Kualat Di Gunung Keramat

Kualat Di Gunung Keramat
Jadi Pocong (Melahirkan)


__ADS_3

Suryo yang kewalahan menghadapi sikap Ani langsung memberi satu tamparan di wajah mulus gadis cantik itu.


Plak!


Fatir yang menyaksikan sikap kasar kakeknya sontak merasa iba pada gadis muda itu.


Setelah Suryo melakukannya, ia langsung menyesal.


“Maafkan aku, Ani.” Suryo memeluk tubuh kekasihnya.


Ani hanya menangis, ia yang marah tak mau menatap wajah Suryo.


Suryo yang lebih mencintai kekasih gelapnya dari pada istri sahnya membuat keputusan besar.


“Aku akan menikahi mu, maafkan aku, tadi aku hanya syok mendapat kabar kehamilan mu.” Suryo mengecup pipi sang kekasih tersayangnya.


Fatir merasa sedih melihat pengkhianatan kakeknya pada sang nenek yang begitu baik hati dan setia pada kakeknya.


Fatir yang tak ingin melihat pemandangan selanjutnya memutuskan untuk balik kanan.


Namun kenyataan yang belum usai mengantarkan Fatir ke ruang waktu yang berbeda.


Dimana saat itu ia melihat Ani dengan kedua tangan telentang di borgol dengan rantai besar. Kedua kakinya pun terbuka lebar di lilit rantai.


Saat itu Ani yang malang sedang proses melahirkan di bantu oleh neneknya Nindira, disana juga ada kakeknya yang menampilkan mimik wajah resah.


“Kok bisa ada nenek?” Fatir yang penasaran mendekat pada ketiganya.


“Cepat! Mengejan!!! Kau bisa tidak!” wajah Nindira nampak tak ikhlas saat berada di antara kedua paha Ani.


Fatir pun melihat Ani mengejan dengan sekuat tenaganya, hingga keringat membasahi seluruh tubuh wanita berperut besar itu.


“Hei pelac*ur! Cepat keluarkan anak mu! Kalau tidak, ku keluarkan dia dari perut mu!” Nindira sangat kesal dengan gadis kesayangan suaminya.


“Aku sudah berusaha nyonya, hiks!!” Ani menangis sesungukan.


Ani yang tak kunjung berhasil menghantarkan anaknya ke dunia membuat kesabaran Nindira habis.


Ia pun mengambil pisau belati yang baru ia asah.


“Kau mau apa, Dira?!” tanya Suryo dengan nada suara yang keras.


“Membelah perut pel*ur ini!” pekik Nindira dengan tatapan mata tajam.

__ADS_1


“Jangan! Apa kau gila!” Suryo tidak setuju dengan tindakan kejam Nindira.


Fatir yang ikut menjadi saksi merasa panik. Ia pun mendekat ke neneknya.


“Nek, jangan lakukan itu, dosa nek!” Fatir sibuk melerai aksi neneknya.


Namun sayang, suara Fatir tak dapat di dengar oleh Nindira.


“Aku memang sudah gila, sejak kau menduakan aku, aku sudah tidak pernah hidup tenang, kau hancurkan seluruh hidup ku, kau bermesraan dengan wanita miskin ini! Pada hal kau hanya lelaki yang menumpang


kewibawaan pada ku, sungguh tidak tahu diri!”


Nindira mengingatkan Suryo akan dirinya yang bukan siapa-siapa tanpa istrinya.


“Jangan bunuh aku nyonya, hiks... aku mohon, aku akan pergi membawa anak ku nyonya.” Ani menangis sesungukan, rasa sakit akan melahirkan bercampur dengan kematiannya yang telah di tentukan.


“Tidak! Kau harus mati, lagi pula tanah ini butuh getih! (darah) Kita sudah hampir bangkrut! Darah wanita melahirkan lebih di sukai nyai Putri Candra Wati dari pada orang biasa, rentang waktu untuk meminta tumbal kembali pun akan lebih lama, jadi jangan hentikan aku, atau aku akan mengorbankan mu juga!” Nindira yang kuat membuat Suryo bungkam.


Fatir yang mengetahui kekejaman neneknya menangis histeris, meski wanita muda itu bersalah. Menurit Fatir ganjaran nyawa tidak pantas Ani dapatkan.


Suryo yang sudah ketahuan tak bisa berkutik di bawah amarah Nindira, ia pun terpaksa mengikuti kemauan istri tuanya.


“Jangan! Hiks... ku mohon jangan bunuh aku, hiks...” Ani terus meminta tolong untuk tak di habisi.


“Nyonya, aku bersalah, hiks... aku tidak akan mengganggu kehidupan nyonya lagi... tuan, tolong aku...” Ani benar-benar menyesal karena telah mengacaukan kehidupan rumah tangga majikannya.


“Maafkan aku Ani, dari awal sudah ku katakan, kita tak bisa bersama.” Suryo membalik tubuhnya, ia tak sanggup kalau harus melihat Nindira mensayat-sayat perut kekasihnya.


“Tuan!!! Selamatkan aku!!!” teriakan ketakutan Ani memenuhi ruang bersalin yang mirip seperti penjara.


“Sialan! Berani-beraninya kau memanggil si konyol yang tak punya apa-apa ini!” Nindira yang dongkol langsung menyayat perut Ani tanpa bius.


“Akhhh!!!!!!!” Ani berteriak kesakitan, matanya pun membelalak sempurna melihat ke arah langit-langit.


“Sakit!! Sakit!! Jangan lagi nyonya, aku mohon ampun!!!” Ani yang tak bisa kemana-mana hanya menerima rasa sakit yang tak bisa di ungkapkan dengan kata-kata.


Sedang Nindira tak merasa kasihan apa lagi menyesal dengan apa yang ia lakukan.


“Makanya, kalau mau main-main lihat-lihat orangnya, Ani.” Nindira tertawa getir.


Sedang Ani terus menangis histeris tanpa henti.


“Siapa suruh kau menyukai laki-laki bermodal terong ini! Jadinya kan repot! Pada hal kau cantik, tapi hati mu!” Nindira menyayat dada Ani.

__ADS_1


“Kotor! Perusak rumah tangga orang, sudah lama aku memberi mu waktu untuk taubat, tapi kau makin asyik menggesek kacang mu hingga hamil! Coba kau yang ada di posisi ku! Pasti kau akan merasakan hal yang sama, rasa dendam dan benci menyatu jadi satu, jadi rasakan saja pembalasan ku yang sekarang!” Nindira begitu senang menyayat-nyayat perut Ani.


Sreett!!!


Jleb!


Nindira menusuk-nusuk perut Ani, ia juga mengerjai perut Ani mirip saat seseorang memberikan perut ikan.


Suryo yang tak tahan mendengar teriakan kekasihnya langsung keluar dari dalam ruangan itu.


“Eh, ini dia anak mu sialan!” perut Ani yang telah terbuka lebar memudahkan Nindira untuk melihat bayi madunya yang masih di balut dengan lapisan air ketuban.


Nindira yang bukan ahli bedah kesulitan untuk mengeluarkan bayi kecil itu.


“Sepertinya kurang lebar,” gumam Nindira.


Srett sreett srettt!!


Nindira melebarkan bagian perut yang tadi ia sobek.


“Akhh!!!!!” Ani makin histeris, pergelangannya tangannya yang di rantai pun lecet karena sering meronta-ronta.


Nindira pun mengelukan bayi Ani dengan kasar.


Setelah itu menusuk lapisan air ketuban itu dengan pisaunya yang penuh darah.


Zaarr!!!


Hoek.. hoek.. hoek...


Tangis bayi tak berdosa kian pecah memenuhi ruangan kotor itu.


Suryo yang mendengar tangisan darah dagingnya ikut terisak.


Ia merasa sedih atas kemalangan yang menimpa dirinya. Ia yang tak berdaya hanya bisa menyesali semua kesalahan yang ia lakukan.


Kriettt!!


Suara pintu terbuka membuat Suryo menoleh ke arah belakangnya.


“Sudah lahir?” tanya Suryo.


“Memangnya telinga mu rusak, jadi enggak bisa dengar tangisan bayi ini?! Heh, anak haram mu laki-laki, ini akan ku berikan pada Melisa.” Melisa adalah putri pertama Nindira dan Suryo.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2