
"Duh, gimana ya kak? Jujur, aku masih tak percaya kakak bicara seperti ini kepada aku. Aku jadi bingung harus bicara apa," sahut Killa.
"Jawab saja, La! Apapun keputusan kamu, kakak siap. Namun, kakak berharap, semoga jawaban kamu tak mengecewakan kakak," ucap Dimas.
Killa tampak terdiam. Jujur, dia masih belum berpikir untuk berumah tangga dalam waktu dekat ini. Dia masih ingin fokus mengurus anaknya. Suasana sempat hening seketika, mereka hanya saling pandang satu sama lain.
Sampai akhirnya, Killa membuat keputusan.
"Kak, maafin aku ya! Aku masih ingin hidup sendiri dalam waktu dekat ini, aku masih ingin fokus dengan anakku. Maaf ... banget! Aku belum bisa menerima kakak untuk sekarang ini. Tapi, tak menutup kemungkinan kalau suatu saat nanti aku menerima kakak sebagai pendamping hidup aku," jelas Killa. Dia berharap, kalau Dimas mengerti keputusannya.
Ada rasa kecewa di benak Dimas. Tetapi, dia tak bisa memaksa Killa. Dia harus terima keputusan Killa. Meskipun menyakitkan.
"Maaf ya, kak! Semoga kakak bisa menerima keputusan aku. Aku butuh waktu untuk menjalani rumah tangga kembali. Terlebih sebentar lagi anak aku lahir. Aku takut kakak nantinya kecewa, jika aku lebih fokus sama anakku. Aku masih ingin fokus dengan anakku," jelas Killa.
__ADS_1
"Iya, La. Kakak paham dengan keputusan kamu. Tapi, apa kakak masih boleh berjuang untuk mendapatkan cinta kamu?" Tanya Dimas. Killa pun menganggukkan kepalanya. Tanda, dia mempersilahkan Dimas untuk meluluhkan hatinya.
"Terima kasih ya, La! Semoga kelak, kamu bisa melihat perjuangan kakak untuk menyakinkan hati kamu. Rasa cinta yang kakak miliki, tulus untukmu."
Setelah selesai berbincang, Dimas pamit pulang. Killa mengantarkan Dimas sampai depan teras.
"Assalamualaikum." Dimas mengucap salam.
"Waalaikumsalam." Killa menjawab ucapan salam Dimas.
"Ya Allah, semoga keputusan aku tak salah. Maafkan Killa y Kak. Killa enggak mau, kalau nantinya akan mengecewakan kakak. Lebih baik Killa bicara apa adanya," ucap Killa.
Killa mengusap perutnya yang semakin besar. Hari persalinannya semakin dekat. Semua persiapan sudah dilakukan, hanya tinggal menunggu launchingnya baby boy.
__ADS_1
"Doakan bunda ya sayang! Semoga keputusan bunda ini yang terbaik. Doakan juga, semoga bunda bisa menjadi bunda yang baik untuk kamu, meskipun tanpa ayah," ucap Killa.
Dimas baru saja sampai di rumah. Dia terlihat lesu, tak bersemangat. Tentu saja hal itu membuat sang mama merasa curiga dengan sikap sang anak. Dimas menyenderkan tubuhnya di sofa.
"Kamu kenapa, Dim? Kok wajah kamu terlihat kusut, dan kamu juga terlihat tak bersemangat. Kamu ada masalah apa memangnya?" Tanya sang mama.
"Aku ditolak Ma sama Killa. Dia bilang, dia masih ingin menjalani kehidupan sendiri. Belum siap berumah tangga dalam waktu dekat ini. Dia masih ingin fokus mengurus anaknya," sahut Dimas.
"Sabar! Berdoa saja, semoga Killa adalah jodoh kamu. Teruslah bersemangat, dan jangan patah semangat! Mungkin benar, dia butuh waktu untuk membuka hatinya," ujar Mama Sonya dan akhirnya Dimas mengerti.
Jika nanti Killa memang jodohnya, pastinya mereka akan bersatu. Meskipun, halangan dan rintangan menerpa hubungan mereka.
Berbeda halnya dengan Dimas dan Killa, Raihan justru sedang memohon kembali kepada kedua orang tuanya. Agar mereka membantunya untuk menyatukan kembali dirinya dengan Killa.
__ADS_1
"Itu masalah kamu! Kamu harus tanggung semuanya. Siapa suruh kamu dulu seperti itu. Dulu diingatkan orang tua enggak dengar, sekarang menyesal. Ya sudah kamu terima saja penyesalan kamu seumur hidup. Sudah sana, kembali saja sama istri pilihan kamu!" usir Ayah Abi.