
“Hati seseorang siapa yang tahu. Ayo, kita urus jenazah ayah mu.” Raja pun menuju kamar Marhan.
Mereka semua membantu memindahkan jasad Marhan ke ruang utama.
Seketika hati Dia hancur, karena telah kehilangan kedua orang tuanya.
🏵️
3 hari kemudian, Dia yang masih berduka di kunjungi oleh Angga.
“Terimakasih sudah baik pada ku.” Dia menundukkan kepalanya, sebab ia malu saat mengingat sifat sombongnya pada Angga.
“Tidak apa-apa, apa kau mau ikut ke rumah Ali, Reza juga sedang menuju kesana.” Angga ingin menghibur Dia yang selalu menyendiri.
“Baiklah.” Dia pun setuju, karena ia sendiri merasa tak nyaman dengan rumah masa kecilnya yang kini hanya ia tinggali sendiri.
Bayang-bayang ibu dan ayah masih ada di hati ku, semoga ayah dan ibu Husnul khatimah, maafkan aku, karena tidak bisa membahagiakan kalian ayah, dan ibu, batin Dia.
Kemudian keduanya pun berangkat menuju rumah Ali.
Selama perjalanan Dia hanya menatap lurus ke arah depan, ia masih terbayang-bayang akan peristiwa naas yang mereka lalui selama ini.
Angga yang menyetir paham akan apa yang Dia alami.
Ia pun membiarkan Dia dalam kesendiriannya.
Saat Angga masih fokus menyetir, tiba-tiba handphonenya berdering.
Ia pun mengangkat telepon yang ternyata dari Reza.
Ada apa, Za? 📲 Angga.
Aku sudah sampai, tapi aku tidak melihat rumah Ali dimana pun. 📲 Reza.
Masa sih, kau sudah tanya orang-orang sekitar? 📲 Angga. ok
Belum, baiklah aku tanya dulu. 📲 Reza.
Oke, kami sebentar lagi juga mau sampai. 📲 Angga.
Ya sudah, kalau begitu aku tutup dulu. 📲 Reza.
Setelah sambungan telepon terputus, Dia pun bertanya pada Angga.
“Reza bilang apa?”
“Katanya dia tidak menemukan rumah Ali, aneh banget kan?” ucap Angga.
“Mungkin di renovasi,” ujar Dia.
“Bisa jadi sih.” Angga setuju dengan pendapat Dia.
Setelah beberapa saat dalam perjalanan, Angga dan Dia sampai di lokasi tujuan. Keduanya pun turun dari dalam mobil.
“Bagaimana? Ketemu enggak?” tanya Angga.
__ADS_1
“Ketemu, kata warga sekitar, orang tua Ali tinggal di ujung desa, mereka sudah 2 bulan ada disana.” Reza memberitahu informasi yang ia dapat.
“Baiklah, ayo kesana.” Angga dan Dia pun masuk ke mobil Ali, sedang Reza ke mobilnya.
Keduanya pun berangkat beriringan menuju rumah baru orang tua Ali.
Selang 7 menit mereka pun sampai, ketiganya terkejut bukan main, karena rumah yang di tinggali oleh keluarga Ali begitu mewah, megah dan besar, pekarangannya juga luas.
Rumah itu sangat indah, siapapun yang melihatnya, pasti menginginkannya.
Angga dan Reza pun membunyikan klakson, agar satpam yang berjaga membuka pagar untuk mereka.
Sang satpam pun langsung membuka pagar untuk kedua mobil yang datang ke rumah majikannya.
“Mau kemana tuan?” sapa sang satpam.
“Apa benar ini rumah bu Wahyuni?” tanya Angga.
“Iya, benar tuan,” ujar sang satpam.
“Kita mau bertemu, apa bu Wahyuninya ada di rumah?” tanya Angga kembali.
“Ada tuan, silahkan masuk.” sang satpam pun membuka pagar semakin lebar, hingga mobil yang di kendarai Reza dan Angga dapat melaju bersamaan.
Setibanya di pintu utama, ketiganya turun dari dalam mobil.
Wahyuni yang ada di teras melihat kedatangan teman-teman anaknya.
“Angga, Reza.” Wahyuni tersenyum pada ketiganya.
“Kabar baik, kalian jugakan?” senyum Wahyuni yang tiada lepas membuat, Angga, Reza dan Dia merasa aneh.
Sebab Wahyuni tak menunjukkan rasa kehilangan sama sekali pada Ali anak kandungnya.
“Ya, seperti yang tante lihat,” ujar Angga.
“Ayo masuk.” Wahyuni menuntun para tamunya untuk masuk ke dalam rumah.
“Bibi, tolong buatkan jus semangka segar untuk mereka,” titah Wahyuni.
“Baik nyonya.” Kemudian sang Art menuju dapur untuk mempersiapkan permintaan majikannya.
“Ayo duduk anak-anak,” ucap Wahyuni.
Mereka bertiga pun duduk di atas sofa yang nampak mahal.
“Tante, tujuan kami datang kesini untuk memberitahu, kalau Ali u hilang pada saat pendakian.” Reza pun mulai menceritakan kronologi kejadian selama mereka di gunung itu.
“Apa boleh buat, mungkin itu sudah takdir Tuhan, kalau kalian saja bilang tidak akan bisa pulang, lalu tante bisa apa?” sikap ikhlas Wahyuni membuat ketiganya merasa aneh.
“Maaf tante, kami lalai,” ucap Angga.
“Tidak apa-apa, lagi pula sudah terjadi, tante tidak mau menambah beban pikiran, maklumlah, tante sudah tua, yang terjadi biarlah terjadi .” Wahyuni merasa tenang tanpa ada rasa sedih di wajahnya.
Karena tak ada keluhan dari ibunya Ali, mereka bertiga pun memutuskan untuk pulang.
__ADS_1
“Ini kunci mobil Ali tante.” Angga mengembalikan kendaraan temannya pada orang tuanya langsung.
“Untuk mu saja.” Wahyuni memberikan mobil pribadi anaknya pada orang lain secara cuma-cuma.
“Enggak tante, terimakasih banyak.” Angga menolak pemberian Wahyuni.
“Terima saja, disini juga hanya membuat sampah.” Wahyuni tak ingin melihat kenangan anaknya di depan matanya.
“Tidak tante, ini tidak pantas untuk ku.” Angga tetap menolak meski Wahyuni memaksa .
Karena Angga tak mau, Wahyuni pun mengantongi kunci mobil anaknya.
“Kami pamit dulu Tan, karena kita masih ada kegiatan lain, mohon maaf kalau ada kata-kata yang menyakiti hati tante.” Angga menjabat tangan Wahyuni.
“Iya nak.” Wahyuni mengelus puncak kepala Angga.
“Kita pergi dulu tan.” Dia mencium telapak tangan Wahyuni.
Pada saat giliran Reza, ia pun tak menatap wajah Wahyuni.
“Sehat selalu tante.” ucap Reza, setelah itu Reza keluar dari rumah Ali dengan tergesah-gesah.
Dia dan Angga pun menyusul Reza. Pada saat mereka tiba di pintu utama.
Angga memegang pundak Reza. “Kenapa kau meninggalkan kami? Jalannya santai saja, Za!” ucap Angga.
“Ayo masuk ke dalam mobil!” Reza enggan menjawab pertanyaan Angga.
”Baiklah,” sahut Angga.
Kemudian mereka masuk ke dalam mobil. Reza yang mengemudi melajukan mobilnya dengan cepat meninggalkan rumah besar Ali.
Setelah mereka sampai ke jalan raya, Reza yang bungkam mulai bercerita.
“Tadi aku lihat Ali berdiri di sebelah ibunya.” Reza mengatakan apa yang ia lihat.
“Benarkah?” Dia yang duduk di belakang memegang sandaran bangku Reza.
“Iya benar, aku jadi syok, kalian tahu, Ali kurus banget, kantong matanya lebar, dia bilang pada ku, kalau dia di tumbal kan ibunya untuk mendapatkan kekayaan dari nyai Putri,” terang Angga.
“Masa sih? Kok bisa setega itu, bukannya dia ibu kandung Ali?” Dia merasa kecewa dengan sikap Wahyuni.
“Itu ibu tirinya, tante Wahyuni tahu soal sejarah keluarga Ali, makanya dia mengorbankan Ali atas pengaruh jin Korinnya Rita.” Reza geleng-geleng kepala.
“Andaikan kita tidak kesana, pasti semuanya tidak akan seperti ini,” ujar Angga.
“Nasi sudah menjadi bubur, kita hanya bisa berdoa untuk mereka,” ucap Dia.
“Setuju." Angga sependapat dengan Dia.
“Ya sudah, semoga mereka semua bahagia di alam sana.” Reza pun tak mau lagi membahas soal teman-temannya. Ia sudah ikhlas atas semua yang terjadi.
Sejak saat itu, Angga, Dia dan Reza menjadi lebih akrab dan menjaga satu sama lain, terutama Dia.
Ia yang sebatang kara kini tinggal bersama keluarga Angga, sebab ia tak bisa menetap di rumahnya, karena terkadang ia masih melihat makhluk lelembut di dalam rumahnya.
__ADS_1
...Bersambung......