Kualat Di Gunung Keramat

Kualat Di Gunung Keramat
Pulang


__ADS_3

“Ke gunung itu, aku ingin menghentikan Asrita, akan ku segel dia, karena dia akan memperdaya banyak korban untuk menjadi budak nyai Putri,” terang Rahman.


“Izinkan aku ikut.” Tejo ingin menemani Rahman.


“Baiklah, mari kita berangkat.” Rahman pun memegang tangan Tio.


Raga mereka pun berjalan menuju gunung terkutuk yang merenggut kebahagiaan banyak orang.


...Flash Back Off...


“Sayangngnya, orang tua mu.” si kakek menoleh ke arah Angga. “Menganggap itu hanya cerita fiksi belaka.”


Angga menundukkan kepalanya, ”Maaf kek, orang tua ku telah lalai.” Angga sangat malu melihat wajah si kakek.


“Untungnya jin korin kakek mu sigap membantu mu, dia selalu menuntun jalan untuk kalian semua, untuk Ali, Meli dan juga Rita, itu tidak mungkin bisa pulang, masing-masing dari mereka telah menerima takdirnya, apa lagi Meli, dia sudah menikah dengan siluman ular yang bersetubuh dengannya,” terang si kakek.


“Kek, apa tidak bisa di usahakan? Kasihan mereka kek?” Reza tak bisa menerima begitu saja, karena Meli telah menjadi tanggung jawabnya, sebab Reza telah berjanji untuk menjaga Meli pada kedua orang tua Meli.


“Terlambat nak.” si kakek geleng-geleng kepala.


“Kami bayar berapapun kek.” Reza yang memiliki banyak uang, bersedia membayar jasa si kakek.


“Ini bukan masalah uang,” ucap si kakek.


“Lalu?” Reza ingin tahu alasan si kakek.


“Sudah terlalu lama.” si kakek memijat pelipisnya yang terasa sakit.


“Maksudnya kek?” Dia tak mengerti dengan apa si kakek katakan.


“1 tahun, kalian sudah selama itu disana,” ujar si kakek.


“Apa?!!!” semua orang menatap satu sama lain, mereka tak percaya dengan apa yang di katakan si kakek.


“Serius kek! Jangan bercanda!” Angga merasa di permainkan.


“Coba saja berkaca, lihat dirimu!” hardik di kakek.


Angga pun terdiam, lalu ia memegang area bibirnya yang telah di tumbuhi oleh janggut.


“Dasar, sudah salah malah marah-marah lagi. demi kalian, kami anak cucu Parjo harus gantian menjaga tempat ini, berharap kalau kalian akan melintas di. depan rumah ini, tapi tidak di sangka, Rita tahu rencana besar yang telah di susun 150 tahun yang lalu,” ujar si kakek.


“Maaf kek, aku salah.” Angga merasa bersalah karena tak bisa mengontrol emosinya.


“Sudahlah, lupakan!” si kakek tak ingin membahas yang telah lalu.


“Sebaiknya kalian pulang, dan kau!” si kakek menunjuk ke arah Heru. “Jangan ikuti mereka, karena kalian bukan satu alam lagi.”


Angga, Reza dan Dia menoleh ke tempat duduk Heru.

__ADS_1


“Dimana dia?” Dia mencari Heru yang duduk di sebelah Reza.


“Sudah mati 5 bulan yang lalu, hanya saja dia ingin menemani perjalanan kalian.” ujar si kakek.


Dia, Angga dan Reza sama-sama menangis, apalagi Reza, sebab ia sendiri menyaksikan Heru di bunuh saat di alam lain.


“Semua sudah berlalu, sebaiknya kalian pulang, orang tua kalian pasti khawatir.” si kakek menyuruh ketiganya untuk pulang.


“Baik kek, terimakasih telah membantu kami selama ini.” Angga pun menjabat tangan si kakek.


“Sama-sama, kalian jangan lupa untuk selalu membaca do'a minta perlindungan dari Allah SWT, pasti ada jalan, jika meminta padanya,” ucap si kakek.


“Iya kek.” Dia menjabat si kakek dan nenek. Begitu pula dengan Reza.


Setelah itu mereka pun pamit, menuju mobil mereka yang terparkir tak jauh dari tempat tinggal si kakek.


Setibanya di mobil, Angga, Dia dan Reza pun melihat ban mobil mereka telah penuh debu dan bannya kempes.


“Kau bisa bawa mobil kan?” ucap Reza.


“Iya,” sahut Angga.


Kemudian Dia pun masuk ke mobil yang di kemudi oleh Angga, sedang Reza pulang sendiri.


Meski berada dalam mobil yang sama, Angga dan Dia tak menyapa satu sama lain, karena mereka sibuk untuk berzikir dalam hati.


Setelah beberapa jam dalam perjalanan, Dia pun tiba di depan rumahnya.


”l“Terimakasih Ngga, hati-hati di jalan,” ucap Dia.


“Di, apa tidak sebaiknya kau ikut dengan kami ke rumah Heru, Ali dan juga Meli? Bagaimana pun kau juga adalah saksi atas peristiwa yang kita alami.” Angga ingin Dia ikut bersamanya dan Reza.


“Aku mau, tapi apa tidak bisa besok? Kau lihatkan, hari sudah hampir malam, orang tua ku juga sudah lama tidak melihat ku, apa kalian tidak turun dan masuk ke rumah ku?” ujar Dia.


“Oh iya, kau benar juga.” Angga pun langungsung keluar dari dalam mobil almarhum Heru.


Reza pun ikut keluar, saat melihat Angga keluar dari dalam mobil.


“Ada apa Ngga?” tanya Reza.


“Kita ke masuk dulu, mengatakan apa yang kita alami selama ini,” terang Angga.


”Baiklah.” Reza setuju dengan apa yang di katakan Angga.


“Ayo!” Dia pun berjalan terlebih dahulu.


Kemudian Reza dan Angga menyusul dari belakang.


“Assalamu'alaikum bu,” ucap Dia.

__ADS_1


Marhan yang mendengar suara putrinya mengucap salam langsung lari ke pintu.


“Walaikum salam, Dia!” bagai mimpi, Marhan melihat kembali putrinya yang telah lama tak bersua dengannya.


“Ayah!!!” Dia memeluk ayahnya dengan sangat erat.


“Kau kemana saja nak? Kenapa baru pulang?” Marhan pun menuntun anaknya untuk masuk ke dalam rumah.


“Ibu dimana yah?” pertanyaan Dia membuat Marhan malu serta takut mengatakan sesuatu.


“Ibu sudah enggak ada Dia,” ujar Marhan..


“Sejak kapan yah? Hiks....” Dia menangis sesungukan.


“Sebulan setelah kau menghilang, dia yang sakit-sakitab karena merindukan mu, malah berpulang ke Rahmatullah.” mengingat kepergian istrinya Marhan merasa sangat berduka.


Dia dan ayahnya menangis seraya berpelukan.


Angga dan Reza hanya menyimak apa yang di katakan Marhan.


Bagaiman dengan suasana rumah ku ya? batin Angga.


Setelah perasaan Dia dan ayahnya tenang, Dia pun menceritakan semua kronologi yang mereka alami.


Satu jam kemudian, Angga dan Reza pamit pulang.


Angga yang merindukan keluarganya langsung tancap gas dengan kecepatan penuh.


Sesampainya di rumah orang tuanya, Angga tak melihat siapapun dalam rumahnya.


Angga pun mengetuk pintu rumahnya, lalu seseorang dalam rumah datang dan membuka pintu.


“Tuan Angga?” Art yang bekerja di rumah orang tua Angga nampak tak percaya, jika sang tuan muda telah kembali.


“Silahkan masuk tuan.” perlakuan hangat si bibi, membuat hati Angga senang.


Kemudian Angga pun masuk ke dalam rumah.


“Tunggu sebentar tuan, saya akan ambilkan minum.” Farida pun berlari kecil menuju dapur.


Saat masih memasak air di kompor, Farida menelepon Mawar, orang tua Angga.


Halo nyonya, tuan Angga sudah pulang, 📲 Farida.


Benarkah? Baiklah, tahan dia! Jangan pergi kemana pun, 📲 Mawar.


Siap nyonya. 📲 Farida.


Setelah sambungan telepon terputus, Farida pun melanjutkan pekerjaannya, yaitu membuat teh manis hangat untuk Angga.

__ADS_1


...Bersambung......


__ADS_2