
Setelan itu Reza beranjak meninggalkan Meli dengan berlari, sebab ia takut melewati waktu yang telah di tentukan.
Saat Reza menyisir jalan yang penuh semak belukar, ia pun mendengar banyak suara yang memanggil namanya.
“Reza... Reza... tolong aku, itu kaukan Reza!!!” ucap seorang wanita yang ada di balik semak belukar.
“Dia?!” Reza mengentikan langkah kakinya ketika ia ingin memeriksa ke balik semak-semak, tiba-tiba ia mengingat pesan Meli.
“Astaga, hampir saja aku terperdaya.” Reza yang sadar itu bukan temannya dengan cepat berlari meninggalkan tempat itu.
Reza yang lari terbirit-birit di ejek oleh pada kuntilanak yang duduk di ranting pohon besar yang ada di atas kepalanya.
“Hihihihihi... Reza! Gendong dong!” tawa kuntilanak yang begitu melengking membuat Reza merinding dan ingin pingsan saat itu juga.
Namun Reza yang masih ingin hidup tak mau patah semangat, ia terus menahan rasa takutnya meski kini 2 anak kecil tanpa kaki dengan wajah penuh darah sudah bertengger di kedua bahunya.
“Hihihi... buruan om! Kalau sebentar lagi fajar loh!” 2 anak kecil itu terus mendesak Reza.
“Aku tahu anak-anak nakal!” Reza yang merasa kedua anak kecil itu menjadi beban untuknya dengan cepat mengambil tindakan.
Pak!
Pak!
Ia pun memukul kepala anak kecil itu secara bergiliran, hingga keduanya jatuh ke tanah.
“Om... tunggu om...” ucap anak kecil A yang menyukai Reza.
“Diam di situ sialan!” Reza merasa ngeri, saat kedua anak kecil itu mengejarnya dengan berjalan menggunakan tangan.
“Om! Jangan cepat-cepat om!” ucap anak kecil B dengan tawa khas anak laki-laki 5 tahun.
“Bangsat! Aku mau pulang!” Reza yang merasa geli langsung mengencangkan larinya, hingga ia melihat kuburan keramat itu kembali.
“Tolong!!!!!” teriak Reza yang butuh bantuan.
Dia yang melihat Reza di kerjai langsung berlari ke arah Reza.
Sedang Rahman dan Fatir fokus menutup batin nisan yang belum tertutup.
“Apa tidak apa-apa kalau dia yang menanganinya kek?” tanya Fatir, ia khawatir gadis cantik itu tak bisa mengatasi 2 makhluk halus itu.
“Dia sudah berpengalaman,” ujar Rahman.
“Oh, begitu ya.” Fatir percaya jika Rahman yang mengatakannya.
“Dia!!! Jangan kesini!” Reza takut jika mantan kekasihnya kena ganggu juga.
Sedang Dia yang telah bosan dengan bocah-bocah lelembut yang membuatnya marah dengan cepat memberikan tendangan mautnya.
“Hiak!!!!”
Puk!!!!
Dia menendang anak kecil A hingga terlempar sejauh 100 meter.
“Kau mau juga?!” Dia memelototi anak kecil B.
“Kalau berani melukai ku kau akan ku gigit!” pekik anak kecil B.
“Apa? Kau berani melawan pada kakak? Anak nakal!” Dia yang emosi dan lelah di permainkan gunung keramat itu langsung menarik tangan anak kecil B.
__ADS_1
Plak! Plak!
Ia pun memukul bokong anak kecil B berulang kali, keberanian Dia yang begitu mencengangkan membuat Reza merasa kagum.
“Ampun kak, ampun, Hiks...” anak kecil B menangis histeris.
“Astaga! Kau buat aku naik darah!” setelah menuntaskan amarahnya, Dia melepaskan anak itu.
Anak kecil B pun lari menjauhi Dia yang lebih galak dari para manusia palasik yang suka memakan janin manusia.
Reza yang merasa terbantu pun memeluk Dia dengan erat.
“Terimakasih banyak sahabat ku, tanpa mu aku mungkin sudah mati disini.” Reza sangat bersyukur ada dia yang pemberani.
“Sama-sama, ayo! Kita bantu kakek dan Fatir menutup nisan,” ujar Dia.
“Baiklah.” keduanya pun bergegas menuju makam.
“Ayo cepat! Sebentar lagi akan Fajar!” Rahman mendesak ketiga anak muda yang ada bersamanya untuk bekerja lebih cepat.
“Bagaiman dengan Angga kek?” Dia khawatir sebab kekasihnya belum kembali juga
“Kita berdo'a saja agar dia datang tepat waktu," ujar Rahman.
Dia mengerti yang bisa mereka lakukan hanya meminta pertolongan dari yang kuasa.
“Ya Allah mudahkan jalan Angga, ku mohon kembalikan dia bersama kami lagi.” Dia tak ingin kehilangan calon suaminya.
🏵️
Angga yang baru sampai di depan rumah Purwati bingung harus masuk dengan cara apa.
“Itu resiko, pergilah! Sebentar lagi akan fajar, lagi pula kau cucunya kakek Rahman, harusnya kau mewarisi kekuatannya meski hanya sedikit, baca do'a Angga, jangan lepas zikir baca juga ayat kursi, memohon lah pada Allah.” Rita memberi masukan pada sahabat lamanya.
“Baiklah.” Angga yang tak punya pilihan terpaksa masuk ke dalam rumah mengerikan itu.
”Bismillahirrohmanirrohim.” dengan niat basmalah di awal, Angga melangkahkan kaki kanannya terlebih dahulu.
Setelah ia berdiri tepat di depan rumah Purwati, Angga pun mengetuk pintu rumah calon istri yang telah lama ia tinggalkan.
Tok tok tok!
“Assalamu'alaikum.” Angga mengucap salam.
Namun tiba-tiba rumah gubuk Purwati berubah menjadi sebuah makam dengan batu putih yang menumpuk tinggi.
“Hah!” Angga syok bukan main.
Lalu ia pun melihat tasnya di sebelah makam besar itu.
Angga yang ingin buru-buru tak sempat memikirkan hal lain lagi, ia pun dengan cepat mengambil tasnya kembali.
Saat ia ingin beranjak pergi, Angga melihat nama yang ada di batu nisan itu.
“Purwati Ningsih.” Angga membaca nama calon istrinya..
Saat ia ingin balik kanan tiba-tiba ia Purwati telah ada di hadapannya.
“Akh!!!” sontak Angga berteriak histeris.
“Jangan takut.” Purwati tersenyum pada Angga.
__ADS_1
“Jangan minta aku untuk menikahi mu.” Angga mengatakan ketidak setujuannya untuk membina rumah tangga dengan Purwati.
“Tidak akan, disini aku ingin mengucapkan terimakasih karena kau masuk dengan mengucap salam dan berzikir dalam hati mu, jadi makhluk jahat itu hilang seketika. Purwati palsu itu hidup dengan menyerupai ku,” terang Purwati asli.
Mendengar penjelasan dari gadis cantik yang ada di hadapannya Angga menjadi paham kalau banyak tipu daya dan ilusi di alam itu.
“Terimakasih atas informasinya, tapi aku harus pergi sekarang,” ujar Angga
“Baiklah, hati-hati di jalan.” Purwati terseyum pada Angga.
Selanjutnya Angga meninggalkan makam Purwati dengan setengah berlari.
“Ayo Angga! 30 menit lagi akan terbut fajar!” teriak Rita.
“Aku tahu!” Angga pun berlari sekencang-kencangnya, tanpa perduli ia menginjak duri dan tersayat rumput tajam.
🏵️
Sementara Rahman, Dia, Reza dan Fatir yang telah selesai mengerjakan tugas mereka berkumpul dengan perasaan cemas, sebab Angga tak kunjung datang.
“Gawat!” Rahman yang merasa Angga tak bisa datang dengan tepat waktu terpaksa meninggalkan cicitnya itu.
“Ayo kita pergi!” Rahman tak mau jika anak-anak yang lain ikut menjadi korban hanya karena Angga.
“Tidak, tunggu Angga dulu kek!” Dia tak mau meninggalkan Angga yang ia cinta.
“Kita semua akan menetap disini kalau tak pergi sekarang Dia!” Rahman mempertegas resiko yang akan mereka dapatkan jika tetap disana.
“Ayo Dia! Pegang kakek!” desak Fatir.
Ketika Dia akam memegang tangan Rahman tiba-tiba Angga berteriak dari kejauhan.
“Tunggu aku!!” suara keras Angga membuat mereka semu menolah.
Dia yang melihat kehadiran Angga menangis haru.
“Syukurlah,” gumam Dia.
Lalu Dia memegang tangan Rahman, tak lupa ia menggenggam tangan Angga juga.
“Allahu Akbar!” teriak Rahma.
Zuuupp!!!
“Haah!! Haah!!” Angga bangun dari tidurnya dengan penuh keringat.
Brak!
Tiba-tiba Dia membuka kencang pintu kamar kekasihnya.
“Angga!” Dia masuk ke dalam kamar dan memeluk Angga yang masih terbading di tempat tidur.
“Dia...” Angga pun membalas pelukan kekasihnya.
“Syukulah kita semua selamat.” Dia mengecup Angga yang sangat ia rindukan.
“Jangan menangis lagi, semua sudah baik-baik saja.” ucap Angga seraya menitikkan air matanya.
3 bulan kemudian setelah semua keadaan berjalan dengan normal Angga dan Dia pun menikah.
...Tamat....
__ADS_1