Kualat Di Gunung Keramat

Kualat Di Gunung Keramat
Jadi Pocong (Pesan)


__ADS_3

Fatir geleng-geleng kepala, sebab ia sendiri tidak tahu bersama dengan Dia asli atau tidak.


Fatir juga merasa kebersamaannya dengan sang kekasih selama ini begitu nyata.


“Tapi om, ayah dan ibu ku juga menyaksikan kehadiran Dia.” ternyata Dia sempat bertemu dengan Melisa dan Roy.


“Entahlah nak, kalau memang benar, apa bisa kau menelepon, Dia? Ya, mungkin saja kau benar, kalau yang kau pacari adalah putri kami,” ujar Marhan.


“Baik om.” Fatir pun mendial nomor Dia, namun sayang tak kunjung terhubung.


“Apa boleh om lihat nomornya?” Marhan ingin menyamakan kontak Dia putrinya dengan Dia kekasih Fatir.


“Baik, om.” Fatir pun memperlihatkan nomor Dia pada Marhan.


“Sama?” mata Marhan tak hentinya melihat nomor yang ada di handphonenya dan Fatir secara bergantian.


“Iya, benar om, tapi herannya hari ini nomornya enggak aktif, entah apa yang terjadi om, saat aku tanya ke kelasnya, katanya Dia sudah lama tidak masuk, pada hal aku dan Dia sering bertemu di kampus,” ucap Fatir.


“Apa kau serius? Apa kau ada photo dengan Dia?” tanya Marhan dengan penasaran penuh.


“Ada om.” Fatir pun membuka galeri photonya, matanya pun terlihat mencari sesuatu yang tak kunjung ketemu.


“Kenapa, Tir?” Marhan memperhatikan mimik wajah Fatir yang terlihat aneh.


“Kok enggak ada ya, om?” lalu Fatir membuka satu photo yang Fatir yakini ada Dia di sampingnya.


“Ini om, saat itu aku dan Dia pergi kencan ke taman.” Fatir pun menceritakan detail kejadian yang ia lalu dengan Dia .


Marhan menatap aneh ke arah Fatir, “Apa mungkin itu jin yang menyerupai Dia?” Marhan mengatakan pendapatnya.


“Aku juga enggak tahu om.” Fatir benar-benar bingung dengan situasi yang ia alami.


Masa aku pacaran dengan jin? batin Fatir.


Fatir pun mengelus tengkuknya yang terasa berat.


“Maaf nak, om mau pergi sholat, apa kau mau ikut? Nanti kita bisa lanjut mengobrol disana.” Marhan yang ingin beribadah mengajak Fatir.


“Tidak om, aku sholat di rumah saja.” Fatir yang masih lelah akan kejadian yang ia alami memutuskan untuk pulang ke rumah.


Saat Fatir tengah mengendarai motornya, ia pun memikirkan hubungan yang ia jalin bersama Dia selama ini. Ia yang tak fokus malah salah memilih jalan.


Sadar-sadar Fatir telah berada di sebuah perkampungan, yang ia sendiri belum pernah kesana.


“Kok bisa sampai ke sini?” Fatir pun menghentikan motornya di pinggir jalan, tepatnya di depan rumah gubuk yang memiliki atap ijuk.

__ADS_1


Fatir yang penasaran dengan kampung itu pun bertanya pada kakek tua yang berjalan di sebelahnya.


“Maaf kek, saya mau tanya...” Fatir yang mau melanjutkan barisan katanya harus terhenti karena mimik wajah si kakek begitu sinis padanya.


“Jadi kau nyaman bersama dengannya?!” pertanyaan si kakek membuat Fatir menoleh ke belakangnya.


“Aku bicara pada mu anak muda!” pekik si kakek.


“Saya?” Fatir menunjuk dirinya sendiri.


“Iya, kau! Dasar bodoh, kau mau di obati atau di biarkan begitu saja?” si kakek yang pemarah membuat Fatir takut.


“Memangnya aku kenapa kek?” Fatir yang merasa sehat merasa tak perlu di obati.


“Setan yang ada di belakang mu begitu menjengkelkan!” si kakek menunjuk tajam ke belakang Fatir.


“Saya mau di obati, kek!” Fatir yang telah mendapat gangguan langsung, percaya kalau ada setan yang menempel padanya.


“Turunlah.” si kakek pun berjalan menuju rumah gubuknya.


Fatir yang merinding menyetir motornya sampai ke dekat pintu rumah si kakek.


Setelah itu Fatir turun dari atas motornya, lalu menyusul si kakek masuk ke dalam rumah.


Si kakek pun duduk di atas tikar pandan yang telah di anyam, sedang Fatir duduk di atas lantai semen kasar.


“Pulanglah, jangan ikuti pemuda ini.” ucap si kakek pada sosok yang tak bisa di lihat dengan telanjang mata.


“Kek, memangnya ada siapa di belakang ku?” tanya Fatir dengan bulu kuduk yang masih merinding.


“Sosok manusia yang telah menyerahkan jiwanya pada bangsa jin, penguasa kerajaan gunung keramat yang keberadaannya tak bisa di lihat oleh orang biasa,” terang si kakek.


“Kok bisa dia nempel pada ku kek?” tanya Fatir lebih lanjut.


“Untuk menjadikan mu budak di kerajaan nyai Putri Candra Wati, dan manusia iblis yang kau sukai selama ini adalah Asrita, beruntung jin Korin ibu mu menyadarkan mu, kalau tidak kau sudah di bawa ke gunung tersembunyi itu.” wajah si kakek nampak serius saat mengatakannya.


“Aku harus bagaimana kek?” Fatir benar-benar tertekan dengan gangguan yang terus ia alami.


“Kalau kau bersedia, kita bersihkan,” ucap si kakek.


“Baik kek, lakukan yang terbaik.” Fatir menyerahkan segalanya pada kakek tua itu.


Kemudian si kakek membakar kemenyan lebih banyak.


Setelah itu si kakek menuntun Fatir menuju sumur yang ada di belakang rumah si kakek.

__ADS_1


Disana terdapat banyak sekali tumbuh berbagai jenis bunga.


“Kau perlu mandi bunga 7 rupa,” ucap si kakek.


“Baik kek.” Fatir yang ingin hidup normal mengikuti saran si kakek.


Kemudian si kakek mengambil tumpukan bunga segar yang baru ia petik dari atas nampan plastik, setelah itu si kakek menaburkannya ke dalam sebuah ember besar dengan mulut yang terus komat kamit.


Setelah ajian mantra selesai, si kakek menoleh pada Fatir.


“Buka baju mu, gunakan kain basah yang disana,” titah si kakek


“Iya kek.” Fatir pun melakukan setiap perkataan si kakek.


Dengan cepat Fatir membuka bajunya. Saat dadanya yang seksi tak di tutupi apapun, Fatir pun dapat merasakan ada hembusan napas berulang kali di bagian pusarnya.


“Dasar setan laknat!” si kakek yang merasa jijik melempar sebuah kerikil ke arah Fatir.


Duar!


Fatir pun dapat mendengar ada sebuah ledakan kecil di hadapannya.


“Yang tadi apa kek?” tanya Fatir.


“Setan itu menjilati tubuh mu!” pekik si kakek.


“Oh.” Fatir menundukkan kepalanya.


Selesai memakai kain basah, Fatir duduk di atas bangku yang telah di sediakan si kakek.


Kemudian si kakek mengguyur tubuh Fatir dengan gayung tempurung.


Saat air yang tercampur bunga 7 rupa itu mengguyur seluruh tubuhnya, Fatir merasakan sakit yang luar biasa.


“Perih kek!” Fatir merasa badannya seolah di sayat pisau.


“Itu efeknya, nanti juga hilang sendiri, beruntung kau lewat sini, kalau tidak iblis itu akan mengikat mu, memperdaya mu, hingga keluar dari ajaran Allah,” terang si kakek.


“Aku mengerti kek.” Fatir yang kesakitan tak banyak mengeluh.


Setelah melewati prosesi mandi yang begitu menyakitkan, Fatir merasa tubuhnya jauh lebih ringan.


“Ayo, masuk ke dalam,” ujar si kakek.


“Iya kek.” Fatir yang baru selesai memakai baju tiba-tiba ingin muntah.

__ADS_1


Hoek!


...Bersambung......


__ADS_2