Kualat Di Gunung Keramat

Kualat Di Gunung Keramat
Rumah Misterius (Dukun Kanibal)


__ADS_3

“Jangan begitu Ci! Mungkin dia akan jadi korban selanjutnya, siapa lagi yang bisa menolongnya selain kita?” Heri yang baik hati ingin menyelamatkan orang yang ada di dalam kamar itu.


“Tidak, jangan macam-macam, bisa-bisa kita yang terancam!” ujar Suci.


“Kalau begitu tunggu di luar, lihat apa ibu itu kembali, kalau dia datang beritahu aku.” Heri ingin ia dan kekasihnya bekerja sama.


“Baiklah, kau harus cepat!” Suci yang ingin pergi di tahan oleh Heri.


“Jangan lupa telepon polisi.” Heri meminta demikian, karena 90 persen rumah yang ada di gang Serasi itu adalah milik Mirna, si dukun santet yang terkenal di kalangan masyarakat.


“Aku tahu.” Suci pun keluar menuju teras untuk menjaga pintu.


Sedang Heri ke dapur untuk mencari alat bantu yang bisa di gunakan untuk membuka pintu tertutup tersebut.


Heri yang telah berada di dapur menemukan parang panjang.


“Ini saja!” ia pun segera menuju kamar yang akan ia buka.


“Akan ku hancurkan handle pintu ini.” Heri pun mulai mengayunkan parangnya.


Puk puk puk!!!


Saat Heri sibuk menghancurkan pintu, Suci yang ada di depan pintu depan merasa deg degan.


“Masih lama enggak sih! Ayo dong Her, buruan!” Suci mondar mandir karena merasa tegang.


“Akh! Akh! Akh!” Heru terus menancapkan perangnya ke sekitar kayu handle pintu.


Puk!


Perjuangannya pun membuahkan hasil, akhirnya pintu itu pun terbuka.


Suasana gelap pada ruangan itu membuat Heri sulit untuk melihat, ia pun langsung mengambil handphonenya yang ada di dalam saku celana belakangnya.


Ia yang ingin menyalakan senter tanpa sengaja melihat kalender hari itu.


“Senin 29 April 2021?” ia pun mengernyitkan dahinya.


“Bukannya sekarang 3 Mei 2021?” Heri merasa ada yang janggal.


“Mungkin pengaturan tanggal ku yang salah.” untuk mempersingkat waktu, Heri menyalakan senter handphonenya, kemudian ia menemukan saklar lampu yang ada di dekat pintu.


Tek!


Saat Heri telah menyalakan lampu, ia pun melihat seorang wanita bertubuh kurus kering menundukkan kepala dengan rambut acak-acakan duduk di lantai.

__ADS_1


“Kak, apa kau baik- baik saja?” dengan perlahan Heri mendekat.


Sepertinya aku mengenali baju yang di pakai wanita ini, batin Heri.


Kemudian ia pun berjongkok di hadapan si wanita.


“Kak, ayo bangun.” saat Heri menyentuh bahu wanita itu, tubuh wanita itu pun jatuh ke lantai.


“Kak!” Heri yang penasaran dengan wanita itu dengan cepat menyingkap rambutnya yang berantakan.


“Akh!!!” ia pun berteriak dengan sangat kencang, saat melihat wajah wanita yang ada di hadapannya.


“Suci! Enggak mungkin, apa yang sebenarnya terjadi?! Apa ini benar-benar Suci?! Tidak, pasti bukan dia!” Heri pun tak percaya dengan apa yang ia lihat, karena kekasihnya jelas-jelas baru bersamanya.


Ia yang ingin memastikan pun kembali ke pintu depan.


Namun sesampainya Heri, ia tak melihat Suci ada disana.


Sontak Heri jadi bingung berat, “Apa-apaan ini?? Dimana Suci?!” Heri yang kalang kabut kembali ke kamar, dan ia masih melihat mayat Suci di sana.


“Suci!!!” Heri berteriak histeris.


Sedang Suci yang masih ada di pintu depan mendengar teriakan kekasihnya.


Alhasil ia pun masuk ke dalam rumah dan menuju kamar yang telah di buka Heri.


Namun sang kekasih tak menjawab pertanyaannya.


Kemudian Suci pun melihat tepat di hadapannya, dirinya sendiri terbaring di atas lantai keramik warna putih dengan tubuh kurus kering tak bernyawa.


“I-itu aku?!” ia tak percaya kalau dirinya sudah tiada.


“Her! Heri! Aku disini!” Suci memeluk kekasihnya, namun Heri tak mendengar suara Suci.


Lalu seseorang berdiri di belakangnya dan berkata.


“Apa kau lupa kalau kau sudah mati?” ucap seorang wanita.


Sontak Suci menoleh ke ke belakangnya, “Kau siapa?” tanya suci.


“Aku Marlina, korban pertama dukun itu, aku menyaksikan kau masuk ke rumah ini karena salah di beri kunci, yang tadi kau lalui sudah terulang ratusan kali, karena kau di perdaya Mirna dalam mimpi, kekasih mu juga ikut terjebak, namun keluarganya berhasil menemukan orang pintar dan kyai, hingga akhirnya jiwa kekasih mu sadar, di waktu yang berbeda,” terang Marlina.


“Benarkah? Lalu, dimana Heri?! Tolong beritahu aku.” Suci ingin menyelamatkan kekasihnya.


“Di ruang bawah tanah, tempat pengeksekusian korban Mirna, kekasih mu masih hidup, pergi bangunkan dia! Karena setelah giliran mu di mutasi, maka yang selanjutnya adalah dia,” terang Marlina.

__ADS_1


Atas petunjuk dari Marlina, Suci pun langsung bergegas ke ruangan yang Marlina katakan.


Saat ia keluar dari dalam ruangan, ia pun melihat banyak arwah penasaran mulai dari anak-anak nenek, Suci juga melihat kumpulan kuntilanak, pocong dan juga genderuwo memenuhi rumah itu.


“Akhh!!! Tolong!!” meski ia sendiri sama dengan makhluk yang ada di depan matanya, namun Suci tetap takut pada hantu-hantu tersebut.


Tapi ia yang ingin menyelamatkan kekasihnya harus meredam rasa takutnya.


Kakinya terus melangkah, hingga ia menemukan tangga menuju ruang bawah tanah.


“Pasti itu tempatnya!” Suci pun menuruni anak tangga yang terbuat dari papan, sejalan dengan itu, ia pun mengingat perjalanannya hingga jadi korban Mirna, si dukun kanibal yang telah menjadi bahan gosip di daerah itu.


Namun ia yang memiliki uang terbatas malah tak menghiraukan gosip tersebut.


“Andai aku menyelidiki rumah ini dengan benar, pasti semua ini enggak akan terjadi.” ia yang telah sampai di ruang bawah tanah melihat banyak potongan daging manusia.


Ruangan itu penuh darah dan juga teriakan manusia dimana-mana.


“Astaga!” sang dukun yang tak di tempat memudahkan Suci untuk mencari Heri di tumpukan manusia yang belum di eksekusi.


“Dasar tak punya perasaan, dia menjadikan manusia seperti ikan kaleng.” Suci yang tak pantang menyerah akhirnya menemukan Heri terbaring di dekat toilet tanpa baju.


“Heri! Heri?!” Suci memanggil-manggil nama kekasihnya.


“Her! Bangun!!” Suci yang terus memanggil nama Heri tak kunjung di dengar oleh kekasihnya.


“Hiks... maafkan aku Her, karena aku kau jadi korban!” Suci menangis sesungukan.


Tap tap tap!


Suara langkah kaki tedengar di telinga Heri, ia pun bangun dari pingsannya.


“Akhh... dimana aku?” Heri melihat kesana kemari.


“Her! Kau sudah bangun?” Suci terus mengajak kekasihnya bicara, meski sang pujaan hati tak mendengarnya.


Heri yang melihat Mirna datang dengan membopong tubuh Suci merasa syok.


“Suci!!!” Heri yang melihat kekasihnya akan di eksekusi bangkit dari tanah penuh darah itu.


Meski sulit karena tak berdaya, tapi Heri ingin menyelamatkan kekasihnya.


“Awas saja kalau kau berani melukai pacar ku!” ruangan yang memuat banyak benda tajam memudahkan Heri untuk menemukan cangkul dengan mata yang baru di asah.


“Akan ku bunuh kau!” rasa dendam dan benci menjadi satu di hati Heri.

__ADS_1


“Jangan Her! Lebih baik kau pergi selagi dia sibuk!” Suci tak ingin jika Heri celaka.


...Bersambung......


__ADS_2