
Killa bersyukur karena akhirnya dia bisa tinggal di rumah yang sudah tak ada sangkut pautnya dengan sang mantan suami. Dia ingin menjalankan kehidupan baru bersama buah hatinya.
Berbeda halnya dengan Killa yang sedang merasa bahagia, meskipun dia harus menjalani masa kehamilan sendiri hingga melahirkan. Raihan justru di usir oleh Ayahnya sendiri dari apartemen yang Raihan beli untuk Syila.
"Enggak bisa begitu dong! Apartemen ini Raihan yang belikan untuk saya, berarti apartemen ini sudah menjadi milik saya. Anda tak bisa mengusir kami dari sini," protes Syila.
"Dasar wanita tak tahu diri. Dia bisa membeli apartemen ini, memangnya pakai siapa? Suamimu ini telah mencuri uang perusahaan, untuk memberi hadiah apartemen kepada kamu. Tim auditor sudah berhasil melakukan audit atas laporan keuangan selama Raihan memimpin perusahaan milik saya. Biaya yang dia keluarkan selama ini, tak sebanding dengan gaji yang dia terima. Lebih baik kalian cepat rapikan barang-barang kalian, dan segera pergi dari sini!" usir Ayah Abi. Dia terlihat sangat marah.
Raihan berlutut di kaki sang Ayah, meminta sang ayah untuk tidak mengambil apartemen ini. Karena ini adalah satu-satunya yang dia miliki. Kalau dia pergi dari sana, dia harus tinggal di mana.
"Aku mohon Ayah, jangan usir aku dari apartemen ini," ucap Raihan memohon. Ayah Abi tak mau melihat ke arah anaknya sama sekali, dia sudah tak peduli dengan nasibnya anaknya kelak. Dia ingin membuat sang anak menderita, agar sang anak menyadari kesombongannya selama ini.
"Jangan panggil aku, Ayah! Aku bukan Ayahmu lagi, dan anakku sudah mati. Aku sudah tak memiliki anak lagi. Aku tak peduli dengan nasib kamu selanjutnya, karena itu bukan menjadi urusan aku. Cepat kau pergi dari sini, aku tak sudi melihat kamu dan istri murahanmu," sahut Ayah Abi.
Tangis pun tak mampu mengubah keputusan Ayah Abi. Bukan hanya itu saja, orang suruhan Ayah Abi sudah berhasil menarik dana di tabungan Syila. Ayah Abi hanya menyisakan tabungan senilai 5 juta untuk sang anak. Bukankah dia masih baik, menyisakan uang untuk kebutuhan sang anak selama 1 bulan untuk mengontrak rumah.
Raihan dan Syila berjalan gontai keluar dari apartemen. Wajah Raihan terlihat kusut, Ayahnya benar-benar keterlaluan membuat dia jatuh miskin. Motor yang Raihan baru beli pun, di ambil sang ayah. Karena Raihan membeli motor dari uang sang ayah.
__ADS_1
"Ayah kamu itu benar-benar keterlaluan. Tega banget sama anak. Semua ini pasti gara-gara mantan istri kamu. Sekarang dia yang hidup enak, dan kamu yang hidup susah," cerocos Syila dia sengaja memanas-manasi Raihan, agar Raihan semakin membenci Killa.
Ternyata Syila salah, Raihan justru membentak Syila, karena terus mengoceh. Membuat dia pusing. Hingga akhirnya mereka bertengkar di jalanan. Jika sudah seperti ini, Raihan merasa menyesal telah sombong lebih memilih Syila. Padahal selama ini, dia hidup bergelimang harta milik Ayahnya.
"Sementara waktu, kita coba cari kosan dulu. Kita harus mengirit uang, sampai aku mendapatkan pekerjaan lagi. Kamu juga coba saja melamar kerja lagi, kali saja di terima," ujar Raihan.
"Huh, semua ini gara-gara wanita sia*lan itu, membuat aku harus merasakan jatuh miskin lagi," gerutu Syila.
Raihan memesan taksi online untuk ke tempat yang pernah dia lihat banyak terdapat kosan. Raihan sejak tadi lebih banyak diam, selama dalam perjalanan. Inilah titik terendah di dalam hidupnya, harus merasakan di posisi paling terbawah. Raihan merasa terpuruk.
"Kembali ke laptop, harus merasakan hidup di kosan lagi," gerutu Syila. Dia pikir, menikah dengan Raihan, dia bisa merasakan hidup bahagia. Ternyata dirinya harus merasakan hidup menderita lagi.
"Permisi ibu, apa di sini ada kosan kosong? Saya berniat mau ngekos di sini," ucap Raihan.
"Kebetulan ada satu yang kosong, tetapi tak memakai AC. Hanya ada kipas saja," jelas sang penjaga kosan. Syila menunjukkan wajah kesalnya.
"Bagaimana? Enggak apa-apa ya? Daripada susah lagi cari yang kosong. Nanti, kalau aku sudah kerja dan mendapatkan gaji yang jelas. Kita pindah ke tempat yang lebih bagus ya! Sekarang semampunya dulu aja ya," rayu Raihan dan akhirnya Killa menganggukkan kepalanya. Mau tak mau dia menuruti keinginan suaminya itu.
__ADS_1
Tak terbayangkan, hidup mereka akan seperti apa selanjutnya. Selama ini Raihan begitu membela Syila, hingga dia harus hidup menderita seperti ini. Merasakan hidup di kontrakan yang sempit, dan kotor. Ditambah lagi hidup dengan wanita yang tak menerima keadaan, padahal dia seperti itu karena berjuang demi cintanya pada Syila.
"Mungkin aku berdosa, telah menyakiti hati mantan istriku dan anak dalam kandunganku. Hingga akhirnya Allah menghukum aku seberat ini. Ampuni aku," ucap Raihan dalam hati.
Besok Raihan berniat menemui Killa di rumahnya, untuk meminta maaf. Dia menyesal telah menyakiti hati Killa. Berharap Killa akan memaafkan dirinya. Raihan masih belum tahu, kalau Killa sudah tidak tinggal di situ lagi.
"Aku lapar," rengek Syila.
"Iya, sebentar ya aku belikan dulu keluar. Beli nasi padang saja ya," ucap Raihan. Dia mencoba menahan emosinya, dia berusaha untuk bersabar menghadapi keadaan ini.
Kamar itu hanya memiliki sebuah kasur kecil, lemari plastik. Mereka hidup dengan penuh keterbatasan, tanpa AC, televisi, dan fasilitas mewah lainnya. Untuk televisi dia hanya bisa menonton di luar, untuk dapur, dan kamar mandi pun berada di luar bercampur dengan yang lain.
Raihan berjalan keluar dari kosan untuk membeli makanan untuk dia dan juga Syila. Tanpa sadar, air matanya menetes satu persatu. Dadanya terasa sesak. Raihan tak mampu membendung perasaannya.
"Maafkan aku Killa, aku salah sama kamu. Seharusnya aku tak mengabaikan ucapan orang tua aku, seharusnya aku meninggalkan Syila sejak dulu. Aku baru menyadari, kalau kamu begitu berarti di hidup aku. Aku benar-benar kehilangan kamu. Aku baru menyadari, kalau aku mencintai kamu. Aku menyesal," ucap Raihan lirih.
Dia baru menyadari, kalau dia sudah berjalan sangat jauh dari kosan.
__ADS_1
"Dimana ini?" Raihan bermonolog. Dia mencoba bertanya kepada orang yang dia jumpai, dan dia harus putar balik ke arah kosan. Raihan berjalan setapak demi setapak, sambil melihat sekeliling. Hingga akhirnya Raihan menemukannya. Dia memesan dua paket nasi rames untuk dirinya dan juga sang istri. Setelah itu dia ke minimarket untuk membeli 4 botol aqua besar untuk minum semalaman ini.
Raihan baru saja sampai di kosan. Baru saja sampai, Syila sudah mengomeli dirinya. Karena datang lama, sedangkan perut dia sudah lapar. Syila tak tahu perjuangan dia untuk beli, membuat Raihan merasa kesal.