Kualat Di Gunung Keramat

Kualat Di Gunung Keramat
Ingin Cepat Kaya (Pusing)


__ADS_3

Namanya adalah Sarah, ia yang baru di pecat dan tak punya uang membuatnya di usir dari kontrakan.


Ia yang bingung harus kemana terpaksa menemui sahabatnya yang bernama Delima untuk meminta solusi atas permasalahan yang ia hadapi saat ini.


“Del, aku harus bagaimana kalau begini? Uang ku sisa 5000 lagi, tempat tinggal aku tak punya, orang tua ku di kampung juga lagi butuh uang, kata ibu ku mereka sudah enggak makan dua hari, tak ada yang mau meminjamkan uang pada mereka.” Sarah menceritakan masalah keluarganya pada Delima.


“Ya ampun Sar, masalah mu itu-itu saja, pada hal aku kan sudah pernah bilang pada mu jauh-jauh hari, lebih baik kau pergi ke gunung itu, persyaratannya enggak sulit, kau tinggal mengabdi pada raja jin yang ada disana, beres!” Delima memberi solusi pada sahabatnya.


“Tapi aku takut, Del! Pasti jin itu !akan meminta tumbal nyawa, aku enggak mau membunuh Delima.” Sarah tak sanggup bila berurusan dengan hal seberat itu.


“Semua ada resikonya Sarah, masa mau hidup enak enggak melakukan apa-apa? Yang benar saja, hum!” Delima menyunggingkan bibirnya.


“Aku bukannya enggak kasih kau minjam, tapi hutang mu 3 tahun yang lalu saja kau enggak bayar, kalau masalah mu di uang dan perut, ikuti saja saran ku, jangan banyak pikir lagi, memangnya kalau orang tua mu mati karena enggak makan hati mu akan senang?” Delima yang telah duluan mengabdi pada raja jin itu terus mempengaruhi Sarah.


Karena ia sendiri telah merasakan kekayaan yang di beri raja jin itu.


“Jujur saja aku mau, tapi aku takut.” Sarah menaikan harinya karena grogi.


“Enggak usah takut, kalau mau aku akan menemani mu, ini demi masa depan mu yang cerah, buat apa cape-cape kerja kalau enggak jadi kaya?” Delima tertawa getir, ia yang punya segalanya menganggap kecil sahabatnya yang miskin.


Sarah yang selalu di selimuti kemiskinan berniat merubah takdir.


“Baiklah, aku setuju Del, tapi kau mau kan menemani ku kesana?” Sarah yang belum


pernah ke tempat itu meminta agar di temani.


“Ya sudah, lebih cepat lebih baik Sar, kebetulan besok aku enggak kemana-man, aku akan mengantar mu kesana, persiapkan mental, karena semua akan berubah setelah pulang disana,” ujar Delima.


“Aku mengerti.” setelah mendapat solusi, Sarah berniat untuk pulang, ia pun meminta pamit pada sahabatnya.


“Aku pulang dulu,” ucap Sarah.


“Kemana?” tanya Delima.


“Ke rumah orang tua ku," ujar Sarah.


“Ya ampun, kesana kan butuh waktu 6 jam sudah, kau menginap disini saja, lagi pula besok kita mau pergi!” Delima melarang Sarah pulang.


“Memangnya boleh?” Sarah takut kalau merepotkan sahabatnya.


“Tentu saja boleh, cepat antar tas mu ke kamar yang itu.” Delima pun menunjuk ke kamar tamu yang dekat dengan ruang tamu.

__ADS_1


“Baiklah, kalau begitu aku ke kamar dulu.” Sarah pun membawa tas ranselnya ke kamar tamu Delima.


Krieeett...


Sarah membuka pintu kamar yang terlihat nyaman dan wangi.


“Beda banget ya kamar orang kaya dan miskin.” Sarah mendaratkan bokongnya ke atas ranjang empuk berharga belasan juta rupiah.


Niat Sarah makin kuat setelah melihat kemewahan rumah sahabatnya.


“Aku juga harus bisa seperti Delima, aku mau ibu dan ayah merasa bahagia, kasihan mereka sudah tua, tapi belum bisa ku bahagiakan.” Sarah merasa sedih dengan keadaan yang ia hadapi selama ini.


Sarah yang merasa ngantuk memutuskan untuk tidur.


Pada pukul 23:58 menit, Sarah yang haus terbangun dari tidurnya.


“Ada makanan enggak ya di dapur?” Sarah pun turun dari ranjang, dan keluar dari dalam kamar.


Saat Sarah melewati kamar Delima, langkahnya pun terhenti, karena ia mendengar sahabatnya tengah merintihh nikmat dalam kamarnya yang pintunya terbuka separuh.


“Bukannya Delima sudah berpisah dengan suaminya 5 bulan yang lalu?” Sarah yakin karena sahabatnya sendiri yang bercerita padanya.


Sesampainya ke dapur, Sarah pun membuka tudung saji.


“Wah... enak banget lauknya.” Sarah tersenyum lebar saat melihat ayam goreng serundeng tersaji di atas meja.


Sarah pun dengan cepat mengambil piringnya, saat ia membuka race cooker, ia kaget bukan main, karena Sarah melihat ada sisik ular di dalam panci race cooker berisi nasi tersebut.


“Apa ini? Kok bisa ada disini?” Sarah yang merasa jijik tak jadi makan.


Ia pun menuju kamar Delima untuk mengatakan apa yang ia lihat, karena ia takut jika rumah sahabatnya di huni ular berbisa.


Setelah berada di depan kamar Delima, Sarah pun membuka pintu kamar sahabatnya dengan sangat pelan.


Karena ia tak tahu, suara nikmat tadi berasal dari sahabatnya atau tidak.


“Aku buka sedikit saja,” gumam Sarah


Saat pintu telah terbuka, matanya membulat sempurna, sebab ia melihat Delima yang tak berbusana sedang bercinta dengan ular anaconda besar.


Mulut Sarah menganga, kakinya kian tak berdaya karena tak sanggup berdiri.

__ADS_1


Dengan perlahan Sarah melangkah mundur, karena ia takut ketahuan oleh Delima.


Setelah cukup jauh, Delima langsung menuju kamarnya, lalu ia mengambil tasnya yang ada di sebelah ranjangnya.


Ketika ia ingin pergi, Sarah memikirkan kembali tujuannya.


“Memangnya aku mau kemana? Rumah aku tak punya apa lagi uang, bisa kemana orang seperti ku.” Sarah pun mendaratkan bokongnya ke atas ranjang.


Keterbatasan finansial membuat kakinya sulit untuk melangkah. Alhasil Sarah menuju pintu.


Retek!


Ia pun mengunci kamar tersebut dan merebahkan tubuhnya di atas ranjang.


“Besok saja aku pulang setelah minta ongkos pada Delima, semoga saja dia mau memberi, akan ku katakan kalau aku enggak jadi pergi ke gunung itu,” gumam Sarah.


Malam itu Sarah tak dapat tidur dengan nyenyak, karena ia masih teringat akan sosok ular pemakan manusia tersebut.


Hingga pagi menjelang, Sarah yang tak bisa terlelap turun dari ranjang seraya menjinjing tas ranselnya.


Ceklek!


Saat ia membuka pintu, ia pun melihat Delima dengan rambut yang basah duduk di atas sofa.


“Del.” Sarah duduk di hadapan sahabatnya.


“Eh, kita mau berangkat sekarang?” Delima berpikir jika mereka akan menuju gunung yang menjadi muasal kekayaannya.


“Setelah ku pikir-pikir, aku belum siap Del, enggak apa-apalah hidup apa adanya, karena aku takut Del.” Sarah tak mengatakan apa yang ia lihat sebenarnya.


“Kok tiba-tiba berubah pikiran sih, Sar? Apa semalam kau melihat ku bersama Raja Garaga?” Delima dapat menebak alasan dari sahabatnya.


“Bu-bukan karena itu.” Sarah gugup saat Delima mengetahui alasannya yang sebenarnya.


“Aku melihat mu tadi malam, Sar... yakinlah, semua tak seperti yang kau pikirkan.” ucap Delima penuh makna.


“Apa pun yang kau katakan, aku enggak siap Del,” ujar Sarah.


Ia yang takut pada ular jelas tak bersedia jika harus bersentuhan dengan makhluk reptil itu.


...Bersambung......

__ADS_1


__ADS_2