
Setelah selesai membuat teh manis, Farida mengantarkannya pada Angga yang duduk di ruang tamu.
“Ini tuan, silahkan di minum.” Farida meletakkan teh manis buatannya di atas meja.
“Terimakasih bi.” Angga yang haus langsung meminum teh manis tersebut.
“Sama-sama tuan.” Farida pun memperhatikan dengan seksama Angga yang sedang minum.
Setelah Angga menghabiskan tehnya, Farida yang penasaran dengan apa yang di lakukan majikannya selama satu tahun terkahir mulai mengajukan pertanyaan.
“Tuan kemana saja selama ini? Tuan besar dan nyonya sangat resah, apa lagi nyonya, sejak kepergian tuan, nyonya menjadi lebih kurus, tuan besar dan nyonya juga bolak balik rumah sakit untuk berobat,” ucap Farida.
“Ceritanya panjang bi, kalau ibu dan ayah sudah pulang, akan ku katakan aku dimana selama ini.” Angga yang masih terguncang ingin segera istirahat.
“Baik tuan, saya mengerti, silahkan ke kamar tuan, karena kamar tuan selalu saya bersihkan,” ujar Farida.
“Iya bi.” Angga pun bangkit dari duduknya dan segera beranjak menuju kamar yang telah lama ia tinggalkan.
Krieeett!!!
Angga membuka pintu kamarnya, setelah itu menutupnya kembali.
Ia yang ingat pernah datang ke kamarnya saat masih di alam lain langsung menuju jendela.
Rasanya aku baru saja ada disini, batin Angga. Lalu ia pun menggeser jendela kamarnya.
Saat Angga menoleh ke arah tanah, ia pun mengernyitkan dahinya, karena ia melihat jejak kakinya masih ada disana.
“Apa jiwa ku benar-benar di rumah ini saat itu?” Angga tak percaya dengan apa yang ia lihat.
Ia yang trauma langsung menutup jendela kamarnya dan menuju ranjang.
“Sebaiknya aku tidur.” tanpa Angga ketahui, dia telah membuat kesalahan baru.
Harunya Angga mandi terlebih dahulu untuk menghilangkan sesuatu yang mungkin saja ia bawa dari gunung keramat itu.
Angga yang teramat lupa segalanya, langsung terlelap setelah merebahkan tubuhnya di atas ranjang.
Keesokan harinya, Angga yang baru bangun melihat ke arah jam dinding yang ada di kamarnya.
“Jam 09:00 pagi?” Angga pun bangkit dari ranjang, lalu menuju kamar mandi untuk membersihkan diri.
Setelah selesai Angga keluar dari kamarnya menuju meja makan.
Ternyata ayah dan ibunya sudah ada disana, melihat kehadiran Angga membuat Sulas dan Rahmat bahagia.
“Anak ku!!” Sulas memeluk putra yang ia rindukan, begitu pula dengan Rahmat, ketiganya pun berpelukan untuk melepas rasa rindu yang ada di dalam hati keluarga kecil itu.
__ADS_1
“Ayo nak, makan dulu.” Sulas menggandeng tangan Angga menuju kursi.
Setelah itu Sulas mengambil nasi dan lauk untuk putranya.
“Ayo nak, buka mulut mu.” Sulas berniat menyuap putranya yang bukan anak kecil lagi.
“Bu, aku bisa sendiri.” Angga yang sudah dewasa malu kalau di suap ibunya.
“Apa tidak boleh ibu memanjakan mu untuk hari ini saja?” mata Sulas yang indah mulai memerah.
“Boleh bu.” melihat kesedihan ibunya Angga jadi merasa bersalah.
Angga yang ingin menyenangkan hati sang ibu langsung membuka lebar mulutnya.
Kemudian Sulas memasukkan nasi ke mulut anaknya, sampai anak kesayangannya itu kenyang.
Di rasa waktunya sudah pas, Sulas pun berkata.
“Sembunyi dimana kau selama ini? Kami sudah lelah mencari mu, kami juga sudah lapor polisi, tapi kau tetap saja tidak di temukan, Angga.” ujar Sulas.
“Iya nak, kami sudah mencoba segala cara, tapi kau tetap tidak bisa di lacak, kau dimana nak selama ini?” tanya Rahmat.
“Aku dan teman-teman tersesat di gunung yang kami daki ayah, ibu,” jawab Angga.
“Sampai 1 tahun? Apa kau serius?” Rahmat tak percaya begitu saja pada anaknya.
“Kau bertemu dengan kakek Rahman?” Rahmat tidak menyangka kakeknya yang sudah meninggal datang membantu Angga.
“Iya.” lalu Angga mengatakan ciri-ciri Rahman.
Sontak Rahmat merasa syok, karena apa yang di katakan Angga sama persis dengan yang ada di ingatannya.
“Kau benar, apa kau bisa menceritakan apa yang kau lalui selama ini?” Rahmat penasaran dengan pengalaman anaknya.
Kemudian Angga pun mulai menceritakan pengalamannya selama di gunung keramat itu.
“Ck!” Rahmat menjambak rambutnya sendiri.
“Ada apa ayah?” tanya Sulas.
“Memang benar, kakek dan nenek mu sering menceritakan peristiwa pembantaian itu, tapi sayang ayah pikir itu tidak benar,” Ucap Rahmat.
Ternyata yang di katakan kakek itu benar, batin Angga.
“Maafkan kami yang sudah lalai nak, lagi pula nenek mu pernah cerita kalau gunung itu sudah di sembunyikan secara gaib, agar tak bisa di lihat oleh manusia biasa, jadi kami merasa tenang, kalau tahu ujungnya akan kehilangan mu, ibu dan ayah akan memberitahu mu sejak awal, hiks.” Sulas menangisi kecerobohannya.
“Jangan menangis bu, karena akulah yang salah, tanpa minta izin pergi ke tempat yang telah di kutuk.” Angga memeluk ibunya yang menyalahkan dirinya sendiri.
__ADS_1
“Iya, ibu sudah memaafkan mu.” Sulas merasa bersyukur bisa berkumpul kembali dengan putra satu-satunya.
“Semalam ayah dan ibu dari mana?” tanya Angga.
“Ziarah ke makam keluarga kita, termasuk ke makam buyut Rahman,” ujar Sulas.
“Oh, lain kali kalau mau kesana aku ikut bu, ayah.” Angga ingin membaca surah Yasin di makam kakek yang telah berjasa padanya.
“Iya nak,” sahut Sulas.
Angga yang ingin istirahat kembali masuk ke dalam kamarnya.
Ia yang ingin tidur tiba-tiba melihat tumpukan rambut di atas ranjangnya.
“Rambut siapa ini?” Angga pun mencabut sehelai rambutnya.
Lalu membandingkannya dengan rambut yang ada di ranjangnya.
“Ini sih rambut perempuan.” Angga dapat menebak karena rambut itu begitu panjang dan indah.
Angga yang ingin bertanya mengurungkan niatnya.
“Bibikan rambutnya pendek, dan juga keriting, kalau ini enggak mungkin banget, ibukan enggak pernah masuk ke kamar ku setelah aku SMP, lalu rambut ini punya siapa?” hati Angga jadi bertanya-tanya.
Iya yang masih kebingungan tiba-tiba di kejutkan dengan bingkai photo yang terjatuh ke lantai.
Prang!!!!
Sontak Angga menoleh ke sumber suara. Kemudian ia pun mendekat.
“Kok bisa jatuh? Pada hal pakunya kokoh kok.” Angga yang berpikir positif merasa itu karena angin biasa, ia pun tak mau berpikir larut pada hal sepele itu.
Angga yang menguap kembali ke ranjang, sebelum tidur ia pun berdo'a.
Baru saja Angga terlelap, tiba-tiba seekor ular king kobra naik ke ranjangnya.
Lalu perlahan-lahan ular itu menjelma menjadi seorang gadis cantik yang memiliki rambut yang sangat panjang.
“Kau milik ku,” ucap siluman ular itu.
Kemudian gadis siluman itu pun tidur di sebelah Angga.
“Aku akan menikahi mu, setelah kau memakai cincin permata yang akan ku berikan pada mu.” siluman ular itu pun mengeluarkan cincin berlian dari dalam mulutnya.
“Aku mencintai mu Angga, dan perasaan ini sangat tulus.” siluman ular itu merasa bahagia, karena sebentar lagi ia memiliki pasangan untuk musim kawinan nanti.
...Bersambung......
__ADS_1