Kualat Di Gunung Keramat

Kualat Di Gunung Keramat
Jadi Pocong (Kenyataan)


__ADS_3

Melisa yang telah menikah selama 7 tahun belum memiliki keturunan, untuk itu Nindira menyerahkan anak Suryo dan Ani pada putrinya.


“Ku mohon jangan lakukan itu, Dira.” Suryo tak setuju dengan keputusan istrinya.


“Jangan sok mengatur! Harusnya kau bersyukur karena masih ku biarkan hidup bangsa*t! Oh ya, karena aku baik hati, ku ijinkan kau memberi nama pada anak sialan ini!” Nindira menatap angkuh pada suaminya.


“Al Fatir, itu saja.” ucap Suryo dengan menahan air matanya .


Duar!!!


Jantung Fatir bergetar dengan sangat kencang, ia benar-benar tidak menyangka, kalau dirinya adalah anak dari kakeknya.


Fatir yang baru tahu kenyataan itu terguncang, sontak ia masuk ke dalam ruangan sempit yang menjadi tempat pengeksekusian ibunya.


“Ibu...” bibir Fatir bergetar, air matanya berlinang melihat ibunya yang mengeluarkan napas tak beraturan.


“Ibu... maafkan aku, karena kehadiran ku ibu menjadi korban.” Fatir menyalahkan dirinya atas kemalangan yang menimpa ibu kandungnya.


Tak lama Suryo masuk ke dalam ruangan yang menjadi saksi bisu atas penderitaan kekasihnya.


“Maafkan aku, Ani.” Suryo menggenggam tangan Ani yang tak berdaya.


“Terkutuk! Aku tidak akan pernah memaafkan kalian, aku akan membalas segala yang kalian lakukan meski itu dari alam baka! Kejayaan kalian tidak akan lama! Tanah ini akan selalu butuh darah sampai anak keturunan kalian habis!” sumpah serapah Ani membuat Suryo sedih.


“Maafkan aku sayang, aku tak berdaya untuk melindungi nyawa mu.” hanya itu yang bisa Suryo katakan.


Lalu Suryo duduk di pinggir ranjang Ani. Ia pun membelakangi kekasihnya yang tengah meregang nyawa.


“A-a-a-akh!!” mata Ani membulat sempurna ke arah langit-langit.


Ani yang akan di jemput malaikat maut membuat dua lelaki berharga dalam hidupnya menangis sesungukan.


Fatir pun memeluk ibunya meski tubuhnya menembus. Ani yang malang akhirnya menghembuskan napas terakhirnya.


Saat Fatir masih berduka, tiba-tiba ada yang memegang pundaknya.


Sontak Fatir menoleh ke belakangnya. Lalu ia pun melihat sosok Ani dengan perawakan cantik.


“Tempat mu bukan disini, kembalilah sebelum terlambat, saat kau bangun, tinggalkan rumah ayah mu, nak.” setelah Ani mengakan itu Fatir pun terbangun dari pingsannya.


“Dimana ini??” pandangannya terhalang karena tubuhnya terikat.


Meksi begitu Fatir masih dapat membuka matanya walau hanya 1 inci.

__ADS_1


Kain putih? batin Fatir.


Belum sempat hatinya menemukan jawaban atas kain tersebut, tiba-tiba Fatir mendengar suara-suara aneh mengelilinginya.


“Ayah!! Ibu!!” teriak Fatir.


Karena ia kenal betul, orang-orang yang mengucap kata yang tak ia mengerti itu adalah keluarganya sendiri.


Kain putih yang membungkus dirinya pun sedikit memiliki celah, hingga Fatir dapat melihat orang-orang dengan jubah putih dan topi mengerucut ke atas memejamkan mata seraya mengelilinginya dengan gelagat aneh.


Saat Fatir menoleh ke sampingnya kirinya, ia syok bukan main, karena Suryo yang telah di bungkus kain kafan ada di sebelahnya.


Lalu ia memutar kepalanya ke arah kanan yang terdapat lemari kaca.


“Akh!! Lepaskan aku!!” Fatir berteriak kencang.


Sebab ia melihat dirinya juga di bungkus kain kafan.


“Diamlah Fatir, jangan menggangu ritual penyembahan terakhir yang akan kami lakukan,” ucap Melisa.


“Ibu, jangan lakukan ini pada ku, aku mohon bu, aku belum ingin mati!” Fatir memohon pada Melisa yang telah ia anggap ibu selama 18 tahun lebih.


“Aku juga maunya kau tetap hidup, tapi apa boleh buat, sesuai amanat ibu kita, untuk menghentikan persembahan nyawa pada nyai Putri Candra Wati, jika ayah sudah tiada, kau wajib ikut dengannya!” ternyata jiwa Suryo telah di bawa ke kerajaan Nyai Putri Candra Wati di gunung keramat yang menjadi sarana kilat bagi orang-orang yang ingin cepat kaya raya.


“Datanglah nyai ratu... kami memiliki persembahan baru untuk mu!!” Melisa berulang kali mengucap kalimat yang sama, hingga angin kencang memenuhi rumah itu.


Wuss... Wuss... Wuss...


Tak lama suara gamelan dan hentakan kaki kuda yang berlari kencang pun terdengar dengan sangat jelas.


Tuktatakatuktak!!


Fatir yang mengintip dari celah sambungan kain kafannya pun dapat melihat sosok gadis cantik memakai mahkota ular, baju hijau, selendang kuning, serta rok jarik.


Sosok nyai Putri Candra Wati begitu di kagumi dan juga di segani oleh kalangan yang ingin cepat sukses tanpa proses.


“Salam hormat kami nyai!” Melisa dan anggota keluarga lainnya menyatukan 10 jari mereka seraya menundukkan kepala.


“Tumbalnya ada dimana?” sapa nyai Putri tanpa ada basa basi.


“Disana nyai.” sahut Melisa dengan sopan.


“Benarkah?” lalu Nyai Putri terbang dengan posisi berdiri tegap menuju Fatir.

__ADS_1


Sejenak sang nyai menatap seksama Fatir yang ada di balik kain putih itu.


“Durjana! Kalian menipuku!” pekik nyai Putri.


“Tidak nyai, saya jamin Fatir masih bujangan.” Melisa merasa yakin karena Fatir selalu ia kekang selama ini.


“Kau pikir aku bodoh?! Tidak! Persembahan mu telah kotor!” nyai Putri yang selalu mencari lelaki perjaka merasa tertipu oleh keturunan Suryo.


“Maaf nyai, setahu saya anak saya masih suci.” suara Melisa bergetar hebat, karena mata nyai Putri memerah karena marah.


“Pembohong!! Dia tak pantas untuk ku.” nyai yang Murka merentangkan kedua tangannya.


“Getih! Tanah ini membutuhkan lebih banyak getih!” kemudian nyai Putri menyuruh para pengawalnya untuk menyerang keluarga Suryo.


“Kalian semua harus ikut dengan ku! sialan!” pekik nyai Putri.


“Akh!!! Ampun!!” suara teriakan memenuhi rumah Suryo.


Setelah 10 menit berlalu suara bising itu pun hilang.


Kemudian tali kain yang mengikat tubuh Fatir terbuka dengan sendirinya.


Fatir yang mendapat celah langsung bangkit dari lantai dan membuang kain putih yang membalut dirinya.


lalu Fatir pun melihat seluruh keluarganya telah meninggal dunia.


Fatir yang ingin menetap teringat dengan apa yang di katakan ibunya, yaitu untuk segera pergi dari rumah itu.


Namun saat Fatir melihat wajah ayahnya yang pucat pasif. Hati langsung sedih, namun apa boleh buat, Fatir lebih yakin dengan apa yang di katakan ibunya.


Dengan cepat Fatir keluar dari rumah itu. Saat ia berada di teras, ia pun melihat telah banyak pocong di depan rumah ayahnya.


“A-a-a...” Fatir gelagapan tak jelas.


Tubuhnya menjadi kaku, walau ia ingin pergi, tapi ia tak bisa mengangkat kakinya yang berat seperti besi.


Fatir yang ketakutan terduduk di lantai, dan matanya pun tak sengaja melihat pocong Suryo berada di atas kepalanya dengan leher terikat tali tambang.


Ayah, batin Fatir


Fatir yang malang menyaksikan lidah Suryo menjulur keluar, matanya membelalak sempurna.


Tubuhnya tak henti-hentinya menggeliat ke kiri dan kanan, Suryo yang ingin bicara lagi-lagi tertahan.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2