
Sontak Ratih melihat ke pintu kontrakannya, ia yang ingin masuk berpikir dua kali, karena ia takut jika mendapat kesialan untuk kedua kalinya.
Ratih pun melihat ke layar handphonenya, “Ya ampun, kok dari tadi enggak dapat pengemudi sih?!” Ratih semakin resah, terlebih malam itu begitu sunyi.
Kendaraan pun tak ada yang lalu lalang. “Aku harus kemana?” Ratih yang tak memiliki kendaraan merasa bingung, sebab kakinya terjangkau untuk melangkah.
Ratih yang merasa pegal bangkit dari kursi, ia yang tak sempat mengambil jaket harus menahan dinginnya angin malam.
🏵️
Fatir yang baru bangun melihat ke arah jam yang ada di dinding.
“Baru jam 03:00.” Fatir yang masih ngantuk kembali memejamkan matanya.
Wungg...
Namun matanya kembali terbuka, saat mendengar handphone kesayangan bergetar.
Fatir pun mengambil handphone yang ada di sebelah kepalanya.
“Ratih?” Fatir bingung karena sang kekasih tak biasanya mendial nomornya sepagi itu.
Fatir yang penasaran langsung menjawab panggilan dari pujaan hatinya.
Halo? 📲 Fatir.
Ya Allah, kau lama banget sih yang angkat telepon ku. 📲 Ratih.
Suara Ratih yang bergetar di dengar jelas oleh Fatir.
Ada apa sayang? Kau baik-baik sajakan? 📲 Fatir.
Cepat jemput aku sayang, aku takut ada disini. 📲 Ratih.
Loh, kenapa yang? 📲 Fatir.
Ratih yang ingin menjelaskan harus terganggu oleh jaringan yang tiba-tiba rusak.
Sayang, kau dengar aku? 📲 Ratih.
Halo, Ratih...📲 Fatir.
Karena sambungan telepon mereka masih berstatus menghubungkan, Fatir pun mematikan telepon dari pacarnya.
Saat Fatir masih melihat layar handphonenya yang telah gelap, tanpa sengaja matanya menangkap sosok pocong berkain kafan lusuh di belakangnya.
Gluk!
Fatir menelan salivanya, perlahan Fatir menurunkan handphonenya.
Sialan! Bukannya aku sudah lepas dari hal-hal berbau mistis? batin Fatir.
Ia yang ingin membalik badan merasa berat hati, karena ia takut kalau harus bertatap muka dengan setan yang berhasil membuatnya bergidik ngeri.
Wungg...
Fatir yang merasa tegang malah mendapat video call dari Ratih.
Keong!! Kenapa harus sekarang sih!!! batin Fatir.
__ADS_1
Ia pun terpaksa mengangkat panggilan dari kekasihnya.
Saat telah terhubung, Fatir di buat syok bukan wanita main, sebab ia melihat sosok kuntilanak sedang asyik memeluk Ratih.
Ratih! Pergi ke rumah tetangga mu, aku akan segera kesana. 📲 Fatir.
Fatir yang mengkhawatirkan kekasihnya langsung bergegas.
Ia tak perduli dengan apa yang akan ia temui di jalan.
Di dalam hatinya hanya ada satu tujuan, yaitu menyelamatkan kekasihnya.
“Aku harus tanya kakek tua itu, kenapa para hantu tengik itu mengganggu ku dan Ratih.” Fatir yakin ada sesuatu yang salah, karena itu ia di usik oleh para gerombolan lelembut.
Bremm!!
Fatir melajukan motornya dengan kecepatan maksimal.
Jalanan malam yang landai tanpa ada kendaraan membuat Fatir sampai lebih cepat ke kontrakan kekasihnya.
“Sayang!!” Ratih yang merasa senang langsung mendatangi Fatir yang baru turun dari atas motor.
Ketika Ratih ingin memeluk Fatir, kekasihnya pun langsung menolak.
“Jangan sekarang!” Fatir yang tahu ada yang menempel pada kekasihnya, tak mau melakukan kontak fisik.
“Kenapa sayang?” Ratih heran dengan perubahan Fatir yang begitu tiba-tiba.
“Nanti saja ku jelaskan, ayo kita pergi sekarang.” Fatir ingin segera membawa kekasihnya pergi ke tempat yang lebih ramai.
“Tunggu sayang.” Ratih menahan tangan Fatir.
“Ada apa lagi, Ratih?” Fatir yang merasa terdesak ingin segera pergi.
“Kenapa kau tiba-tiba minta maaf?” Fatir tak mengerti dengan maksud kekasihnya.
“Karena aku telah mengambil batu hijau milik mu.” Ratih jujur pada kekasihnya.
“Astaga! Jadi semua ini karena mu?” Fatir naik pitam pada Ratih yang telah lancang mengambil barangnya tanpa izin.
“Ya ampun Ratih! Kau tahu yang kau lakukan bisa mencelakai kita berdua! terutama kau!” Fatir sadar keanehan yang ia alami karena sang kekasih yang baru ia pacari.
“Maafkan aku sayang, aku menyesal, tak seharusnya aku berbuat begitu, hiks...” Ratih yang merasa bersalah pun menangis.
“Sudahlah, sekarang dimana batu hijau itu, Ratih?!!” rasanya Fatir mau gila karena ulah kekasihnya
Ingin sekali ia memukul Ratih, namun sayang rasa iba nya lebih kuat dari pada marahnya.
“Di kamar ku,” ucap Ratih.
“Ayo kita ambil!” Fatir yang ingin hidupnya berjalan dengan tenang, mengajak Ratih untuk masuk ke dalam kontrakan kekasihnya.
“Ada hantu sayang.” Ratih menolak untuk ikut.
“Akan lebih banyak yang mengusik kalau kita enggak bereskan sekarang!” ujar Fatir
Dengan terpaksa Ratih menemani kekasihnya untuk masuk ke dalam kontrakannya.
Krieett!!
__ADS_1
Saat pintu telah terbuka mata Fatir dan dia menoleh kesana kemari.
“Ayo, cepat!” Fatir menggenggan tangan kekasihnya.
Keduanya pun melangkah dengan cepat menuju kamar.
Saat mereka telah ada di dalam kamar, tiba-tiba lampu mati total.
Bar!!!
Pintu kamar yang tadinya terbuka malah di banting dengan sangat kuat oleh orang yang tak terlihat.
“Akhh!!!” Ratih menjerit sekuat-kuatnya.
“Tenang Ratih, cepat nyalakan senter handphone mu,” ujar Fatir.
Ratih pun mengambil ponselnya dari sakunya.
Keduanya pun menyalakan senter handphone mereka secara bersama-sama.
“Akhhh!!!” kini Fatir yang menjerit tak karuan.
Sebab ia melihat kuntilanak yang memeluk kekasihnya melotot padanya.
“Kau kenapa?!” tanya Ratih dengan bulu kuduk merinding.
“Tidak apa-apa! Aku hanya terkejut.” Fatir tak mau memberitahu hal yang sebenarnya pada Ratih, karena ia takut jika kekasihnya ikut histeris sepertinya.
“Ya sudah, ayo kita cari!” Ratih pun percaya dengan apa yang di katakan kekasihnya.
“Memangnya kau taruh dimana?” tanya Fatir dengan mata terus fokus melihat ke arah cahaya senternya.
“Di atas kasur, tapi enggak ada sayang.”Ratih menjadi tambah cemas.
“Ya ampun!! Kenapa kau jadi ceroboh sih?!” Fatir marah karena ia tahu bahaya yang akan mereka terima.
“Maaf sayang...” hanya itu yang bisa Ratih ucapkan.
“Sudahalah, lebih baik kita cari lagi.” Fatir tak ingin membuang waktunya untuk marah-marah.
“Apa mungkin mungkin jatuh ke kolong ranjang?” Ratih pun membungkuk, saat senter ponselnya menyorot bagian bawah ranjang.
Ia pun bertemu mata dengan sosok anak kecil berkepala plontos, matanya pun mengeluarkan darah.
Ratih yang ingin berteriak tak sanggup untuk melakukannya. Sebab hantu anak kecil yang biasa di sebut tuyul membuatnya beku.
“Ih hihihi! Kak, main dengan ku yuk!” tuyul itu mengajak Ratih untuk bermain bersamanya.
Sontak Ratih geleng-geleng kepala, karena dirinya tak ingin memiliki teman hantu.
“Kalau mau main, aku kasih ini loh.” Tuyul itu pun menunjukkan batu yang Ratih dan Fatir cari.
“Kembalikan!” Ratih meminta barang Fatir kembali.
“Kau baik-baik saja, Ratih? Kenapa kau terus membungkuk di bawah kolong?” tanya Fatir.
“Iya, aku baik mas,” sahut Ratih.
“Kalau mau ini, jangan bilang pada pacar mu kalau aku minta susu, kalau tidak aku akan membuang batu ini, ih hihihi!!” Tuyul itu mengancam Ratih.
__ADS_1
Ratih yang ingin mengembalikan batu Fatir terpaksa setuju.
...Bersambung......