Kualat Di Gunung Keramat

Kualat Di Gunung Keramat
Ingin Cepat Kaya (Menelan Bayi Ular)


__ADS_3

“Rezeki yang ku punya, bukan milik ku seorang, keluarga adalah yang paling utama, yang ku berikan sekarang adalah sebagai rezeki tante dan om yang di titip Allah pada ku,” terang Delima.


Delima yang pintar bicara membuat Alia dan Angga luluh.


Saat Alia ingin menyimpan tas mahal pemberian Delima, Rahmat yang baru pulang dari kantor melarangnya.


“Jangan di ambil, kembalikan padanya!”. Rahmat yang baru bertemu Delima memberi tatapan tak suka pada pada wanita cantik itu.


Karena Rahmat yang bicara langsung, semua orang menjadi hening, Delima sendiri tak berani bicara lagi.


Kemudian Rahmat duduk di atas sofa, dan menarik napas panjang.


“Hufff... pulanglah! Ini sudah malam, bawa semua barang-barang yang kau bawa.” sikap judes Rahmat membuat Delima dendam.


Ada apa dengan manusia sampah ini? Datang-datang malah marah pada ku, apa mungkin perempuan miskin ini yang menjelek-jelekkan ku pada bapak tua ini! batin Delima.


“Ayah, ini teman lama ku, namanya Delima.” Angga memperkenalkan teman lamanya pada ayahnya.


“Ayah tahu, silahkan pulang nak Delima, kami mau istirahat.” Rahmat mengusir Delima dengan tidak terhormat.


Dia yang menyaksikan itu tertawa puas. Ia merasa Rahmat berpihak padanya.


Delima yang tak punya alasan untuk tetap bertahan disana memutuskan untuk pulang.


“Baik om, maaf kalau saya sudah mengganggu waktu istirahat om dan keluarga.” Delima pun bangkit dari duduknya.


“Saya permisi om, tante, Angga.” Delima tak pamit pada Dia meski ia melihat wanita saingannya itu berdiri di pintu kamarnya.


Kemudian Delima keluar dari rumah Angga dengan raut wajah marah. Saat Delima sudah masuk ke mobilnya, ia pun membanting setir mobilnya.


Puk!


“Akh!! Sialan! Dasar pengganggu! Wanita jelek dan ayahnya Angga benar-benar bikin aku emosi, lihat saja! Aku akan menargetkan


mereka berdua untuk menjadi korban ku!” Delima yang dendam ingin memberi pelajaran pada Dia dan Rahmat.


🏵️


“Ayah, kenapa ngomong ketus begitu sih pada Delima, dia itu teman ku loh!” Angga tak suka dengan sikap ayahnya.


“Angga, untung wanita itu datang kemari, kalau tidak bisa gawat!” wajah Rahmat nampak serius membahas Delima.


“Memangnya kenapa yah?” tanya Angga penasaran.


“Iya, benar yah, ada apa sebenarnya? Ayah kelihatan enggak suka banget sama dia.” Alia turut penasaran, karena Rahmat bukan seorang yang tak bersopan santun pada orang lain.


“Dia adalah perempuan sesat, apa kalian tak melihat kalau dia membawa-bawa ular di lehernya?” Rahmat mengatakan apa yang ia lihat sendiri.


“Masa sih om?” Dia yang tertarik membahas saingannya pun bergabung ke sofa.


“Iya, ular itu mengancam ku, dia bilang aku tak boleh ikut campur soal Delima, awalnya aku ingin menasehati Delima, tapi ku urungkan, karena dia telah menargetkan Dia untuk jadi tumbalnya.” terang Rahmat panjang lebar.

__ADS_1


“Ayah tahu darimana? Jangan fitnah ayah!” Angga semakin marah pada ayahnya.


“Terserah kau mau percaya atau tidak, yang jelas jangan pernah mendekat pada wanita itu! Dia itu meminta kejayaan pada siluman ular!” Rahmat mempertegas larangannya pada putranya.


“Ayah, kalau enggak suka sama seseorang jangan bicara buruk tanpa bukti begitu, enggak baik,” ucap Alia.


“Kakek Rahman yang mengatakannya!” setelah Rahman mengatakan nama buyut mereka, seketika Angga dan ibunya terdiam.


“Maaf ayah, kalau aku sempat membangkang.” Angga menyesal karena sudah melawan ayahnya.


“Tidak apa-apa, lain kali hati-hati dalam memilih teman,” ujar Rahmat.


“Iya ayah.” Rahmat mengangguk mengerti.


“Apa Delima menyembah siluman dari gunung keramat om?” tanya Dia memastikan.


“Iya.” sahut Rahmat.


Wajah Dia jadi pucat pasif, ia merasa kalau penghuni gunung itu akan selalu mengincar mereka yang masih hidup.


Angga yang mendengar pernyataan ayahnya menghela napas panjang.


Bukannya semua sudah berakhir? Tadi kenapa gunung itu seolah tak melepaskan kami? batin Angga.


🏵️


Sesampainya di rumah Delima masuk ke dalam kamarnya.


“Oh iya, aku harus membuka brangkas ku, akh! Bikin repot.” meski berat hati, namun Delima harus membersihkan sisa tulang Sarah.


Sesampainya di ruang penyimpanan, Delima membuka pintu brangkasnya.


Ia pun menyalakan lampu yang ada di sudut brangkas.


Tek!


Ketika seluruh penjuru brangkas telah di terangi oleh sinar lampu, Delima pun melihat mayat Sarah yang masih utuh.


“Kok belum di makan sih dagingnya?” Delima yang bingung pun berkacak pinggang.


Lalu Delima mengernyitkan dahinya saat melihat darah memenuhi kaki dan juga baju gaun yang di kenakan Sarah.


“Dia datang bulan?” Delima yang penasaran mendekat.


Saat Delima ingin menyentuh darah yang ada di baju Sarah, tiba-tiba 10 bayi ular Sarah mendesis secara bersama-sama.


“Hah!” Delima tersentak, matanya membelalak dan jantungnya berdetak kencang.


Ia tak menyangka kalau Sarah adalah wanita terpilih yang mengandung benih raja Garaga.


“Aku harus bagaimana?” Darah mundur teratur, lututnya bergetar seketika, karena jika raja ular itu tahu dia telah membunuh calon ratu, maka nyawanya akan melayang saat itu juga.

__ADS_1


Delima yang kalang kabut melihat kesana kemari, ia tahu jika sang raja ular akan segera datang.


Delima yang tak melihat jalan tanpa sengaja menginjak ekor bayi bersisik Sarah.


Sssstt!!!


Tab!!


Bayi Sarah yang kesakitan langsung memberi penyerangan dengan cara menggigit kaki Delima.


Delima yang merasa geli langsung menghempaskan bayi Sarah tersebut hingga terpental ke dinding brangkas.


Bruk!!


Ssstt!!


Sontak hal itu memancing bayi bersisik Sarah yang lainnya untuk menyerang. Mereka semua pun menjalar menuju Delima.


“Maafkan aku, aku enggak sengaja!” Delima yang takut balik kanan lalu berlari menuju pintu.


Ke sembilan anak-anak Sarah pun mengejar Delima.


Delima yang gesit pun keluar berangkas dan menutup pintu.


Retek!


“Hufftt.” Baru saja Delima merasa lega, tiba-tiba ia melihat satu ekor Anacoda berkaki manusia mendesis padanya.


Ssstt!!!


Delima yang merasa geli langsung menginjak bayi Sarah hingga rata dengan lantai.


“Mati kau! Bikin susah saja!” Delima membunuh satu keturunan raja Garaga.


Selesai ia menuntaskan hasrat membunuhnya tiba-tiba ia mendengar suara gamelan di ruang penyimpanannya.


“Asataga! Raja...” Delima yang panik tak tahu harus menyembunyikan bayi Sarah dan Garaga kemana, sebab di ruangan itu hanya ada satu properti.


Ia yang tak ingin dapat masalah langusung memasukkan bayi Sarah yang telah mati ke dalam mulutnya.


“Hoek! Sialan!” Delima mengumpat, karena ia harus menelan hewan yang membuatnya mual dan ingin muntah.


Tak lama Garaga dan kereta kudanya datang ke ruang penyimpanan harta Delima.


Garaga yang melihat Delima, langsung mencium aroma aneh di tubuh pengikutnya itu.


“Jangan sembunyikan apapun dariku!” pekik Garaga.


“Ada apa Paduka? Saya tidak mengerti apa yang Paduka maksudkan.” Delima pura-pura tak tahu apa yang di katakan Garaga.


“Jangan bohong! Aku mencium bau ular di tubuh mu, dan brangkas itu!” Garaga tahu ada yang tak beres pada Delima.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2