Kubuat Kau Menyesal!

Kubuat Kau Menyesal!
Permintaan Raihan


__ADS_3

Kondisi Raihan kritis, padahal dokter sudah melakukan operasi di kepalanya. Benturan di kepalanya sangat keras, hingga dirinya terkena geger otak. Dokter sudah memvonis umurnya tak lama lagi. Membuat sang bunda menangis histeris. Tak terbayang olehnya, jika dia harus kehilangan anak semata wayangnya. Rasa sayangnya yang begitu besar, justru menghancurkan anaknya.


Dulu, Bunda Bunga selalu menuruti keinginan anaknya. Rasa sayangnya kepada sang anak, membuat Raihan bertindak seenaknya dan sombong. Dia merasa memiliki segalanya, terlebih dirinya lahir dari keluarga berasa.


Berbeda halnya dengan Ayah Abi, yang justru bersikap keras. Dia ingin sang anak menjadi anak yang tak pengecut. Terlebih Raihan adalah anak laki-laki, harus bisa bersikap bijaksana, dan bertanggung jawab. Saat Raihan mulai dekat dengan Syila sekretarisnya, Ayah Abi sudah merasa tak suka. Dia sudah melihat gelagat tak baik pada Syila. Sampai akhirnya dia berniat untuk menjodohkan Raihan dengan Killa. Bagi Ayah Abi, Killa adalah wanita yang pas untuk sang anak.


Kini hanyalah tinggal penyesalan, entah siapa yang salah dalam hal ini. Namun yang pasti, Raihan harus menanggung atas semua perbuatan yang dia lakukan selama ini. Raihan hanya bisa terbaring lemah tak berdaya. Tak ada lagi yang bisa dia sombongkan.


"Raihan, Bunda mohon bangun! Jangan tinggalkan bunda! Ayo kita mulai semuanya dari awal! Ikhlaskan Killa, dia sudah bahagia dengan suami barunya! Bangun, Nak! Bunda yakin, suatu saat nanti kamu akan menemukan wanita pengganti Killa, dan kalian akan bahagia!" Bunda Bunga mencoba membangunkan sang anak. Air matanya terus menetes satu persatu, dan kini sudah membasahi wajahnya. Sebagai seorang ibu, Bunda Bunga pasti sangat sedih. Melihat anak yang dia sayang, kondisinya seperti ini.


Mendengar suara sang bunda. Perlahan Raihan membuka matanya, dan menatap wajah sang bunda yang terlihat sendu. Raihan dapat melihat air mata yang membasahi wajah sang bunda.

__ADS_1


"Bun, maafin Raihan ya! Selama ini Raihan sudah banyak menyusahkan Ayah dan Bunda. Maaf, Raihan belum bisa menjadi anak yang berguna. Anak yang menjadi kebanggaan Ayah dan Bunda. Semoga saja, kelak Sakha akan menggantikan posisi Raihan di hati Bunda dan Ayah. Raihan yakin, kalau Killa akan mampu mendidik Sakha menjadi anak yang baik, tak seperti aku yang hanya bisa menyakiti hati kalian. Maafin kesalahan Raihan ya Bun! Raihan titip Sakha, hanya Sakha yang Raihan miliki. Keturunan Raihan. Insya Allah, Raihan akan mengikhlaskan Killa. Raihan ingin Killa bahagia dengan laki-laki yang mencintai dia dengan tulus. Raihan yakin, Dimas akan membahagiakan Killa. Anggap saja, Sakha adalah Raihan kecil yang terlahir kembali," ucap Raihan.


Air mata Bunda Bunga mengalir semakin deras. Dia tampak menciumi tangan, pipi sang anak secara bergantian. Mendengar anaknya sudah sadar, Ayah Abi langsung menghampiri istri dan juga anaknya. Kini tatapan Raihan mengarah ke sang Ayah.


Ayah Abi mencoba menahan air matanya. Dia tampak menepuk-nepuk pundak sang anak untuk menguatkan. "Ayo jagoan Ayah, bangkit! Ayah yakin kamu pasti bisa sukses! Kamu adalah kebanggaan kami sampai kapanpun!" Ujar Ayah Abi. Ayah Abi menahan salivanya, dadanya terasa sesak. Matanya sudah terlihat memerah menahan tangisnya.


"Terima kasih ya, Yah, Bun! Kasih sayangmu sepanjang masa, meskipun aku sudah membuat kesalahan besar. Kalian tetap menyayangi aku. Maafkan anakmu ini yang tak berguna. Semoga Sakha akan menggantikan posisi aku di hidup kalian. Bun, Yah! Umurku mungkin tak panjang lagi. Apa aku boleh minta satu permintaan kepada kalian, untuk terakhir kalinya?" Tanya Raihan. Napas Raihan sudah mulai terasa berat, dia tampak meringis. Kepalanya terasa begitu sakit.


"Aku mohon, Yah! Tolong kabulkan permintaan aku secepatnya! Waktuku tak banyak di dunia ini! Aku ingin, sebelum aku pergi meninggalkan dunia untuk selamanya. Aku ingin bertemu Killa dan juga Sakha," ungkap Raihan.


"Baiklah, Ayah akan turuti permintaan kamu! Ayah akan menghubungi Killa, dan meminta dia ke sini, dan membawa Sakha untuk menemui kamu. Tapi, kamu sabar dulu ya! Ini sudah larut malam, takutnya Ayah mengganggu malam pertama mereka. Nanti, saat adzan subuh. Ayah akan menghubungi Killa. Sekarang kamu istirahat dulu ya!" Ujar Ayah Abi dan Raihan mengiyakan.

__ADS_1


Dokter mulai mengecek kondisi Raihan saat ini, kondisinya masih belum stabil. Hanya keajaiban dari Allah, yang bisa membuat dia bertahan hidup. Harapan untuk hidup lama, sangat tipis. Ayah Abi mengajak Bunda Bunga untuk keluar dari ruangan sang anak. Dia ingin mengajak sang istri untuk sholat, dan berdoa memohon untuk kesembuhan sang anak. Berdoa agar Allah memberikan yang terbaik untuk sang anak. Kini mereka sudah di luar ruangan.


"Yah, kalau Raihan meninggal gimana? Bunda rasanya enggak sanggup menghadapinya," ucap Bunda Bunga di iringi isak tangis. Dia tampak memeluk sang suami, meluapkan kesedihannya.


"Kematian seseorang, sudah ada yang mengaturnya. Sudah menjadi ketentuan Allah. Manusia tak ada yang tahu. Bisa saja, Allah memberikan kesempatan untuk Raihan bertahan hidup, dan menjalani kehidupan baru. Namun, jika Allah berkehendak lain, kita mau apa? Anak hanyalah titipan Allah, yang suatu saat akan dia ambil kembali. Sebagai orang tua, kita hanya bisa melakukan yang terbaik untuk anak kita. Dari pada kita berpikir dan mendahului Allah, lebih baik kita berdoa yuk! Memohon, agar Allah masih mau memberikan kesempatan kepada Raihan!" Ujar Ayah Abi. Dia mencoba memberi pengertian kepada sang istri.


Ayah Abi dan Bunda Bunga berjalan menghampiri mushollah yang berada di rumah sakit itu. Meskipun, Ayah Abi terlihat kuat. Dalam hatinya dia tetap saja merasa rapuh. Dia menangis saat berdoa memohon untuk kesembuhan sang anak. Dia terlihat begitu sedih. Terlebih lagi Bunda Bunga yang terlihat begitu rapuh. Jika sudah seperti ini, orang tua lah yang merasa sedih. Saat sang anak masih merasa hebat, tak sedikit pun dia memikirkan perasaan kedua orang tuanya.


Kasih sayang orang tua sepanjang masa. Meskipun sang anak telah melukai hatinya. Orang tua akan selalu memaafkan kesalahannya, dan berdoa untuk kehidupan yang lebih baik untuk sang anak. Mereka berharap, sang anak bisa sembuh, dan hidup normal kembali.


__ADS_1


__ADS_2