Kualat Di Gunung Keramat

Kualat Di Gunung Keramat
Di Kelilingi Masa Lalu (Selamat Tinggal Meli)


__ADS_3

Dia takut sewaktu-waktu ada sosok yang menunjukkan diri padanya.


Dia yang merasa tegang tiba-tiba mendengar suara burung hantu.


Kruk kruk...


Sontak Dia menoleh ke arah ranting pohon yang ada di atasnya dengan hati-hati.


Lalu ia pun melihat burung mata burung hantu yang mengawasinya dengan seksama.


“Permisi, aku hanya ingin lewat.” Dia meminta izin pada burung tersebut.


Kemudian Dia berjalan di bawah burung hantu mengerikan itu.


Dia yang segan menundukkan kepalanya karena tak ingin bertemu mata dengan burung itu lagi.


Duk!


Ia yang tak melihat jalan ke arah depan malah menabrak seseorang.


“Aduh!” sontak Dia mengangkat kepalanya, dan seketika jantungnya mau meledak, karena pocong berkain kafan lusuh telah ada di hadapannya.


Bangsat! Kok bisa ada pocong sih! batin Dia.


“Permisi bang, saya cuma mau lewat, mohon jangan di ganggu.” Dia meminta izin dengan sangat sopan. Hingga pocong buruk rupa itu tersenyum pada Dia.


“Mau di temani enggak dek?” ucap si pocong.


Dia yang takut jalan sendirian tentu tak menolak.


“Kalau abang enggak sibuk, apa salahnya.” Dia pun memanfaatkan si pocong untuk temannya mengobrol.


“Ayo jalan," ujar si pocong.


“Tapi bang, boleh enggak, kalau abang pakai wajah mode tampan? Karena yang sekarang kurang enak di lihat,” Dia mengatakan isi hatinya.


“Tentu saja.” pocong mengerikan itu pun mengubah wajahnya sewaktu masih hidup.


“Nah! Kalau beginikan lebih bagus bang !” Dia mengangkat jempolnya.


“Hahaha... kau bisa saja, ayo! Ku tahu kau buru-buru!” ucap si pocong.


“Iya.” Saat Dia akan melangkah, si pocong menawarkan bantuan.


“Kalau mau, aku bisa menggendong mu, pasti cape kalau jalan dari sini kesana,” ucap si pocong.


“Bukankah kau akan lelah juga?” ujar Dia.


“Tidak, karena sekali melompat bisa sampai 500 meter,” terang si pocong.


“Baiklah, aku mau bang pocong.” Dia pun naik ke punggung si pocong lalu menyilang kan kedua kakinya di pinggang gendut itu.


“Ehm, kau bisa memeluk ku kalau merasa sulit untuk berpegangan,” ujar si pocong.


“Oh iya, abang benar juga.” lalu Dia turun dan melingkarkan kedua tangannya di dada bidang pocong tampan itu.


“Siap?!” si pocong memberi aba-aba.


“Iya bang,” sahut Dia.


Siung!!!

__ADS_1


Si pocong yang bersemangat di peluk wanita cantik langsung melompat tinggi.


Zub!


Dalam sekali lompatan si pocong berhasil membawa Dia ke Sabanah.


Dia yang melihat tasnya di bawa tuyul yang berjumlah 4 orang langsung meminta si pocong untuk menyusul.


“Cepat bang! Sasaran ke tuyul-tuyul nakal itu!” pinta Dia.


“Siap dek!” si pocong kembali melompat dan mendarat tepat di hadapan ke empat tuyul itu.


Dia pun melepas pelukannya lalu berjalan ke para tuyul itu.


“Heh! Ini tas ku, kembalikan!” Dia membentak para tuyul itu.


“Enak saja, kita yang dapat duluan,” ujar tuyul A.


“Tidak! Itu punya ku!” Dia yang kesal menendang bokong tuyul itu satu persatu.


”Jahat! Hiks!!!” Keempat tuyul itu pun menangis sesungukan.


“Siapa juga yang perduli! Kalau nakal ya di hukum!” Dia yang telah mendapatkan tasnya menyandang nya kembali.


”Sudah! Jangan membantah kakak cantik, kalau tidak nanti aku bisa marah!” si pocong pun mengeluarkan banyak ular dari mulutnya.


Dia yang melihat itu langsung menjerit, karena ia sangat takut dengan hewan reptil tersebut.


Si pocong langsung menghentikan aksi mengerikannya, karena wanita cantik yang di hadapannya menjadi histeris.


“Maaf, kalau aku enggak sopan.” si pocong merasa bersalah atas apa yang ia lakukan.


Dia yang marah terpaksa meredamnya, karena ia masih butuh jasa si pocong untuk mengantarnya ke kuburan keramat itu.


“Tentu, asal kau mau jadi istri ku,” ujar si pocong.


Mendengar permintaan gila si pocong Dia merasa jijik, namun apa boleh buat, ia yang butuh tumpangan terpaksa mengangguk setuju.


“Baiklah.” ucap Dia penuh senyuman.


Di rasa telah sepakat bersama si pocong pun kembali mengantar Dia dengan lompatan ekstra.


Siung!!


Bap!


Hanya sekali lompatan Dia sampai di tujuan, Rahman yang melihat Dia telah kembali dengan selamat merasa senang.


“Tolong lanjutkan.” Rahman menyerahkan urusan makam sementara pada Fatir.


“Baik kek,” ucap Fatir.


Kemudian Rahman menuju Dia yang akan kena masalah jika ia tak datang.


“Siapa nama mu?” Sapa Dia dengan lembut.


“Reza,” jawab si pocong.


Mendadak wajah Dia jadi datar, karena ia merasa ada sesuatu yang akan terjadi.


“Reza, ku harap kau cepat kembali.” Dia menggenggam wajah Reza.

__ADS_1


“Kapan kita akan menikah?” tanya Reza.


Rahman yang telah berdiri di sebelah Dia pun, membuat gadis cantik itu leluasa untuk menyampaikan keputusannya.


“Dunia kita berbeda Reza, maafkan aku.” Dia tersenyum pada Reza.


“Pembohong!” Reza marah pada Dia karena telah ingkar janji.


Lalu Rahman pun berkata pada Reza. “Jika kau tak ingin jadi penghuni sini, sebaiknya kau mencari barang mu, Reza!” seketika setan yang membawa-bawa tubuh Reza terpental jauh, dan wajah asli Reza yang di sembunyikan si setan pun kembali seperti semula.


Reza yang kena kerjai seketika tersadar. Ia yang bingung melihat ke segela arah.


“Kenapa aku disini?" Reza heran karena bangun-bangun ia sudah ada duduk antara batang pohon beringin.


Reza yang ingat akan tugasnya segera turun dari pohon tersebut.


Ia yang ingin melangkah pun tiba-tiba teringat, kalau ia meninggalkan tasnya di makam keramat tempat mereka datang.


“Astaga! Kenapa aku jauh-jauh kemari?!” Reza menggaruk kepalanya karena merasa dirimu terlalu bodoh.


Ia pun berjalan kembali menuju makan dengan tergesah-gesah.


Reza yang buru-buru tanpa sengaja menginjak lubang.


Bruk!


ia pun terduduk di tanah. Saat ia ingin bangkit dari rerumputan yang dapat menyembunyikan tubuhnya.


Ia pun tanpa sengaja melihat Meli lewat berjalan kaki tak jauh darinya.


Meli yang dulu langsung kini menjadi sedikit gemuk, karena sekarang Meli telah memiliki anak 10.


Empat dewasa, tiga remaja, tiga anak di bawah umur.


Reza tak berani menyapa karena ia melihat suami Melinda menusuk dari belakang.


“Kasihan Meli, ini semua salah ku.” Reza masih yak bisa memaafkan dirinya yang gagal menjaga Meli.


Setelah keluarga Meli luput dari pandangannya, kemudian Reza kembali melangkah.


Ia yang baru berjalan satu langkah tiba-tiba terhenti, karena Meli yang ada di belakangnya menyapanya.


“Angga, apa kau cari ini?” ucap Meli. Sontak Reza menoleh ke belakangnya.


“Mel?” wajah Reza mendadak sedih melihat Meli yang sudah lama tak bertemu dengannya.


“Ini tas mu, aku sudah lama menyimpannya.” Meli menyerahkan tas gunung Reza kembali.


“Terimaksih Mel, maafkan aku...” Reza menundukkan kepalanya karena merasa malu atas kegagalannya menyelamatkan Meli dari alam itu.


“Iya, mungkin ini memang takdir ku.” Meli tersenyum pada mantannya.


“Kau sudah punya anak berapa?” tanya Angga penasaran.


“25, sudah banyak yang menikah, hehehe...” tawa Meli yang sudah lama tak terlihat membuat Reza ingin menangis.


“Aku pergi dulu Mel, semoga kau selalu bahagia,” ujar Reza.


“Iya, hati-hati, kalau ada yang memanggil nama mu jangan menoleh, fokus ke jalan mu saja, itu caranya agar kau selamat.” Meli pun menjabat tangan Reza.


Reza menerima jabatan tangan Meli dengan menitikkan air matanya.

__ADS_1


“Selamat tinggal Meli.” setelah itu Reza berlari menuju pemakaman keramat yang menjadi tempat mereka berkumpul.


...Bersambung......


__ADS_2