
Angga menghela napas panjang, karena dirinya hampir saja menjadi suami siluman ular.
“Paman, tolong Angga. Aku khawatir kalau para lelembut itu terus mengganggunya.” Sulas meminta bantuan Raja.
“Baiklah, nanti kita akan melakukan pembersihan, aku juga melihat kalau kedua teman mu ketempelan,” ujar Raja.
Mendengar kabar buruk dari kakeknya Angga merasa cemas, apa lagi saat ia ingat Dia, gadis yang ia sayangi.
“Tolong bantu kami semua kek.” Angga ingin mereka yang tersisa panjang umur.
“Akan kakek usahakan,” Raja mengangguk kepalanya.
🏵️
Dia yang ada di kamar mandi, mengguyur tubuhnya dengan shower.
Dia yang menikmati mandi air panas tiba-tiba mendapat sebuah bisikan.
“Kau pikir semuanya sudah aman?” ucap seorang nenek tua. Sontak Dia menoleh ke sumber suara.
“Akh!!!” Dia berteriak, karena wanita tua dengan rambut yang sudah memutih berdiri tepat di depan wajahnya.
“Ihhihihihi! Petaka ini tidak akan berakhir sebelum kau mati,” ucap si nenek tua.
“Dasar setan sialan!” Dia yang marah melempar botol sabun cairnya pada wanita tua itu.
Wanita tua itu pun tertawa cekikikan, lalu menghilang.
Dia langsung menyudahi mandinya, ia pun segera keluar dari dalam kamar mandi.
Saat Dia membuka pintu lemari bajunya, ia berteriak histeris karena banyak ular yang keluar dari sana.
“Aaakkh!!” Dia yang ketakutan keluar dari dalam kamarnya hanya dengan memakai handuk.
“Ayah!! Tolong!!!” Dia meminta bantuan pada Marhan.
“Ada apa Dia??!” tanya Martini yang datang dari arah dapur.
“Ada banyak ular dalam kemari ku bu,” ujar Dia.
“Kok bisa?” Martini tak percaya dengan yang di katakan Dia.
“Aku enggak tahu bu, seram banget! Tolong aku bu!!” Dia yang ketakutan menjadi hilang kontrol.
“Tenang Dia, ibu akan periksa, kau pakai baju ibu dulu, ambil di kamar ibu,” ucap Martini.
“Memangnya ayah tidak di kamar bu?” tanya Dia.
“Ayah sudah pergi bekerja, cepat pakai baju, ibu akan ambil bambu ke dapur,” ujar Martini.
__ADS_1
“Iya bu.” Dia pun dengan cepat pergi ke kamar ibunya.
Sedang Martini menuju dapur untuk mengambil bambu.
Dia yang telah sampai ke kamar orang tuanya seketika tersentak saat melihat ayahnya sudah tak bernyawa.
Di kaki ayagnya terdapat dua ekor ular yang tak hentinya menggigit kaki Marhan.
“Bukannya ibu bilang kalau ayah bekerja?” Dia sadar, jika yang tadi bersamanya bukanlah ibunya.
Dia yang ketakutan mundur teratur, saat ia membalik badan, ia pun melihat Martini telah ada di depan pintu.
“Kenapa belum pakai baju nak?” suara Martini yang tenang membuat Dia merinding.
“I-iya bu.” meski begitu Dia pura-pura tak tahu kalau yang ada di hadapannya bukanlah ibunya yang asli.
Dia pun dengan hati-hati mengambil baju ibunya dari dalam lemari.
Ekor matanya pun tak hentinya mengawasi Martini, ia takut jika Martini yang memegang bambu masak di tangannya akan menghabisinya.
Setelah selesai memakai baju, Dia berjalan dengan perlahan menuju Martini.
“Bu, ku rasa kita perlu meminta bantuan, pasti sulit dan bisa juga membahayakan nyawa kita kalau hanya kita yang membunuh ular-ular itu.” Dia beralasan demikian untuk melarikan diri.
“Percaya pada ibu, ibu akan melindungi mu.” Martini yang cerdas tak mau memberi celah pada Dia.
Alhasil Dia mengikuti ibu palsunya menuju dapur.
Bagaimana ini, siapapun tolong aku!!! batin Dia.
Martini yang memegang bambu tersenyum penuh makna.
Dia yang melihat itu langsung menaruh curiga. Ia merasa Martini palsu akan mencelakainya.
Sontak Dia melepaskan tangannya dari Martini.
“Bu, aku akan panggil warga!” Dia yang ingin pergi di cegah oleh Martini.
“Jangan kemana-mana, kita disini saja nak.” Martini mengangkat bambu yang ada di tangannya.
“Maaf bu, aku harus pergi.” Dia pun melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumahnya.
“Berhenti!!!” Martini yang gusar berteriak. Kemudian ia pun melempar bambunya.
Puk!
Martini mengenai punggung Dia dengan mudah.
Bruk!!
__ADS_1
Dia pun terjatuh ke lantai. Dia yang akan berdiri harus terhalang, karena Martini meletakkan kakinya di punggung gadis cantik itu.
“Anak nakal harus di hukum!” kemudian Martini berjongkok dan menjambak rambut Dia.
“Lepaskan aku!!” Dia yang ingin melawan tak bisa berbuat apapun, karena tenaga Martini Palsu tak dapat ia imbangi.
“Ternyata aku sudah ketahuan.” Martini palsu pun merubah wujudnya menjadi nenek tua yang menggangu Dia sewaktu mandi.
“Kau!” mata Dia membulat sempurna.
“Jaga sopan santun mu sedikit, yang seperti mu pasti enggak akan laku di alam kami.” si nenek tua berencana membawa jiwa Dia ke alam gaib.
“Berhenti!!” suara Raja yang seperti petir mengejutkan Dia dan nenek tua itu.
“Siapa kau!” pekik si nenek tua.
“Aku Raja, sekarang ku minta pada mu, lepaskan gadis itu.” Raja yang datang bersama kedua temannya serta Angga dan Sulas, masuk ke dalam rumah.
“Kalian datang beramai-ramai karena takut? Eh hehehe..” si nenek tua cekikikan, ia juga meremehkan Raja dan timnya.
“Banyak omong!” Raja dan 2 rekannya langsung berdiri mengelilingi Dia dan si nenek tua.
Mereka yang memegang tasbih di tangan masing-masing mulai berzikir.
“Akhh!! Panas!!!” si nenek tua berteriak kesakitan.
“Cepat pergi iblis! Tempat mu bukan disini!” Raja melemparkan tasbihnya ke tubuh si nenek tua.
“Akhh!! Sakit!!!” si nenek melompat-lompat, karena tubuh dan tempat kakinya berpijak terasa panas.
Raja, kedua rekannya, Angga serta Sulas pun ikut berzikir.
Hingga tubuh si nenek tua mengeluarkan asap, kemudian lenyap tanpa jejak.
Lalu Dia bangkit dari lantai, ia yang selamat menangis sesungukan, sebab ayahnya telah tiada.
Sulas yang iba mendekat dan memeluk Dia yang duduk di lantai.
“Yang sabar ya nak, ini sudah takdir Tuhan, terimalah dengan lapang dada,” ucap Sulas.
“Iya bu.” Dia menganggukkan kepalanya.
Hari kecil Dia sangat menyesal karena sudah membawa petaka untuk kelurganya.
“Rumah ini, banyak penunggunya.” mata Raja. melihat kesana kemari.
“Sebelumnya tidak begitu kek, rumah ku selalu aman-aman saja,” ujar Dia.
“Kau benar, tapi sejak ayah mu menyembah iblis, semua berubah, kau dan ibu mu adalah tumbal yang tertulis dalam perjanjian sesat ayah mu, dan ibu mu sudah lama meninggal, kira-kira 6 bulan yang lalu, harusnya kau juga sudah meninggal, beruntungnya kau yak pulang ke rumah ini, kepergian mu yang begitu lama, membuat ayah mu gagal menepati janji, akhirnya dialah yang harus meregang nyawa,” terang Raja.
__ADS_1
“Ayah ku tidak mungkin melakukan itu, ayah ku adalah orang yang taat agama dan takut pada Allah.” Marhan yang jujur dan berhati luhur membuat Dia sulit menerima apa yang di katakan Raja.
...Bersambung......