
“Rambut?” Suci yang suka kebersihan geleng-geleng kepala.
“Jorok banget sih orang yang sebelumnya tinggal disini.” Suci pun membersihkan gulungan rambut itu.
Setelah itu menyambung kran air dan pipa kembali.
Suci yang takut habis waktu subuh segera melanjutkan wudhu nya yang sempat tersumbat.
Pukul 06:00 pagi, Suci yang ingin mencuci beras memutar kran wastafelnya.
Zarrr!!
Kemudian Suci menampung air ke dalam panci cooker listriknya.
“Apa ini?” Suci terkejut, sebab ia menemukan banyak sampah berukuran kecil di panci pemasak nasinya.
Suci pun mengambil salah satu sampah itu dan mempertegasnya ke bola lampu berdaya 45 Watt nya
“Kulit?” Suci yakin itu adalah kulit, namun ia tak tahu itu kulit apa.
“Astaga! Aku harus protes pada pemilik kontrakan, kok bisa enggak becus gini sih! Katanya aku tinggal terima beres! Tapi kenyataannya, toren saja tidak di bersihkan!” suci yang higienis mencuci berasnya dengan air aqua.
Setelah itu ia meletakkan panci pemasak nasinya ke dalam rice cookernya.
Selanjutnya ia pun memasak Indomie goreng sebagai lauknya.
Pagi itu ia memasak dengan penuh semangat.
Setelah selesai, Suci menuju kamar untuk mengambil handuk.
“Baru saja ia tiba di kamar, ia pun melihat kursi goyang yang ia buat di balik pintu malah berpindah ke depan jendela kamarnya yang telah terbuka.
Tak cukup sampai disitu, kursi itu pun bergerak dengan sendirinya.
Rek.. rek...
Bunyi rotan itu menandakan seperti ada seseorang yang mendudukinya.
Suci yang merinding dengan cepat mengangkat bangku itu ke teras.
Ia yang berniat sekedar meletakkannya berubah menjadi ingin membuangnya, karena ia melihat ada ada truk sampah yang lewat.
“Pak! Tolong bawa bangku ini!” pinta Suci.
Sebagai tanda terimakasih Ia pun memberi uang rokok pada pekerja kebersihan tersebut.
Setelah kursi goyang itu hilang dari pandangannya, Suci merasa lega. Ia pun kembali ke dalam rumah untuk mandi.
Setelah selesai membersihkan diri, Suci keluar dari kamar mandi, baru saja ia ingin mengoles hand and body, tiba-tiba ia merasa gatal di seluruh tubuhnya.
“Astaga, pada hal baru habis mandi, kok bisa segatal ini ya?” Suci pun terus menggaruk bagian tubuhnya yang terasa gatal, hingga tubuhnya meninggalkan bekas merah.
Suci yang tak tahan pun memakai baju dan menuju klinik terdekat untuk berobat.
__ADS_1
Ia pun berangkat dengan berjalan kaki, karena jarak klinik tak begitu jauh dari kontraknya.
Selama perjalanan Suci terus menggaruk wajah dan juga tangannya.
Sesampainya ia di klinik, Suci yang datang pagi-pagi langsung menemui dokter yang sedang bertugas tanpa menunggu antrian.
“Ada keluhan apa bu?” tanya sang dokter wanita paruh baya.
“Seluruh tubuh saya gatal dok, entah apa yang terjadi, intinya semua gatal dan terasa panas dok.” Suci menceritakan keluhannya.
“Baik, saya periksa dulu ya.” sang dokter yang menggunakan sarung tangan karet memegang tangan Suci dan memperhatikan kulit gadis itu.
Kemudian sang dokter meletakkan tangannya ke kening Suci.
“Agak hangat ya bu.” ucap sang dokter seraya menulis resep obat yang harus di tebus.
“Iya dok, rasanya saya mau demam, badan ku juga pegal-pegal.” Suci memijat tengkuknya yang terasa berat.
“Iya bu, karena itu saya kasih obat demam, krim gatal dan juga obat minumnya ya bu, biar lebih cepat sembuh, oh ya... ibu merasakan gatal setelah makan sesuatu atau apa?” tanya sang dokter untuk memastikan.
“Saya belum makan dok, saya rasa sih karena air di kontrakan saya yang kurang bersih,” terang suci.
“Berarti ada alerginya juga, solusinya ibu harus membersihkan toren atau pipa kran air yang ibu pakai, karena pastinya obat kurang efektif kalau penyebab ibu alergi masih belum di atasi,” ucap sang dokter.
“Iya, dokter benar juga.” Suci menganggukkan kepalanya.
“Memangnya ibu ngontrak dimana?” sang dokter penasaran dengan tempat tinggal Suci.
“Apa?” wajah sang dokter nampak aneh saat Suci mengatakannya.
“Ada apa dok?” Suci menjadi penasaran setelah melihat ekspresi si dokter.
“Rumah bu Mirna kan?” ucap sang dokter memastikan.
“Iya, benar dok.” Suci menganggukkan kepalanya.
“Dapat rekomendasi dari siapa? Kok berani banget tinggal di kontrakan dukun itu?” si dokter seperti mengetahui sesuatu.
Rumah dukun? batin Suci.
“Nyari sendiri dok, waktu itu saya nanya-nanya setiap gang,” ucap Suci.
“Oh, hati-hati ya bu, jangan lupa sholat 5 waktu, mengaji dan baca-baca ayat kursi.” perkataan sang dokter membuat hati Suci tak tenang.
“Memangnya ada apa dok di kontrakan saya?” Suci ingin tahu kebenaran mengenai kontrakan yang baru semalam ia tempati.
“Bukan apa-apa, ini resepnya.” sang dokter enggak untuk mengatakan kenyataan yang sebenarnya pada Suci.
“Ya sudah dok, kalau begitu saya pergi dulu terimakasih banyak.” Suci menerima resep obatnya.
Setelah itu ia keluar dari ruangan sang dokter dan menembus obat yang di tulis dokter tersebut.
Setelah itu Suci keluar dari klinik yang membuat hatinya bertanya-tanya.
__ADS_1
“Ada apa sebenarnya di rumah itu?” saat Suci memikirkan jawabannya, tiba-tiba handphonenya berdering.
Suci pun mengambil handphonenya yang berada dalam saku depan bajunya.
Ketika ia membuka kunci layar handphonenya , ia pun melihat Heri mengirim potongan video padanya.
Suci pun menonton seraya berjalan ke kontrakannya.
Deg!
Saat Suci menonton rekaman cctv Heri di menit 00:17 jantungnya berdetak dengan kencang, karena ia ingat betul, itu adalah waktu dimana Heri datang ke kontrakannya.
“Jadi yang tadi malam ke kontrakan siapa?” Suci kian tak tenang, sebab itu pertama kali ia di ganggu oleh makhluk halus.
Suci pun mendial nomor kekasihnya karena takut di dalam kontrakannya sendirian.
Halo sayang. 📲 Suci.
Iya sayang? 📲 Heri.
Kau ada dimana? Cepat datang ke kontrakan, aku takut. 📲 Suci.
Baiklah, ini aku mau on the way ke kampus, aku akan ke kontrakan mu terlebih dahulu. 📲 Heri.
Ya sudah, jangan lama-lama ya. 📲 Suci.
“Apa aku lagi apes saja ya tadi malam?” Suci mengelus perutnya yang terasa lapar.
Ia yang telah sampai di depan kontrakan memutuskan untuk menunggu kekasihnya di teras.
“Pada hal aku lapar dan harus minum obat.” karena belum bisa meminum obat ia pun mengoles krim dokter yang ia beli.
Setelah menunggu selama 30 menit, Heri pun dagang.
Brem.. brem...
Sontak Suci menoleh pada kekasihnya dengan tubuh yang tak berdaya.
“Kenapa enggak masuk?” tanya Heri.
“Enggak apa-apa, aku hanya ingin menunggu mu,” ujar Suci.
Setelah itu Suci bangkit dari lantai, iya yang tadinya takut, kini jadi lebih berani.
“Kau kenapa? Kok badan mu merah semua?” tanya Heri dengan penasaran penuh.
“Alergi, ayo! Bantu aku bersihkan toren,” ucap Suci.
”Apa? Jadi kau suruh aku kesini untuk bersih-bersih?” Heri mengernyitkan dahinya.
“Diamlah.” Suci pun membuka pintu dan masuk ke dalam rumah yang di susul oleh Heri.
...Bersambung......
__ADS_1