
“Apa kau tidak takut dengan kutukan yang ia berikan?” tanya Tejo.
“Aku sudah mengutuknya lebih dulu, Tuhan pun tidak akan merestui apa yang terucap dari mulut kotornya!” Tio tak percaya sama sekali dengan sumpah serapah dari Asrita.
Setelah itu Tio dan ke empat rekannya membantu memakamkan para warga yang telah di kain kafani.
Orang-orang yang di tinggalkan merasa sedih atas kehilangan keluarganya secara tiba-tiba.
3 hari pasca penguburan massal yang terjadi di desa itu, Tio yang sedang melintas di jalan setapak dekat pemakaman mulai mendapat gangguan.
Ia yang telah biasa lalu lalang tanpa penghalang tiap harinya tak sengaja melihat di ujung jalan seorang wanita cantik memakai kebaya hijau sedang berdiri sendirian di bawah terangnya sinar rembulan.
“Siapa perempuan itu? Pada hal sudah jam 00:00.” Tio merasa heran ada perempuan berdiri di dekat kuburan tengah malam.
Ia yang ingin pulang ke rumah pun terus melangkahkan kakinya.
Ia yang akan melintas di sebelah si wanita tiba-tiba mendengar suara tangisan yang begitu lirih, Tio yang kasihan pun mulai menyapa si wanita yang berdiri membelakanginya.
“Ini sudah tengah malam, kenapa kau ada disini?” sapa Tio.
“Aku di usir suami ku, kakang.” si wanita cantik terus menangis.
“Siapa suami mu?” Tio yang mengenali seluruh warganya, menaruh curiga pada wanita cantik itu.
Pasti bukan orang sini, batinnya.
“Yang itu kang...” sang wanita menunjuk ke arah atas pohon yang ada di sebelahnya.
Sontak Tio mendongak, ia pun melihat kalau ada pocong yang duduk di cabang batang pohon tersebut.
“Bangsat!” umpat Tio.
Ia yang ingin menoleh ke si wanita tiba-tiba mendapat serangan mendadak.
“Kurang ajar!” wanita itu mendorong Tio hingga terjatuh ke jurang.
“Ih hihihihi! Ku pikir kau kuat, ternyata tak punya daya sedikit pun!” wanita itu terus tertawa cekikikan.
Tio yang jatuh berguling-guling memegang batang pohon untuk bertahan agar tak jatuh semakin dalam.
“Awas saja kau makhluk laknat!” Tio yang memiliki kekuatan supranatural mengirim pesan batin pada Tejo.
Tolong bantu aku, aku terjatuh di jurang yang ada di dekat makam, batin Tio.
Tejo yang mendapat sinyal itu meminta bantuan pada Parjo, Parman, dan juga Sukirman.
Mereka berempat pun berangakat ke tempat yang telah di beritahukan.
🏵️
__ADS_1
Sedang Tio yang berusaha naik harus terhadang oleh ular kopra sepanjang 12 meter yang melilit kakinya.
“Kau tidak boleh pergi kemana-mana!” ular siluman itu bicara pada Tio.
“Lepaskan aku! Kalau tidak, kau akan ku bunuh!” meski nyawa sudah di ujung tanduk, namun Tio tidak ada gentarnya sama sekali.
“Benarkah? Akan ku beri kau pelajaran karena telah membunuh murid ku!” ular siluman itu pun menunjukkan taring berbisanya.
Ssssttt!!!
Tio yang tak mau mati konyol mulai mengucap do'a, namun siluman yang teramat kuat tak bisa di kalahkan oleh Tio yang hanya manusia biasa.
Ular siluman itu pun semakin erat melilit kaki kanan Tio.
Hingga Tio dapat merasakan kalau tulang-tulangnya telah remuk.
“Nama ku Putri Candra Wati, ini adalah awal petaka untuk desa yang kau pimpin, Tio!”
Pindahnya Asrita ternyata tak sendirian, dirinya yang seorang pengabdi setan memberitahu nyai Putri, jika gunung itu cocok untuk di tinggali oleh nyai Putri.
“Kau tentu tak lupa apa yang di katakan Asrita pada mu, untuk itu nyawa mu lah yang akan pertama kali ku cabut!”
Ssst!!!
Tab! Tab Tab!
Nyai putri menggigit kaki, perut dan juga leher Tio.
Seketika Tio merasa tubuhnya terbakar, dan badannya menjadi kaku.
Tangannya yang bidang pun tak mampu untuk memegang batang pohon yang menjadi penyelamat nyawanya.
Siung!!!!
Tio, sang kepala desa melepas pegangan tangannya. Ia pun terjun bebas sampai ke dasar jurang.
Tejo, Parjo, Sukirman dan Parman yang baru sampai tak melihat kepala desa mereka dimana pun.
“Tunggu sebentar!” Tejo mulai menggunakan mata batinnya untuk mencari keberadaan Tio.
“Ya Allah!” ia pun memegang dadanya, wajah pun terlihat syok.
“Ada apa?” tanya Parman.
“Pak Tio sudah tidak ada, dia di patuk ular siluman.” Tejo pun menceritakan secara detail apa yang ia lihat.
“Innalillahi wainnailaihi rojiun.” ucap Parjo, Parman dan Sukirman.
Mereka sangat berduka atas meninggalnya sang kepala desa.
__ADS_1
“Kita tidak bisa turun sekarang, sebaiknya kita tunggu pagi,” ujar Tejo.
“Kau benar, di paksakan pun hanya akan mencari masalah,” ujar Parjo.
“Sebaiknya kita pulang, perasaan ku tak enak kalau kita lebih lama disini, ayo!” Tejo mendesak teman-temannya untuk segera meninggalkan tempat itu.
Setelah mereka berempat pergi, nyai Putri datang dengan wujud silumannya ke jalan setapak.
Nyai Putri pun menjalar di tanah menuju makam Asrita yang bentuknya rata dengan tanah, tak ada nisan atau pun tumpukan batu.
“Asrita! Keluarlah!” titah nyai Putri.
Perlahan-lahan jin Korin Asrita keluar dari dalam tanah.
“Salam hormat nyai.” Asrita menundukkan kepalanya.
“Lulu lantahkan desa ini, turunkan hama pada tanaman mereka, tiup kan wabah penyakit, kita perlu membersihkan tempat ini untuk membangun kerajaan ku, buat mereka menjadi budak, karena bagaimana pun juga, aku butuh banyak tenaga tambahan untuk membangun istana ku!”
Nyai Putri mengatakan seluruh titahnya pada Asrita.
“Siap nyai!” sesuai permintaan orang yang ia junjung, Asrita menuju desa dengan cara terbang.
Sesampainya Asrita di tengah-tengah desa, Asrita pun mengambil serbuk yang ia simpan dalam kantung bajunya.
Asrita pun mulai menaburkan racun itu ke setiap rumah warga, Asrita juga menaburkannya ke sumber air yang menjadi sarana cuci piring, kain dan juga mandi.
Setelah selesai melaksanakan tugasnya, Asrita kembali menemui nyai Putri.
“Lapor nyai, saya sudah melakukan semuanya permintaan nyai.” ucap Asrita.
Nyai Putri yang kini duduk di atas tandu tersenyum puas.
“Aku bangga pada mu!” nyai Putri mengelus puncak kepala Asrita. Dan memberi Asrita kekuatan sihir tambahan.
Percakapan keduanya pun di saksikan oleh Rahman, si pemuda yang memiliki ilmu tinggi yang baru datang ke desa itu.
🏵️
Keesokan harinya, para warga desa yang beraktivitas di sungai mulai merasa gatal di tubuh mereka.
Baru beberapa kali mereka menggaruk bagian tubuh mereka yang terasa gatal, tiba-tiba kulit mereka sudah melepuh dan berair, mengerikannya gatal-gatal itu pun menular.
Dalam sekejap desa sejahtera itu di selimuti oleh wabah penyakit, hampir semua orang terkena penyakit itu .
Penyakit gatal itu apabila di garuk akan semakin gatal, hingga orang yang tak tahan akan berbuat ektrim.
Ada yang menggaruk tubuhnya dengan batu, ada dengan besi dan ada juga dengan pisau.
Gatal-gatal itu juga mengeluarkan nanah dengan bau yang sangat amis, siapa saja yang mencium bau busuk itu akan muntah tiada henti.
__ADS_1
...Bersambung......