
Karena sudah sama-sama sepakat, akhirnya mereka langsung melaksanakan apa yang telah di tentukan.
Seluruh warga yang tersisa bekerja sama untuk membuat kijing makam yang langsung menyatu dengan batu nisannya, mereka memanfaatkan tanah liat sebagai bahan pembuatan dinding makam tersebut.
Setelah selesai, mereka semua memutuskan untuk turun gunung, tak ada barang yang mereka bawa selain baku yang mereka pakai.
Tejo dan seluruh warga desa lainnya mengikuti Rahman.
Rahman yang tinggal di kota pun memberikan mereka semua tempat tinggal untuk sementara waktu sebelum menemukan rumah untuk mereka tempati nantinya.
Malam harinya, saat Tejo sedang tidur di kontrakan milik Rahman.
Ia pun bermimpi bertemu dengan almarhum Tio.
“Tolong bebaskan aku, penyihir itu masih berkeliaran disini, ku harap kau bisa mengurungnya agar tak mencelakai orang lain lagi,” ucap Tio.
Setelah mengatakan permintaannya, Tio pun di seret menggunakan rantai yang terlilit di lehernya oleh penjaga berkepala manusia dan bertubuh ular.
“Pak Tio! Jangan bawa pak Tio!!” Tejo mengejar Tio yang merintih kesakitan.
Namun penjaga yang menyeret tubuh Tio jalannya begitu cepat, hingga Tejo tak dapat menyusulnya.
Pada saat Tejo berdiri di 4 persimpangan jalan setapak, ia bingung harus memilih jalan yang mana.
Ia pun berdo'a pada sang pencipta agar memberi petunjuk padanya.
“Ya Allah, beri aku petunjuk untuk memilih jalan yang benar, hamba sangat ingin menolong teman hamba, tolong aku ya Rahman, aamiin.” setelah selesai berdo'a, Tejo pun memilih jalan setapak yang ada di sebelah kirinya.
Kakinya yang jenjang mulai berlari mencari sang kepala desa.
Saat ia sedang sibuk melihat ke kiri dan kanan , tiba-tiba ia melihat seorang gadis datang bersama kedua orang tuanya.
Pakaian gadis itu terlihat berbeda dengan orang-orang yang ia temui sehari-hari.
Ia yang penasaran pun mendekat pada keluarga kecil itu.
“Sedang apa kalian disini?” tanya Tejo.
“Hanya mendaki.” ucap gadis muda lengkap dengan pakaian serba tertutup, gadis itu juga menggunakan tas besar di punggungnya.
“Apa kalian tidak tahu kalau disini berbahaya? Pulanglah, nanti kalian akan jadi korban,” ujar Tejo.
“Kami kesini untuk mengambil emas,” ucap Risma.
__ADS_1
“Emas? Apa kalian tak tahu kalau itu di larang? Kembalilah kalian, kalau tidak, kalian akan mati disini!” pekik Tejo.
Ia takut jika keluarga kecil itu ikut celaka jika berada lebih lama disana.
“Rita, sebaiknya kita pulang, sebetulnya ayah juga kurang setuju kalau kita mengambil barang yang bukan milik kita.” Feri tak ingin berbuat sembarang di tempat yang tidak mereka kenal.
“Tidak, ayah! Kalau kita benar-benar mendapatnya, kita akan jadi kaya!” Rita yang biasa hidup susah, ingin segera menjadi kaya.
“Siapa yang memberitahu mu, kalau disini ada emas?” tanya Tejo penuh selidik.
“Dari nenek buyut ku, Asrita!” jawab Rita.
Duar!!!
Bak tersambar petir, Tejo tak mengira jika ia bertemu dengan cucu si dukun ilmu hitam dari masa depan.
“Pulanglah! Kalian pasti kualat kalau terus melanjutkan langkah kalian.” Tejo kembali memperingati keluarga Rita.
”Tidak, buyut ku bilang, itu adalah warisannya pada ku.” Rita yang bebal tak mau mendengar peringatan dari Tejo.
”Benar, saya mau ikut, karena mendapat mimpi itu sejak saya kecil, tapi baru saat ini saya bersedia datang kemari,” ujar Feri.
”Apa benar Asrita buyut kalian?” tanya Tejo penuh selidik.
Tejo yang ingin melarang, tiba-tiba mendapat serangan dari sosok tak kasat mata. Mulutnya di bekap agar tak bisa bicara lagi.
Keluarga Rita yang telah termakan dusta dari nenek buyut mereka melanjutkan perjalanan mereka kembali.
Tejo yang kini jadi bisu hanya bisa mengikuti keluarga Rita dari belakang.
Ia pun melihat keluarga Rita dengan mudah menemukan emas batangan yang tertimbun dalam tanah di dekat makam para warga desa yang menjadi korban Asrita dan juga nyai Putri.
Saat keluarga Rita yang asik mengambil tumpukan emas batangan, tiba-tiba 3 ekor ular king kopra berukuran 13 meter datang dari atas bukit tak jauh dari tempat Rita dan ayah ibunya sedang panen emas batangan.
Tejo yang ingin memberitahu tak bisa bicara apa lagi mendekat, tubuhnya seperti di tahan oleh sesuatu yang tak bisa ia lihat.
Keluarga Rita yang masih asyik mengumpulkan emas tidak tahu kalau 3 ular ganas itu telah berdiri seraya mengembangkan kepalnya.
Sssttt!!
Rita yang mendengar sinyal bahaya itu langsung menoleh ke belakangnya.
Tab tab tab!!!
__ADS_1
Sayang ular itu langsung mematuk leher, hidung dan juga kaki Rita.
“Rita!!!” Feri dan Risma berteriak histeris. Mereka yang ingin menolong anak mereka harus terlarang, karena 2 ekor ular yang juga mengintai mereka mulai melakukan penyerangan.
Tab tab tab!
Risma dan Feri pun ikut meregang nyawa menyusul putri mereka.
Tejo kembali berduka melihat ada orang yang meninggal di depan matanya.
Tejo pun tertunduk lesu, saat ia masih berkabung, tiba-tiba ia mendengar banyak suara yang sedang bercengkrama.
Ia pun menegakkan kepalanya, lalu ia melihat Rita yang telah meninggal kembali ke gunung itu dengan penampilan yang sama membawa teman-temannya.
Tejo yang tak berdaya hanya bisa menyaksikan kemalangan menimpa 7 sewakan itu.
“Paman, paman!” Rahman membangunkan Tejo yang bercucuran keringat.
Tak lama Tejo pun bangun dari tidurnya dengan badan yang terasa sangat pegal
“Pada hal cuma mimpi, tapi kok rasanya cape banget.” Tejo memijat bahunya yang terasa berat.
Rahman yang mendengar pun langsung duduk di pinggir ranjang Tejo.
“Itu bukan mimpi biasa, sampaikan pada seluruh keturunan mu, untuk tidak pergi ke gunung itu!” Rahman memberi peringatan keras pada Tejo.
”Yang mana?” tanya Tejo dengan penasaran penuh.
“Yang memakai baju hijau, namanya Ali! Dia akan menjadi incaran utama para siluman itu,” ucap Rahman.
“Bagaimana ini? Ya Tuhan, sampai ke turunan ku juga ikut terkena kutukan Asrita!” Tejo tak ingin keturunannya mendapat kemalangan itu.
“Cucu ku juga ada disana, aku tak menyangka, Asrita akan menuntun cucunya untuk satu sekolah dengan cucu ku, Angga.” Rahman khawatir dengan nasib cucunya di masa depan.
“Kita harus bagaimana, Man? Ini tidak bisa di biarkan terjadi.” Tejo menanyakan pendapat Rahman kembali.
“Jaga mereka dari jarak jauh, dan menyampaikan pada anak-anak kita, hanya itu yang bisa kita lakukan, kita bisa mengubah takdir, kematian itu tidak akan terjadi, kalau kita melindungi tepat waktu,” ucap Rahman.
“Aku mengerti, akan ku lakukan sesuai saran mu.” Tejo pun bertekad untuk melakukan apa yang Rahma sarankan.
“Aku pergi dulu, paman.” Rahman bangkit dari duduknya.
“Kemana, Man?” tanya Tejo.
__ADS_1
...Bersambung......