
Kring kring kring!!!
Bunyi telepon memenuhi rumah sederhana Fatir.
Fatir yang belum berangkat kuliah pun bangkit dari ranjang menuju ruang tamu.
Halo, ini siapa? 📲 Fatir.
Halo tuan, ini bi Ratna, bibi mau memberitahu, kalau tuan besar telah meninggal dunia. 📞 Ratna.
Innalillahai wainnailaihi rojiun, baik bi, saya akan beritahu pada ibu dan ayah. 📞 Fatir.
Terimakasih tuan, bibi tutup dulu, karena bibi harus menjaga jasad tuan besar. 📞 Ratna.
Setelah sambungan telepon terputus, Fatir mendial nomor ibunya yang sedang berada di pulau Bali.
Halo ibu, tadi bi Ratna menelepon, katanya kakek meninggal dunia. 📲 Fatir.
Ya Allah, oke! Ibu dan ayah akan segera pulang, tolong kau berangkat duluan, ibu akan segera pesan tiket, kasihan bi Ratna, kalau menjaga kakek sendirian. 📲 Melisa.
Iya bu, aku akan berangkat sekarang.📱Fatir.
Atas permintaan sang ibu, Fatir tak jadi masuk kampus, ia pun segera menuju rumah kakeknya yang terdapat di perbatasan kota.
Butuh waktu 6 jam untuk mencapai rumah sang kakek yang ada di tengah-tengah kebun teh keluarga besar Fatir sendiri.
Fatir yang telah rapi menyandang tasnya, lalu menaiki motor Ninja kesayangannya.
Bremm!!!
Fatir melajukan motornya dengan mulus membelah jalan raya yang padat akan kendaraan.
🏵️
Ratna yang haus beranjak ke dapur untuk mengambil minum.
Ia pun meninggalkan jasad majikannya yang terbaring di atas kasur.
“Harusnya tuan di letakkan di ruang tamu.” Ratna yang bertubuh mungil tak dapat menggendong Suryo yang memiliki badan tinggi besar, ia juga tak bisa meminta bantuan orang lain.
Itu semua di sebabkan letak kediaman Suryo yang jauh dari pemukiman warga, hal itu membuat orang-orang sulit datang untuk melayat.
Belum lagi orang-orang enggan berurusan dengan tuan besar Suryo di karenakan desas desus yang beredar di kalangan pekerja.
Mereka pun mendapat cerita, jika kematian para pekerja yang terjadi beberapa kali dengan jarak waktu yang sangat dekat di akibatkan oleh pak Suryo sendiri.
Dia menumbalkan karyawannya untuk menyelamatkan bisnisnya dari ambang ke hancuran.
Sejak kematian pekerja yang ke 10, para karyawan pak Suryo yang berjumlah 200 orang langsung mengundurkan diri.
Mereka takut jika menjadi sasaran selanjutnya.
Hanya Ratna yang bersedia menemani pak Suryo sampai menutup mata. Sedang kedua putri pak Suryo tinggal di kota mengikuti suami mereka.
__ADS_1
Ratna yang telah sampai ke dapur meneguk air mineral yang ada di gelasnya.
Gluk gluk gluk!
“Tidak ku sangka tuan akan pergi secepat ini, sialnya hanya aku yang menemaninya disini.”
Meski setia pada tuannya selama hidup, tapi Ratna merasa merinding duduk di sebelah majikannya yang sudah tak bernyawa.
Ratna yang ingin kembali ke kamar memandang ke arah perkebunan teh yang hijau.
“Sayang sekali, pada hal perkebunan ini masih bagus, kalau di olah lagi, pasti masih menghasilkan banyak uang.” Ratna geleng-geleng kepala.
Ia yang ingin pergi ke kamar lagi-lagi terhalang, karena ia melihat sebuah pohon dengan warna putih dari atas sampai bawah yang letaknya 200 meter dari jendela dapur.
Ratna yang sering lalu lalang disana tentu tahu kalau pohon itu tidak pernah ada sebelumnya.
“Pohon apa itu?” Ratna pun mempertegas dengan membuka jendela kaca yang ada di hadapannya.
Krieeett!!
Seketika angin kencang menabrak wajah keriput Ratna. Anehnya angin itu hanya sekali lewat.
Ratna pun merapikan rambutnya yang berantakan, lalu ia melihat ke arah pohon putih itu kembali.
“Ha?! Bukannya tadi pohon itu ada disana?” Ratna menggaruk kepalanya.
“Mungkin perasaan ku saja.” Ratna yang ingin menutup jendela tiba-tiba merinding.
Glek...
Ratna yang ketakutan bingung harus berbuat apa, kalau maju ia harus melompat ke sumur dengan kedalaman 15 meter, kalau mundur harus bertatap muka dengan majikannya yang telah mati 3 ham yang lalu.
“Ratna, buatkan saya kopi.” setelah meminta apa yang ia mau, Suryo meninggalkan dapur.
“Huffftt!!!” Ratna menghela napas panjang, ia yang ketakutan memutuskan untuk keluar dari rumah itu.
“Masa iya, orang yang sudah mati bisa hidup lagi??” Ratna tak bisa mempercayai apa yang ia lihat.
“Entah tuan besar mati suri atau tidak, yang jelas aku tidak mau ada di sini lagi.” Ratna berniat keluar dari pintu belakang.
Saat ia akan memegang handle pintu, tiba-tiba engsel pintu dapur yang ada di hadapannya tertutup sendiri.
Retek!!
“Akh!!!” Ratna berteriak histeris.
Ia yang ketakutan langsung berlari ke arah pintu depan dengan jantung berdebar-debar.
“Tolong!!!” Ratna yang melintasi ruang tamu tanpa sengaja melihat sosok pocong duduk di kursi goyang yang biasa majikannya pakai saat bersantai.
“Jangan kemana-mana, Ratna!!” teriak pocong berwajah gosong tersebut.
“Haah!! Haah!! Haah!!” Ratna terbangun dengan napas ngos-ngosan.
__ADS_1
Ia yang tidur di atas kursi melihat ke arah ranjang tuannya.
“Ternyata cuma mimpi.” Ratna menyeka keringatnya yang bercucuran deras.
Ia pun melihat majikannya masih terbujur kaku di atas ranjang, namun Ratna merasa janggal, saat ia melihat posisi kepala Suryo yang miring ke kiri.
“Loh, bukannya tadi menghadap atas?” Ratna yakin jika posisi kepala majikannya tidak seperti itu sebelumnya.
Ratna pun bangkit dari kursinya, lalu membenarkan kepala Suryo.
Namun kepala Suryo yang telah keras dan kaku sulit untuk di luruskan.
“Astaga, aku harus bagaimana? Bisa-bisa keluarga tuan besar marah pada ku.” Ratna takut jika dirinya di salahkan.
“Aduh, gimana ya?” Ratna bingung harus berbuat apa.
“Baiklah, mohon maafkan aku tuan.” Ratna yang tak ingin di salahkan meluruskan kepala tuannya secara paksa.
Krek!
Bunyi tulang Suryo yang retak terdengar dengan sangat jelas.
“Beres.” di rasa semua telah aman, Ratna memutuskan pergi ke dapur untuk makan malam.
Ratna yang keluar dari kamar melihat jendela rumah belum di kunci.
“Astaga, karena ketiduran aku jadi lupa tugas, pada hal sudah masuk Magrib.” Ratna yang merasa lalai langsung menutup jendela rumah besar itu satu persatu.
Setelah jendela lantai satu telah selesai di tutup, Ratna pun menuju lantai dua.
Ratna yang menaiki anak tangga dengan santai samar-samar mendengar seorang wanita bernyanyi dengan begitu merdu.
“Memangnya ada orang selain aku disini?” Ratna yang takut itu pencuri segera mengecek untuk memastikan rumah majikannya aman dari perampokan.
Malam ini begitu sunyi
Tiada yang menemani
Aku telah lama menunggu mu,
Hingga akhirnya kau datang kepada ku
Cinta yang telah lama terpisah
Kini menyatu kembali
Hiduplah bersama ku
Jangan kau pergi lagi
Setibanya Ratna di depan pintu kamar yang berada di dekat tangga.
Ratna pun melihat seorang gadis, bergaun indah dengan warna putih berdiri menghadap perkebunan teh.
__ADS_1
Rambutnya hitam panjang sampai ke pinggang, tubuhnya semampai. Meski Ratna belum melihat wajah gadis itu, tapi Ratna yakin, jika gadis itu memilik paras yang cantik.
...Bersambung......