
“Ayo naik!” seru Delima.
“Del, di atas ada lampu kan?” tanya Sarah.
“Ada, tapi hanya sampai pos 2, warung juga ada disana, tapi setelah itu tak ada penerangan apapun, karena itu aku bawa ini.” Delima menunjukkan sebuah senter yang ia keluarkan dalam tasnya pada Sarah.
“Cuma satu?” Sarah berpikir kalau mereka butuh 2 senter.
“Ini saja sudah cukup,” ujar Delima.
“Baiklah.” Sarah tak banyak tanya lagi, mereka pun mulai mendaki gunung keramat tersebut.
Delima yang biasa naik ke gunung itu memutuskan untuk membawa sesajen yang ada di atas nampan bambu di kepalanya.
Sedang Sarah ia suruh membawa senter, makanan dan juga minuman yang mereka beli tadi.
Selama perjalanan Delima banyak bercerita seputar gunung itu, sedang Sarah hanya mendengarkan.
“Sudah lama aku enggak kesini, rasanya rindu sekali.” hati Delima sangat damai bila berada di gunung itu, seolah-olah itu adalah kampung halamannya.
“Makanan disini juga enak-enak, apa lagi yang ada di pos 2, kau pasti rindu untuk jajan disana.” Delima memuji cita rasa masakan yang ada di pos tersebut.
“Oh ya... kau banyak berubah ya sekarang, pada dulu kau makan di warung pinggir jalan saja enggak mau, sekarang tempatnya di tengah gunung pun kah bilang enak.” Sarah mengatakan sifat Delima di masa lalu.
“Itukan dulu, tapi ini beneran enak tahu!” Sarah menjadi makin penasaran karena Delima selalu membanggakan masakan di pos 2 itu.
“Baiklah, sampai disana kita jajan sepuasnya,” ucap Sarah.
“Oke-oke!” Delima yang ceria membawa hawa positif bagi Sarah.
Tak lama keduanya pun hening karena tanjakan yang mereka lalui makin miring.
Ketika mereka telah berada di tempat yang lantai, Sarah merasa ada yang mengikuti dari belakang.
Ia yang penasaran pun langsung menoleh ke belakangnya.
“Ular!” Sarah berteriak karena ia melihat ular king kobra berjalan mengikutinya
Sarah yang ketakutan pun berlari meninggalkan Delima.
“Hei, Sarah! Jangan pergi! Itu biasa kok, karena disini memang banyak ularnya,” ujar Delima.
“Banyak ular?” sontak Sarah melihat ke sekitarnya, ia pun baru menyadari kalau banyak ular berbagai jenis bergelantungan di batang pohon, dalam semak-semak dan juga lalu lalang di hadapannya.
Sarah yang gugup tak tahu harus maju atau mundur. Sebab ular-ular itu melintas bebas di antaranya.
__ADS_1
“Hei, Sarah! Santai saja, enggak usah panik, kau kenapa sih jadi hilang kontrol begitu?”
Puk!
Delima menepuk punggung Sarah yang terlihat syok.
“Banyak ular Del, aku takut!” ucap Sarah dengan tubuh bergetar.
“Tentu saja, kitakan memasuki gunung keramat yang penghuninya ular siluman semua, kau jangan jalan duluan lagi, kalau lihat ular santai saja, karena enggak mereka enggak akan mengganggu mu!” ujar delima.
“Ya sudah kalau begitu, tapi kau harus selalu di samping ku.” Sarah yang penakut tak mau jauh-jauh dari Delima.
Ia pun selalu menempel pada sahabatnya saat di jalur yang dapat di lewati oleh 2 orang.
Setelah menempuh perjalanan selama 35 menit mereka pun sampai di pos satu, keduanya tidak istirahat karena mereka mengejar waktu Magrib yang akan segera tiba.
Setelah menempuh perjalanan selama satu jam, keduanya pun sampai ke pos dua.
Sarah yang kelelahan berharap ada makanan enak dan segar disana, namun kenyataan berkata lain, sebab ia tak melihat warung atau bekas aktivitas jual beli disana.
Matanya yang bulat pun melihat kesana dan kemari untuk memastikan namun hasilnya tetap nihil.
Saat Sarah menoleh ke arah Delima ia menjadi tambah bingung, karena ia lihat sahabatnya tersenyum lepas seraya menuju pohon paling besar yang ada di sebelah kanan jalur.
“Del, kau mau kemana?” Sarah takut jika Delima kesurupan.
“Mau makan apa maksud mu? Angin? Apa daun?!” Sarah kesal pada Delima yang malah ingin bermain-main dengan pohon di pohon tersebut, pada hal saat itu senja telah memerah di langit.
“Kau enggak lihat, banyak gorengan dan juga nasi disini?” ujar Delima yang melihat ada warung dan juga banyak orang yang sedang membeli tempat itu.
“Enggak ada apa-apa! Kau mau mengerjai aku ya!” pekik Sarah.
“Mata mu buta ya, enggak bisa lihat ini?” Delima menunjuk ke arah warung yang telah menggil-manggil dirinya untuk membeli.
Dasar gila, batin Sarah.
Delima pun berbicara sendiri pada pohon besar tersebut.
“Bu, saya mau gorengannya harga 10 ribu, terus pecal 20 ribu.” senyum Delima tiada henti saat ia menerima makanan yang telah di bungkus ibu pemilik warung.
Sedang di mata Sarah, ia melihat Delima melayani dirinya sendiri.
Delima pun memakan tumpukan tanah daun kering dan juga rerumputan.
Melihat keanehan Delima membuat Sarah merinding.
__ADS_1
Mungkin Delima melihat warung setan kali ya, batin Sarah.
Sarah hanya bisa menonton sahabatnya memakan mentah tersebut.
Setelah selesai makan Delima pun terapan, kemudian ia menoleh ke arah Sarah yang duduk di sebelahnya.
“Kenapa kau enggak makan, Sar? Ini, masih ada 2 bakwan lagi,” ujar Delima.
“Untuk mu saja, aku enggak mau makan-makanan sampah seperti itu.” Sarah menolak pemberian Delima.
“Kalau begitu kau sudah bisa jalan sekarang,” ucap Delima.
“Maksudnya gimana Del?” Sarah memperjelas ucapan Delima.
“Aku hanya mengantar mu sampai sini, selanjutnya kau yang naik ke atas,” ucap Delima.
“Apa? Aku sendirian yang kesana?” Sarah menunjuk dirinya sendiri.
“Iya, karena hanya yang punya hajat yang boleh naik ke atas,” terang Delima.
Sarah yang ingin menolak berpikir kembali, sebab ia sudah sampai setengah jalan.
“Baiklah! Aku akan kesana, tapi tunggu aku disini, jangan kemana-mana.” Sarah ingin saat ia kembali Delima masih ada di tempat itu.
“Iya-iya!” Delima mengangguk penuh senyuman.
Setelah itu Sarah pun mulai menanjak di temani oleh makanan, minuman dan juga senter di tangannya.
Ia naik dengan perasaan tak karuan, sebab angin malam yang sangat kencang membuat pepohonan bergesekan satu sama lain dan menghasilkan suara yang membuat bulu kuduk Sarah merinding .
Ia juga tak berani melihat ke kiri dan ke kanan, sebab ia dapat melihat dari sudut ekor matanya bayangan putih yang terus memperhatikannya.
“Apa aku pulang saja? Ini sangat mengerikan!” Sarah ragu antara melangkah maju mendapat apa yang ia mau, atau turun dengan hasil yang sia-sia.
Kakinya pun tiba-tiba terhenti karena ia melihat sosok nenek tua dengan rambut putih terurai panjang 50 meter di hadapannya.
“Untung ada orang lain disini.” Sarah menjadi lebih berani karena ia merasa tak sendirian di jalan gelap gulita tanpa penerangan itu.
Saat Sarah telah dekat dengan nenek tua itu, Sarah tersenyum.
“Lewat ya nek.” Sarah menundukkan kepalanya.
Si nenek berambut panjang itu melotot pada Sarah yang akan melintas.
“Pulang! Jangan buat masalah baru dalam hidup mu!” ucap si nenek.
__ADS_1
...Bersambung......