukan titik terang.
“Dia selalu minta untuk di antar ke rumah om,” ucap Fatir.
“Maksud mu ke rumah ku?” Marhan menunjuk dirinya sendiri.
“Iya om, apa om yakin kalau Dia tidak di rumah om?” Fatir tetap tak percaya dengan yang di katakan Marhan.
“Iya, jadi yang bersama dengan mu siapa, Fatir?” pertanyaan Marhan membuat bulu kuduk Fatir merinding.
__ADS_1
...Bersambung... ...