
“Kau sudah makan belum?” tanya Suci.
“Belum, memangnya kau masak?” tanya Heri kembali.
“Masak, tapi lauknya cuma Indomie goreng, hehehe...” Suci tertawa cekikikan.
“Enggak apa-apalah, ayo kita makan.” meski tak suka Heri tetap menyantap masakan kekasihnya.
Setelah Suci mengambil mie untuknya dan Heri, mereka berdua pun duduk di lantai, sebab tak ada meja makan di dapur itu.
Heri yang akan memasukkan mie buatan kekasihnya tiba-tiba tersenyum lebar.
“Memangnya kau punya uang?” ucap Heri.
“Uang ku lagi menipis, bagi uang sini!” Suci menadahkan tangannya.
“Terus ini apa?” Heri pun menunjukan daging iris yang memenuhi piringnya.
“Apa itu?” Suci pun mengambil daging tersebut dengan tangannya.
“Daging kan? Pembohong, pada hal ada uang,” Heri tersenyum getir.
“Aku enggak bohong, Her! Aku dapat uang darimana sih!” pekik Suci.
“Lalu itu apa?” ucap Heri.
“Enggak tahu, aku tadi cuma masak mie goreng biasa, tanpa daging.” Suci bingung daging itu datang dari mana.
“Masa sih?” Heri tak percaya dengan apa yang di katakan kekasihnya.
Suci yang tak tenang meletakkan piringnya ke lantai.
“Ayo!” ia pun bangkit dari duduknya.
“Kemana? Aku kan belum selesai makan.” Heri yang lapar ingin segera melahap mie gorengnya.
“Jangan di makan! Cepat, ikut aku dulu!” Suci menarik tangan kekasihnya.
Mereka berdua pun menuju halaman belakang kontrakan yang mana disana terdapat toren yang di letakkan di atas atap rumah.
“Ayo naik!” Suci yang penasaran dengan isi toren nya menaiki tangga besi yang telah tersedia disana.
“Ehm, Suci! Biar aku saja yang naik.” Heri tak enak jika kekasihnya melakukan pekerjaan laki-laki.
“Sama-sama saja!” Suci ingin memastikan sendiri mengapa air di rumahnya begitu kotor.
“Baiklah.” Heri pun menyusul Suci untuk naik.
Sesampainya mereka di atas atap, Suci dan Heri pun melihat toren 700 liter berwarna kulit pinang di hadapan mereka.
“Biar aku yang buka.” Heri pun memutar tutup toren tersebut.
Ketika sudah terbuka, mata Heri membulat sempurna. Sontak perutnya jadi mual ingin muntah.
“Hoek! Hoek! Jangan lihat!” Heri tak ingin jika kekasihnya mengetahui isi toren itu.
“Memangnya ada apa disana?” semakin di larang, Suci makin penasaran.
Lalu ia pun mengintip ke dalam toren yang membuat pacarnya muntah.
__ADS_1
Deg!
Tubuh Suci kian bergetar saat melihat potongan tubuh manusia dengan kulit dan daging yang telah terkelupas.
“Hoek!!” ia pun ikut mengeluarkan isi perutnya.
“Apa itu benar-benar manusia?” ucap Heri.
“Aku enggak tahu, tapi sepertinya nyata, karena aku juga menemukan rambut di kran air tadi pagi,” terang Suci.
“Enggak beres nih, kau harus segera pindah.” Heri yakin kalau kekasihnya akan dalam bahaya kalau lebih lama di rumah itu.
“Iya, ayo kita turun!” ujar Suci.
Saat keduanya akan turun tangga, mereka pun melihat ibu pemilik kontrakan tepat di bawah tangga.
Tatapan wanita berusia 55 tahun itu begitu tajam pada Suci dan Heri.
“Gawat.” bisik Suci, karena ia yakin pelaku pembunuhan mayat yang ada dalam toren itu adalah ibu pemilik kontrakan.
“Kita pura-pura tenang saja,” ujar Heri.
“Baiklah.” Suci setuju dengan saran kekasihnya.
Meski jantung keduanya bergetar dengan sangat kencang, tapi mereka berusaha bersikap biasa saja.
Keduanya pun turun tangga seraya menampilkan senyum pada pemilik kontrakan.
“Apa kabar bu?” sapa Suci.
“Baik.” jawab Mirna dengan singkat.
“Kalian sendiri sedang apa di atas?” pertanyaan Mirna membuat Suci dan Heri tersentak.
“Kita cuma photo-photo bu, karena di atas pencahayaan kameranya bagus,” terang Suci.
“Benarkah?” Mirna menatap tak percaya pada pasangan muda itu.
“Iya, oh ya... kenapa ibu kesini?” tanya Suci kembali.
“Untuk memberikan kunci, maaf kemarin aku salah memberikan kunci rumah pada mu, harusnya kau menempati rumah yang paling sudut,” ucap Mirna.
“Oh, gitu ya bu...” Suci tertawa canggung.
“Iya, jadi kemas barang mu, dan segera pindah.” Mirna ingin Suci segera minggat
“Oke bu, aku akan segera berkemas, terimakasih sudah memberitahu.” Suci pun menerima kunci yang Mirna berikan.
“Ku tunggu 5 jam ke depan, datanglah ke rumah, antar kuncinya.” setelah mengatakan itu, Mirna pun meninggalkan Suci dan Heri disana.
“Susun barang mu, dan kita segera pergi! Pasti kau akan jadi korban selanjutnya jika menetap di rumah mana pun.” Heri tak ingin kekasihnya mendapat kemalangan.
“Oke.” Suci setuju dengan pendapat Heri, kemudian mereka berdua pun masuk ke dalam rumah.
”Untung aku belum menata barang-barang ku, tolong kau keluarkan kardus yang ada di ruang tamu, aku akan mengambil baju dan tas ku yang ada di dalam kamar,” ujar Suci.
“Baiklah.” Heri pun mengerjakan permintaan kekasihnya.
Sedang Suci yang baru membuka pintu kamar melihat kursi goyang yang baru ia buang tadi pagi sudah ada di kamarnya kembali.
__ADS_1
Berrr!!!!
Seketika Suci kedinginan dan bercucuran keringat.
“Kok bisa ada disini lagi?” Suci yang ketakutan ragu untuk masuk ke dalam kamar, terlebih saat kursi goyang itu bergerak sendiri.
Rek... rek...
Bunyi yang terdengar berat membuat suci menyadari kalau ada yang mendudukinya.
“Jangan ganggu aku! Aku hanya ingin mengambil barang-barang ku! Setelah itu akan pergi!” setelah meminta izin, Suci masuk ke dalam kamar dengan hati-hati.
Ia pun mengambil baju, handuk dan juga tasnya, ketika ia ingin keluar, tiba-tiba pintu kamarnya di banting dengan sangat kencang.
Bam!!
“Akhh!!! Heri! Tolong aku!!” Suci memukul-mukul pintu kamarnya.
Heri yang baru selesai mengeluarkan kaedus pun mendengar teriakan Suci.
“Suci!!” sontak Heri menuju kamar, dan ia pun melihat handle pintu yang terus berputar-putar namun tak berhasil terbuka.
”Suci! Apa yang terjadi?”
Prak! Prak! Prak! Heri menggebrak pintu tersebut.
“Pintunya tertutup sendiri, tolong dobrak! Kuris goyangnya berhantu!!!” Suci berteriak sekencang-kencangnya.
“Baiklah!” Heri pun mundur beberapa langkah, kemudian berlari sangat kencang.
Saat tubuhnya yang kekar akan menabrak pintu, tiba-tiba pintu tersebut terbuka sendiri.
Bruk!
Alhasil Heri terjatuh dan kepalanya terbentur ke ujung pegangan kursi.
Puk!
“Akh! Sial!” umpat Heri.
“Sudah! Jangan ngomong macam-macam lagi, cepat kita keluar dari sini!” Suci pun membantu kekasihnya untuk bangkit.
Lalu Heri dengan susah payang berdiri, kepalanya yang terbentur membuatnya sempoyongan.
Ketika mereka telah sudah dari kamar, kursi goyang itu bergerak semakin kencang.
“Ihihihihihi!!” tawa melengking seorang wanita tak terlihat hampir membuat telinga keduanya pecah.
Mereka yang akan menuju pintu keluar tiba-tiba mereka mendengar pintu kamar yang di dekat dapur seperti di pukul-pukul.
“Apa itu?” tanya Heri.
“Aku enggak tahu, tadi pagi juga begitu, ada yang mengetok!” ujar Suci.
“Apa ada orang selain kita disini?” Heri yakin jika ada seseorang yang di kurung di kamar itu.
“Biarkan saja! Sebaiknya kita selamatkan diri kita!” Suci tak perduli meski ada yang tertawan disana.
...Bersambung......
__ADS_1