
"Brugh!"
Raihan mencoba menghindar dan membanting stir mobilnya, menabrak pembatas jalanan. Kecelakaan tak dapat terhindarkan. Benturan sangat keras. Mobil yang Raihan kemudikan ringsek, rusak parah. Kaca mobilnya pecah, tubuh Raihan terjepit, dan kepala Raihan terbentur stir mobil. Darah segar mengalir dari kepalanya.
Orang-orang berbondong-bondong hendak menolongnya. Namun, Raihan sulit dikeluarkan dari mobil. Satu dari orang tersebut, mencoba menghubungi pihak kepolisian untuk segera datang ke TKP. Dia juga mencoba menghubungi ambulance untuk membawa Raihan ke rumah sakit. Raihan sudah tak sadarkan diri.
Suasana terlihat ramai di tempat kejadian. Pihak kepolisian dan ambulance pun terlihat sudah datang ke TKP. Mereka masih berusaha untuk mengeluarkan Raihan dari mobilnya. Kondisi Raihan kritis, karena kehilangan banyak darah.
"Coba cari ponselnya! Kita harus segera menghubungi pihak keluarganya," ujar seseorang yang berada di TKP.
__ADS_1
Kejadian ini, memberi pertanda ke Bunda Bunga. Tiba-tiba saja, gelas yang dia pegang terlepas dari genggamannya. Perasaan hatinya pun, tiba-tiba saja tak enak. Seperti pertanda, ada hal buruk yang terjadi. Tetapi dia tak terpikir, kalau perasaan yang dia rasakan saat ini adalah sebuah tanda kalau anak semata wayangnya mengalami kecelakaan.
"Mas, kok dari tadi perasaan aku enggak enak ya? Kenapa ya?" Tanya Bunda Bunga kepada sang suami. Dia mengira kalau sang anak saat ini tak ada di rumah karena sedang bekerja.
"Semoga saja, ini hanya perasaan kamu saja! Berdoa saja!" Ujar Ayah Abi dan diaminkan oleh Bunda Bunga.
Raihan sudah berhasil di selamatkan, dan sekarang sudah dilarikan ke rumah sakit. Perasaan yang sempat tadi dia rasakan akhirnya terbukti. Kedua orang tua Raihan terkejut, saat melihat tayangan berita, yang menceritakan kejadian kecelakaan yang dialami Raihan sang anak. Bunda Bunga terlihat shock, dia langsung histeris, dan mengajak sang suami untuk pergi ke rumah sakit tempat sang anak dilarikan.
Sepanjang perjalanan, Bunda Bunga terus berdoa, berharap Allah memberikan kesempatan kepada sang anak untuk hidup. Ayah Abi mencoba menenangkan sang istri, yang sejak tadi terus menangis. Mereka baru saja sampai di rumah sakit. Ayah Abi langsung memarkirkan mobilnya, dan mereka langsung masuk ke dalam. Mencari keberadaan sang anak.
__ADS_1
Kondisi Raihan kritis, dia banyak melakukan transfusi darah. Bunda Bunga tampak menangis, dia merasa sedih melihat kondisi sang anak. Dia berharap, sang anak segera sehat kembali.
"Ya Allah, Tolong selamatkan anakku! Berikan dia kesempatan untuk hidup," ucap Bunda Bunga memohon kepada Allah, untuk kesembuhan anaknya. Suasana di rumah sakit tampak tegang, karena kondisi Raihan saat ini kritis.
"Mas ...," ucap Bunda Bunga. Dia tak mampu berkata-kata lagi. Hanya air mata yang mengiringi ucapannya.
"Semoga semuanya berjalan lancar! Kita bantu doa! Semoga dokter berhasil menyelamatkan anak kita," ucap Ayah Abi.
Berbeda halnya dengan Raihan yang saat ini sedang kritis, Killa justru sedang berbahagia. Saat ini dirinya sedang dalam perjalanan menuju hotel untuk melewati malam pertama mereka. Killa terpaksa menitipkan sang anak kepada sang ART. Killa meminta Dimas menyewakan satu kamar lagi untuk sang ART. Dia tak bisa berjauhan dengan Sakha, terlebih saat ini Sakha masih menyusu ASI kepadanya.
__ADS_1
Raihan merasa terpuruk. Perasaannya begitu hancur. Dia tak menerima pernikahan Killa dengan Dimas. Saat itu pikirannya begitu kacau, hingga tak fokus saat menyetir mobil.