
Delima yang ketahuan bingung harus menjawab apa pada rajanya.
“Tadi memang ada ular disini paduka.” hanya itu jawaban yang bisa Delima katakan pada Garaga.
Garaga tentu tak percaya begitu saja, karena ia mendengar dengan jelas, suara bayi-bayi yang meminta tolong dari dalam brangkas.
Garaga yang ingin memastikan membuka brangkas itu tanpa sandi dan kunci.
Krieeett!!!
Delima yang tahu ajalnya akan datang berjalan mundur, ingin melarikan diri.
“Pengawal, tahan dia!” titah Garaga.
“Kenapa aku harus di tawan begini paduka?” rasanya Delima ingin menangis darah.
Kemudian seorang pengawal bertubuh kekar tinggi besar mendekat ke Delima.
“Jangan bergerak!” pengawal itu pun menodongkan tombak ke leher Delima.
Delima yang tak bisa kemana pun menitikkan air matanya.
Habis sudah masa depan ku! Hancur lebur segalanya, ya Tuhan tolong aku, aku bertaubat, batin Delima.
Garaga yang masuk ke dalam berangka melihat jasad Sarah. Ia juga mencium bau darah yang sangat pekat.
“Ayah...” ucap salah satu bayi Sarah dalam bahasa ular.
Sontak Garaga menoleh ke sumber suara yang ada di antara paha Sarah.
“Kurang ajar!!” amarah Garaga memuncak, karena ia tahu calon ratunya telah tiada.
Garaga mendekat ke Sarah. Ia pun menatap lekat wanita yang menarik perhatiannya dari pertama kali bertemu.
“Astaga! Andai aku tahu kau adalah wanita yang terpilih, pasti aku tidak akan melepaskan mu.” Garaga memeluk jasad Sarah yang telah kaku.
Anak-anak Sarah pun mendekat pada ayah mereka.
“Maafkan ayah karena telah lalai.” Garaga mengelus satu persatu kepala anak-anaknya.
Kemudian Garaga yang tak terima atas kematian istrinya menuju Delima yang ada di luar brangkas.
Delima yang melihat kedatangan Garaga panik bukan main.
“Maafkan aku paduka, ini semua kecelakaan, aku tidak bersalah!” Delima yang ingin lari harus terhenti, karena pengawal yang masih menodongkan tombak ke lehernya tak memberi ruang gerak.
“Makan dia!” titah Garaga dengan penuh amarah.
“Siap paduka!” para pengawal yang berjumlah 4 orang pun langsung berubah jadi ular piton.
“Akh!! Tolong!!” Delima menjerit hebat, karena untuk pertama kalinya ia melihat mulut piton berbobot 100 kilo terbuka lebar.
Ke empat ular itu pun melilit tubuh Delima yang mungil.
Tek!
Tek!
Tek!
Tulang belulang Delima retak satu persatu terdengar dengan jelas , ia yang tak berdaya hanya melihat 4 ular raksasa berebutan untuk menyantapnya.
__ADS_1
“A-a-a-a!” ingin teriak namun suaranya tertahan.
Hanya buliran air mata yang membasahi wajah cantik Delima.
Andai aku tak bersekutu dengan jin! Pasti aku tidak akan bernasib tragis, Tuhan tolong terima taubat ku, batin Delima.
Di penghujung hayatnya, Delima menyaksikan 4 ular besar itu mengkoyak tubuhnya menjadi empat bagian.
Ada yang mengigit kaki kiri dan kanannya sampai putus, ada juga yang menelan kepalanya.
Hap!
Sejurus dengan itu semua menjadi gelap. Bangun-bangun Delima ada di sebuah perkampungan dengan peradaban yang telah tertinggal.
“Apa ini yang namanya kampung gaib?” Delima Sadar jika jiwanya telah di bawa oleh raja Garaga ke dunia lain.
“Apa yang kau tunggu!” pekik Garaga pada pengawalnya.
“Paduka?” Delima pun melihat kedua tangannya yang di satukan dengan rantai begitu juga dengan kakinya.
“Bawa Dia!” titah Garaga.
Kemudian seorang pengawal melempar tubuh Delima tanpa busana ke dalam kandang persegi empat dengan panjang 50 senti meter dan lebar 40 senti meter, tubuh tinggi besar Delima tentu saja tak bisa bergerak bebas.
Bruk bruk!
Tubuh Delima yang mulus pun menjadi banyak goresan. Sebab kandang itu terbuat dari kayu liar yang ada durinya.
“Sakit, hiks... ampuni hamba paduka...” Delima memohon ampun pada Garaga.
Namun Garaga yang tak dapat memaafkan Delima hanya diam seraya menatap lurus ke depan.
Kemudian kereta kuda Garaga mulai berlari menuju istana yang ada di puncak gunung. Sedang Delima di bawa dengan cara di tandu.
Sepanjang perjalanan orang-orang melihat Delima yang telanjang bulat.
Delima yang malu menutup bagian sensitifnya agar tak dapat di lihat oleh orang lain.
Setelah menempuh perjalanan selama 30 menit akhirnya Delima tiba di istana sang raja.
Di sana telah ramai khalayak untuk menyambut kedatangannya.
“Keluarkan dia!” pekik Dewi.
Delima yang ada dalam kandang di paksa keluar dengan cara kakinya di tarik dengan kasar.
Srek! Srek!
Tubuh Delima kembali tergores dan mengeluarkan darah.
“Bawa dia kemari!” pinta Dewi, karena ia ingin memberi Delima pelajaran.
“Ayo, jalan!” pekik sang pengawal.
Namun Delima yang di rantai sangat sulit untuk melangkah. Pengawal yang tak sabar pun menendang bokong Sarah dengan keras.
Bruk!
“Akh!!” Sarah meringis kesakitan, apa lagi saat wajahnya tersungkur ke tanah.
“Lempar dia kesini, cepatlah!” pinta Garaga yang ingin memberi hukuman lanjutan pada Delima.
__ADS_1
“Ampun... jangan siksa aku lagi, hiks...” Delima menangis histeris. Sayangnya tak ada satu orang pun yang iba padanya.
Sang pengawal yang mendapat perintah segera menjalankannya.
Sang pengawal pun mengangkat tubuh ramping Delima.
Piung!!!
Brak!
Delima mendarat mulus ke tumpukan tempurung yang ada di sebelah ratu.
Kemudian Dewi bangkit dari singgah sananya dan mendekat ke Delima.
“Jadi kau pembunuhnya?” Dewi yang marah menjambak rambut indah Delima.
Lalu menyeretnya menuju tebing jurang yang di bawahnya ada kobaran api yang menyala-nyala.
“Akh!! Jangan dorong aku! Jangan yang mulia ratu! Aku takut!!!” Delima berlutut di kaki Dewi.
“Harusnya kau pikir dulu kalau mau membunuh calon ratu masa depan, kau juga telah berani menghabisi putra mahkota penerus kerjaan Garaga, terlalu!” pekik Dewi.
Duar!
Suara petir menyambar di langit yang terang benderang, suara Dewi yang menggelegar membuat semua orang takut.
“Untuk itu kau akan selalu melompat ke kobaran api yang ada di dasar jurang sampai hari kiamat!” kutukan yang di beri raja Garaga membuat Delima menjerit histeris.
“Tidak!!!!” Delima yang ingin melarikan diri tak bisa kemana pun.
“Lempar dia, pengawal!” titah Garaga.
“Laksanakan paduka.” saat sang pengawal menggendong tubuh Delima.
Delima meronta hebat, dan ia pun tanpa sengaja melihat Sarah yang di hidupkan kembali dengan ke sembilan anak-anaknya yang berwujud setengah ular dan manusia duduk tak jauh dari Garaga.
“Sarah! Maafkan aku!! Ampuni aku!!!” Delima meminta belas kasih sahabatnya.
Mendengar suara Delima yang begitu menyedihkan membuat Sarah menoleh ke arah Delima yang akan segera di lahap api.
“Buang sekarang juga!” Setelah mengatakan itu Sarah tertawa menyeringai pada Delima.
Selanjutnya sang pengawal pun melempar tubuh Delima ke jurang.
Siung!!!
Seiring dengan itu para keluarga kerajaan berserta rakyat yang menyaksikan bersorak ria, seolah itu adalah acara yang sangat berharga.
Bruk!!!
Delima yang telah jatuh di dasar jurang di sambut oleh si jago merah.
“Wa... tidak... sakit!! Tolong aku, hiks...” Delima menangis histeris.
Ia pun merasakan sakit yang luar biasa, kulitnya yang putih mulus kini melepuh dan dengan secelat kilat Delima yang cantik menjadi debu.
Setelah itu Delima hidup kembali, dan ia pun melihat dirinya kembali di atas tebing kemudian di lempar lagi ke jurang
Kejadian itu terus terulang hingga Delima terbiasa dengan siksaan yang ia dapatkan.
...Bersambung......
__ADS_1