Kualat Di Gunung Keramat

Kualat Di Gunung Keramat
Jadi Pocong (Menjaga Kakek)


__ADS_3

Fatir mengelus dadanya, ia pun memberanikan diri untuk kembali ke kamar kakeknya.


Sesampainya di pintu kamar Suryo, Fatir melihat kakeknya yang malang.


“Dulu kakek orang yang kuat dan juga berwibawa, sekarang terbaring lemah tak bernyawa.” Fatir mengingat masa-masa kejayaan kakeknya.


Kemudian ia masuk ke dalam kamar kakeknya dan duduk di atas kursi yang ada di sebelah ranjang kakeknya.


Fatir yang menoleh ke wajah kakeknya di buat terkejut, sebab mata Suryo telah tertutup rapat.


“Allahu Akbar!” jantung Fatir menjadi ketar ketir.


“Aku salah lihat atau gimana sih tadi? Masa iya bisa terbuka dan tertutup begitu saja? Siapa yang melakukannya?” Fatir terus bertanya-tanya pada dirinya.


“Apa mungkin kakek masih hidup, tapi tak bisa bergerak dan bicara?” Fatir berpendapat demikian meski dalam hatinya mengatakan kalau kakeknya jadi hantu.


Untuk memastikan kakeknya masih bernapas atau tidak, Fatir pun bangkit dari duduknya. Lalu ia mendekatkan telinganya ke mulut si kakek.


Saat telinganya hampir menempel di mulut kakek Suryo, ia pun tak merasakan apapun.


“Ternyata hanya perasaan ku saja.” Fatir yang ingin bangkit samar-samar mendengar kakeknya bergumam.


“Pulanglah...” suara yang begitu lirih membuat Fatir merinding.


Saat ia melihat mulut si kakek, ia tak menemukan jika bibir kakeknya bergerak.


“Apa aku salah dengar lagi?” Fatir pun duduk kembali ke atas kursi.


Ia pun menyandarkan kepalanya yang terasa berat ke punggung kursi seraya menutup mata.


Ketika ia membuka matanya, ia kaget bukan main, karena ia melihat sosok pocong berdiri di sebelah jasad kakeknya.


Fatir yang ingin pergi tak bisa bergerak dari duduknya.


“To-to-tolong...” Fatir berpikir ia telah berteriak kencang, meski kenyataannya suaranya yang redup tak bisa di dengar oleh semut sekali pun.


Pocong yang ada di hadapannya hanya berdiri mematung tanpa mengganggunya.


Aku harus bagaimana? batin Fatir.


Ia yang di selimuti rasa tegang dan takut harus kembali jantungan, ketika ia mendengar seorang gadis bernyanyi di luar kamar kakeknya.


Suaranya begitu lirih dan menyayat hati, ia yang ingin melarikan diri, tapi malangnya ia tak bisa kemana pun, tubuhnya kaku dan sulit untuk di gerakkan.


Pocong tinggi besar di hadapannya itu pun tiba-tiba menoleh padanya.


Wajah gosong penuh belatung perlahan-lahan berubah menjadi sosok yang ia kenali.


“Kakek?” gumamnya.


Suryo menatap nanar ke arah cucunya, buliran air mata pun mengalir di pipinya.


Fatir tak mengerti akan maksud kakeknya, sebab sang kakek tak mengatakan apapun.

__ADS_1


Kriettt!!!


Mata Fatir menuju ke arah jendela yang terbuka lebar.


Wusss!! Seketika angin malam masuk dengan bebas.


Fatir yang kedinginan ingin menutup jendela itu, namun ia ragu untuk melangkah, karena pocong kakeknya masih berdiri menatap ke arahnya.


Mimik wajah pocong kakeknya seperti ingin menyampaikan sesuatu, namun Fatir tak mengerti jika kakeknya terus membuat bahasa isyarat.


“Kek, kalau aku punya salah, tolong di maafkan, tolong jangan ganggu aku kek.” Fatir berharap pocong kakeknya menghilang.


“Kek, aku takut kalau kakek berdiri disitu, tolong kek...” atas permintaan Fatir, akhirnya pocong Suryo lenyap entah kemana.


“Hufff!!!” Fatir pun menghela napas panjang. Ia pun melihat ke arah jendela yang masih terbuka lebar.


Dengan kaki gemetaran, Fatir berjalan menuju jendela.


Saat kedua tangannya memegang gagang jendela.


Matanya yang indah pun melihat telah banyak pocong berdiri di antara jalan setapak perkebunan teh.


Deg deg deg!!!


Jantungnya hampir meledak karena syok. Tangannya pun menutup jendela dengan sangat pelan, sebab aura dari para pocong itu sangat mencekam.


Fatir yang tertekan benar-benar tak sanggup untuk tetap sadar.


“Cepat tutup jendela itu!!!” titah Suryo dengan suara yang melengking.


Jendela kaca itu tertutup dengan sendirinya. Angga yang mendapat tekanan begitu besar langsung pingsan.


Bruk!!


Tubuhnya yang besar jatuh ke lantai. Bangun-bangun ia telah berada di antara perkebunan teh.


Netranya menatap ke segala arah, “Aku dimana?” ia bingung, karena seingatnya ia ada di kamar kakeknya.


Fatir yang melihat seorang wanita paruh baya sedang memetik teh, langusung datang menghampirinya.


“Permisi bu, maaf kalau saya menggangu, ini dimana ya, bu?” tanya Fatir yang berdiri di belakang wanita tersebut.


Lalu wanita yang memakai tudung bambu itu pun menoleh pada Fatir.


“Akh!!” Fatir berteriak seraya mundur teratur.


Sebab wanita yang ia ajak bicara wajahnya rata. Fatir yang ketakutan sontak melarikan diri.


“Tolong!!!” teriak Fatir.


Di tengah-tengah pelariannya yang tak tentu arah, ia kembali bertemu dengan seorang wanita, kini perawakannya lebih muda.


“Kak, tolong aku...” Fatir yang ingin menanyakan jalan keluar gagal total.

__ADS_1


Sebab wanita yang ada di hadapannya juga berwajah rata, tapi yang ini lehernya berdarah seperti baru di sayat.


“To-tolong!!” Fatir yang ketakutan berlari menjauh, hingga kakinya yang jenjang tersandung.


Bruk!!


“Ukuk uhuk uhuk! Akh!!” Fatir bangkit dari tanah. Dadanya begitu sesak dan nyeri saat terbentur ke batu yang tertanam di tanah.


Ia yang ingin berdiri tanpa sengaja melihat sebuah kaki ada di depan matanya tanpa memakai sendal.


“Astaga...” Fatir trauma jika harus melihat hantu bermuka rata lagi.


Ia pun duduk seraya menutup matanya, jantungnya pun kian bergetar semakin kencang.


“Apa tuan baik-baik saja?” suara lembut menenangkan hati terdengar di telinga Fatir.


Seketika ia membuka mata. Lalu ia mendongak, Fatir pun melihat seorang gadis cantik tersenyum lembut padanya.


Saat Fatir akan menjawab pertanyaan gadis itu, tiba-tiba ada yang menyahut dari belakangnya.


“Aku baik-baik saja.” suara itu tak asing di telinga Fatir.


Ia langsung menoleh ke arah belakangnya, dan ia pun melihat kakeknya dengan wajah yang tampak lebih muda.


“Kakek?” gumamnya.


Namun sang kakek tak mendengar suara cucunya.


“Apa tuan sudah makan?” gadis cantik itu tersenyum malu pada majikannya.


“Belum, apa kau bawa sesuatu untuk ku, Ani?” tanya Suryo.


“Iya tuan,” jawab Ani.


Kemesraan keduanya di lihat jelas oleh Fatir. Tentu Fatir dapat menebak jika Ani adalah simpanan kakeknya.


“Apa ini masa lalu kakek?” Fatir bangkit dari tanah, lalu mengikuti kakeknya dan Ani yang berjalan menuju saung yang letaknya lumayan jauh dari rumah kakeknya tinggal.


Keduanya pun bercanda tawa bagai anak muda yang baru kenal cinta.


Fatir yang menyaksikannya merasa jijik, namun apa boleh buat, hati kecilnya memintanya untuk tetap mengikuti keduanya.


Ia yang fokus memperhatikan pasangan beda generasi tiba-tiba berpindah tempat dan waktu.


Kini Fatir ada di dalam ruangan yang hanya di terangi lampu pijar 5 Watt.


Di tempat sempit itu ia melihat Ani dan kakek Suryo bertengkar.


“Aku tidak mau menggugurkan anak ini! Bukankah tuan sudah berjanji akan menikahi ku?!” Ani berteriak histeris pada kakek Suryo.


“Jangan gila, Ani! Aku sudah memiliki keluarga, tidak mungkin aku mengorbankan rumah tangga yang telah ku bina hanya karena dirimu yang bukan siapa-siapa!” Suryo menolak untuk menikahi Ani.


“Jahanam! Kau yang menggoda ku, kau yang merenggut kehormatan ku, tapi kenapa?! Kau seolah tak merasa bersalah sama sekali, dimana nurani mu tuan!!” Ani memukul dada bidang Suryo.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2