Kubuat Kau Menyesal!

Kubuat Kau Menyesal!
Arshaka Alfarizqi


__ADS_3

"Ayo, La semangat! Ini sudah terlihat kepalanya! Kamu coba mengejan cukup kuat, ingat panggulnya jangan di angkat! Nanti bisa robek, terus teriaknya jangan di tahan tenggorokan! Ayo. lepaskan!" Dimas terus memberi semangat.


"Aku sudah enggak kuat, Kak! Lemes banget badan aku, enggak ada kekuatan," ungkap Killa.


Bunda Bunga terus memberi semangat kepada Killa. Dia merasa tak tega melihat perjuangan Killa untuk melahirkan cucunya itu.


"Kakak yakin, kamu pasti bisa! Sayang sedikit lagi La! Nanti kalau sesar, penyembuhannya lama. Yuk coba lagi! Keluarkan tenaga kamu semaksimal mungkin! Setelah anak ini lahir, kamu bisa tenang!" Ujar Dimas, hingga akhirnya Killa mau berjuang kembali melahirkan buah hatinya.


"Ya Allah, aku mohon! Mohon lancarkan persalinan aku! Izinkan aku ingin melahirkan secara normal, agar aku bisa segera mengurus buah hatiku," ucap Killa, sambil dia berusaha mengejan mengeluarkan tenaganya semaksimal mungkin.


Hingga akhirnya, suara tangis bayi itu terdengar begitu nyaring di ruang bersalin. Killa tampak meneteskan air matanya penuh haru. Bunda Bunga langsung memeluk Killa.


"Makasih ya sayang, kamu sudah berjuang keras untuk melahirkan cucu Bunda. Kamu memang wanita yang luar biasa, Bunda bangga sama kamu," ucap Bunda Bunga.


"Selamat ya La! Anak kamu berjenis kelamin laki-laki, sehat, dan sempurna tanpa ada kekurangan satupun," ucap Dimas.


Dimas langsung memberikan anak itu kepada bidan yang membantu persalinan, untuk inisiasi menyusu dini.


Dimas menahan salivanya, saat sang bidan meletakkan bayi Killa di dada Killa untuk mencari ******. Membuat wajah Dimas tampak tegang.

__ADS_1


"Ya Allah, cobaan apakah ini? Aku harus melihat payu*dara dan juga area sensitif wanita yang aku cinta," ucap Dimas. Inilah cobaan terbesar, selama dia menjadi dokter kandungan.


"La, aku mau jahit sedikit dulu ya! Tahan sedikit ya kalau sakit," ujar Dimas.


Killa tampak malu-malu dan wajahnya terlihat memerah, saat Dimas melihat area sensitifnya. Killa tampak meremas ranjang tempat tidur, untuk menahan rasa sakit yang dia rasakan.


Dimas sudah bisa menghela napas panjang, saat dia sudah selesai menjahit jalur lahir bayi.


"Kita observasi dulu ya La! Jika kamu tak mengalami pendarahan, kamu bisa langsung dipindahkan ke ruang persalinan. Oh iya, selamat ya! Kamu sekarang sudah menjadi seorang ibu. Bayinya kamu sehat dan tampan. Wajahnya mirip kamu. Kamu mau kasih nama siapa, La?" Tanya Dimas.


Bunda Bunga sesekali melirik ke arah Dimas dan Killa yang sedang mengobrol. Saat itu dia sedang melihat cucunya yang sedang dibersihkan.


"Harus sekarang ya, Dok mengurusnya?" Tanya Bunda Bunga. Rasanya dia tak rela membiarkan mantan menantunya dekat dengan Dokter Dimas.


"Terserah Ibu saja si! Kalau Ibu ingin segera Killa dan bayinya segera dipindahkan ke ruang perawatan, Ibu harus cepat mengurusnya!" Ujar Dimas. Hingga akhirnya mau tak mau Bunda Bunga terpaksa meninggalkan Killa dengan dokter Dimas.


"Kak ...," panggil Killa.


"Emmm, Kenapa?" Tanya Dimas yang kini menatap wajah Killa lekat.

__ADS_1


"Makasih ya Kak," ucap Killa.


"Makasih, untuk?" sahut Dimas.


"Makasih karena kakak sudah menolong aku dan begitu sabar kepada aku," jelas Killa.


"Ya ampun, aku kira makasih kenapa. Ternyata makasih karena aku sudah menolong kamu. Ini sudah menjadi tugas aku La sebagai dokter kandungan kamu. Aku harus bersikap profesional. Ya, jujur. Meskipun buat aku grogi dan panas dingin saat harus melihat bukit kembar kamu dan menjahit area sensitif kamu. Ini pengalaman pertama yang aku rasakan, selama aku menjadi dokter kandungan. Biasanya, aku tak pernah seperti ini dengan pasien aku yang lainnya. Entahlah, mungkin karena aku ada perasaan dengan kamu," ungkap Dimas sambil tersenyum. Membuat wajah Killa memerah menahan perasaan malunya.


"Kakak berarti puas dong melihat punya semua pasien kakak," sindir Killa.


"Ya, iya. Tapi, aku tak bernap*su. Aku hanya menjalankan tugasku dengan baik sebagai seorang dokter kandungan yang profesional," jelas Dimas.


Berbeda halnya dengan Killa dan Dimas yang terlihat asyik mengobrol. Raihan justru seperti orang yang kebakaran jenggot. Sejak tadi hatinya terasa panas, membayangkan Killa bersama Dokter Dimas. Ada perasaan tak terima di benak Raihan. Ingin sekali rasanya dia masuk ke ruangan bersalin.


Killa mengatakan kalau dirinya memberi nama anak itu Arshaka Alfarizqi. Killa berharap Shaka panggilan sang anak menjadi anak yang dermawan yang kerap membagikan rezekinya untuk orang-orang yang membutuhkan. Dia juga berharap, anaknya kelak akan menjadi anak yang sholeh.


Kondisi Killa baik-baik saja. Tensinya pun normal. Dimas sudah memperbolehkan Killa pindah ke ruangan perawatan. Sang perawat langsung mengurus kepindahan Killa.


Raihan menunjukkan wajah tak suka, saat Dimas menemani Killa melakukan pemindahan ruangan. Dimas berjalan mengikuti Killa. Raihan tampak mengepalkan tangannya.

__ADS_1


__ADS_2