
Mereka semua pun mengikuti si kakek sampai ke rumahnya yang terletak tak jauh dari kaki gunung.
Rumah panggung bambu dengan atap ijuk menjadi tempat tinggal si kakek dan istrinya.
“Silahkan masuk,” ucap si kakek.
Angga dan kawan-kawan pun masuk ke dalam rumah si kakek tersebut secara bergiliran.
Setelah mereka semua duduk, istri si kakek membawa kopi berjumlah 5 cangkir.
Pada hal kita baru datang, tapi si nenek sudah langsung membawa kopi? batin Angga.
Si nenek pun menghidangkan kopi buatannya di hadapan masing-masing tamunya.
“Ayo anak-anak, silahkan di minum,” ucap si nenek dengan suara bergetar.
Angga dan teman-temannya pun mulai menyeruput kopi hitam pekat itu.
“Enak,” celetuk Dia.
“Apa kau suka nak?” tanya di kakek.
“Iya kek,” sahut Dia.
Kemudian si kakek menoleh ke arah Angga. “Harusnya kau seperti dia nak, harus bisa bersyukur dengan apa yang kau dapatkan miliki, jangan memaksakan diri bila tidak mampu, dan jangan pernah mengambil apa yang bukan milik mu.” si kakek tahu niat Angga untuk naik gunung.
Sontak Angga menundukkan kepalanya, ia sangat menyesal pernah memiliki sifat serakah dalam hatinya.
“Maafkan aku kek, aku bersalah.” Angga menyesal dengan kesalahan uang telah ia lakukan.
“Beruntung kalian masih bisa selamat, berterimakasih lah pada mendiang kakek buyut mu, karena dialah yang meminta ku untuk menjemput, dan menuntun kalian pulang,” terang si kakek.
“Jadi orang yang ku temui dalam mimpi ku itu buyut ku, kek?” tanya Angga memastikan.
“Iya, dia datang pada ku, dan menceritakan semua perbuatan buruk yang telah kalian lakukan, bukan pekerjaan mudah untuk bernegosiasi pada penghuni gunung itu.” terang si kakek.
__ADS_1
”Maksudnya kek?” tanya Reza, karena ia tak mengerti dengan apa yang di sampaikan kakek tua itu.
“Tunggu, biarkan aku bernapas sebentar,” ujar si kakek.
Tik!
Si kakek menyalakan api rokoknya, karena ia merasa lidahnya terasa asam.
Wuss!!!
Si kakek yang terlihat lelah menghisap rokok buatannya sendiri.
“Apa kalian tahu, untuk menyelamatkan kalian berempat, ada dua orang yang harus di korbankan.” si kakek memijat pelipisnya yang terasa sakit.
“Apa itu Ali dan Meli?” ucap Dia.
“Iya, gadis itu tidak bisa di bawa pulang, karena telah melakukan perbutan tercela dengan bangsa jin yang menyerupai dirimu,” si kakek menoleh ke arah Reza.
“Maaf kek, semua salah ku, aku yang tak bisa menjaga diri.” Reza menyalahkan dirinya atas petaka yang menimpa Meli, sang kekasih hati.
“Minta maaflah pada mereka yang ada di gunung, dan orang tua dari Meli dan juga Ali, karena jujur saja, mereka tidak akan bisa kembali ke alam kita, apa lagi Ali, kini dia telah memiliki anak-anak bersama nyai Putri,” si kakek pun kembali mengisap rokoknya.
“Semua sudah terjadi, ke depan bersikaplah lebih baik, jaga tata kerama,” ucap si kakek.
“Iya kek, ini adalah pelajaran besar untuk kami, tapi kenapa gunung ini bisa terkutuk?” Heru penasaran dengan sejarah gunung itu.
“Oh iya, kakek hampir lupa untuk menceritakannya.” kemudian si kakek duduk bersila menghadap ke empat tamunya.
“151 tahun yang lalu, di atas gunung ada sebuah perkampungan, warga disana hidup dengan makmur, dan juga rukun, sampai seorang dukun wanita masuk ke desa itu.” si kakek mengingat kisah yang pernah di ceritakan kakeknya padanya.
“Namanya Asrita, dukun yang menuntut ilmu hitam, awal mula dia tinggal disana semua baik-baik saja, sampai pada saat ia tahu kalau gunung itu menyimpan banyak emas, Asrita yang ingin memiliki semua emas itu mulai memanggil para ajudannya dari tempat ia berasal.” si kakek yang ke habisan kopi pun meminta tambah pada istrinya.
“Lalu? Apa yang terjadi selanjutnya?” tanya Dia dengan penasaran penuh.
“Tunggu sebentar, kakek bernafas dulu,” ujar si kakek.
__ADS_1
“Baiklah kek, maaf kalau sudah mendesak,” ucap Dia.
“Tidak apa-apa nak.” si kakek pun meminum kopi yang telah di tuang istrinya.
“Asrita di bantu 3 ajudannya mulai menggali area gunung yang memiliki sumber emas, Asrita juga mengutus para peliharaan tak kasat matanya untuk mengerjakannya, mereka dapat banyak, sayangnya tanah yang mereka galih tak di tutup kembali, 1 tahun kemudian, warga desa yang memiliki acara adat melintas di daerah yang telah di lubangi, ramainya warga yang yang berjalan di atas tanah yang sudah tak utuh menjadi amblas, semua orang yang jatuh pun meninggal dunia,” terang si kakek.
“Apa tak ada satu orang pun yang hidup?” tanya Heru.
“Tidak ada, tapi ada saksi pada saat kemalangan itu terjadi, dialah kakek ku, kakek ku pun mengatakan semua yang ia saksikan pada tetua desa dan jajarannya, kepala Desa yang juga orang pintar mulai mencari tahu, siapa dalang dari kecelakaan itu terjadi, hingga mereka mengetahui, kalau Asrita adalah penyebab segala kemalangan itu.” rokok si kakek yang telah habis membuatnya mengisap pinang sebagai gantinya.
“Asrita yang ketahuan pun langsung di tangkap, awalnya dukun jahanam itu tidak mengaku, sampai pada saat ia di hukum, kepala desa membakar kedua kaki indah Asrita.”
...Flash Back!...
“Mengakulah! Kalau tidak, seluruh tubuh mu akan di lahap si jago merah!” Tio sang kepala desa mengancam Asrita.
“Baiklah, aku mengaku salah, itu semua ku lakukan untuk menjadi orang kaya.” Asrita mengatakan alasannya yang sebenarnya.
“Kalau kau hanya mencuri masih bisa ku maafkan, tapi kau tak memperbaiki apa yang kau rusak, karena kelakuan mu, 25 nyawa melayang! Kejam sekali dirimu!” kepala desa yang marah menyiram minyak tanah lebih banyak ke kedua kaki Asrita.
“Ampun... huah... ampun!!” Asrita yang di ikat dengan rantai di sebuah pohon besar mengangguk histeris.
“Kau tidak layak hidup!” Tio tak bisa memaafkan perbuatan keji Asrita.
“Jangan bunuh aku, karena kalau aku mati, aku akan menghantui kalian, dan tidak ada satu orang pun yang akan berumur panjang apabila tinggal di desa ini!” Asrita yang tak sadar diri mengancam Tio dan ke empat rekannya.
“Manusia laknat! Kalau begitu aku tak perlu ragu untuk mencabut nyawa mu!” Tio menyiram seluruh tubuh Asrita dengan minyak tanah yang ada dalam bambunya.
“Huah!!! Huahhh!! Sakit!!! Ku kutuk kalian semua, akan segera menyusul ku mati!!! Hiks!?? Huah!!!” Asrita berteriak kesakitan.
Kulitnya yang indah mulai melepuh, perutnya yang bidang pun meletus, Asrita si dukun ilmu hitam akhirnya berakhir menjadi debu.
Setelah selesai melakukan pembakaran, Tio dan ke empat rekannya memungut semua debu dan juga tulang Asrita.
Kemudian mereka memasukkan debu Asrita ke dalam sebuah kendi, dan menguburnya di di sumber emas batangan yang belum selesai Asrita keruk.
__ADS_1
“Biarkan dia istirahat dengan emas-emas yang membuatnya membunuh banyak orang,” ujar Tio.
...Bersambung......