Kubuat Kau Menyesal!

Kubuat Kau Menyesal!
Kubuat Kau Menyesal


__ADS_3

Bunyi bel rumah Killa berbunyi, sang ART bergegas untuk segera melihat siapa yang datang. Saat itu jam menunjukkan pukul 08.30 pagi. Killa baru saja mandi, karena tadi dia habis menjemur Baby Sakha.


Sakha tumbuh menjadi anak yang sehat, dan semakin hari semakin menggemaskan. Dia sudah pintar tengkurep. Kini Sakha sudah berusia 3 bulan.


Melihat mantan mertua majikannya datang, sang ART langsung bergegas untuk membukakan pintu pagar rumah Killa.


"Ibu Killanya ada?" Tanya Bunda Bunga kepada sang ART.


"Ada bu. Tapi, lagi mandi. Tadi soalnya habis jemur si dede. Ayo masuk bu ke dalam!" Ujar sang ART.


Bunda Bunga dan Raihan masuk ke dalam rumah. Bunda Bunga mengetuk pintu kamar Killa, karena ingin masuk ke dalam kamar. Berbeda dengan Raihan yang hanya duduk di sofa.


Mendengar suara ketukan pintu, Killa langsung membukanya. Dia mengira, kalau yang mengetuk pintu kamar itu adalah sang ART. Membuat dia membuka begitu saja. Padahal saat itu dia hanya menggunakan handuk yang dililitkan. Alangkah terkejut keduanya, saat kedua mata mereka saling bertemu.


Killa langsung menutup pintu kamar secara spontan. Suatu keberuntungan untuk Raihan, dan musibah untuk Killa. Setelah memakai pakaian dan juga jilbab Killa langsung keluar dari kamar menemui Bunda Bunga dan juga Raihan.


"Bun, maaf ya tadi Killa langsung tutup. Killa pikir tadi si bibi. Mas, tolong kondisikan pikiran kamu ya, jangan mikir ya macam-macam!" Ucap Killa kepada Bunda Bunga dan beralih ke mantan suaminya.


"Iya, tenang saja! Aku juga cuma lihat sekilas saja, lagian aku juga sudah pernah melihat keseluruhan dan merasakannya. Makanya, ayo kembali lagi sama Mas!" Sahut Raihan dengan tak tahu malu.

__ADS_1


"Kamu pikir, hati aku terbuat dari apa? Enggak malu ya bicara seperti itu," sindir Killa yang langsung beranjak bangkit dari tempat duduk.


Killa langsung mengambil Sakha ke kamar. Karena Sakha terbangun dari tidurnya. Kemudian dia membawanya ke luar, dan Sakha langsung diambil oleh Bunda Bunga.


"Anak ayah tambah ndut banget si, tambah menggemaskan. Sini gendong sama ayah," ucap Raihan. Raihan berniat ingin mengambil Sakha dari sang Bunda, tetapi Sakha justru malah menangis seperti orang ketakutan. Membuat Killa tertawa geli. Anak sekecil itu saja sudah mengerti.


"Puas! Senang banget si kamu, melihat Sakha seperti itu," ucap Raihan ketus.


Dengan beraninya Raihan langsung menangkap tubuh Killa dan memeluknya erat.


"Mas, lepasin! Kita ini bukan suami istri lagi!" Killa mencoba melepaskan pelukan Raihan. Killa terlihat memukul-mukul tubuh Raihan.


"Habisnya kamu! Urat malu kamu sudah putus ya, Mas? Kok jadi orang enggak tahu malu banget si. Sekarang Mas bisa seperti ini, bulan depan sudah enggak bisa mas," sahut Killa ketus. Killa selalu berbicara ketus dengan Raihan. Meskipun dia terlihat welcome kepada Raihan, nyatanya dia sudah menutup rapat hatinya untuk tidak akan pernah memasukkan nama Raihan kembali di hatinya.


"Maksud kamu apa, La?" Tanya Raihan menyelidik. Dia kini menatap serius ke arah Killa.


"Insya Allah bulan depan aku menikah sama Dokter Dimas. Kami sudah lamaran, dan sepakat menikah," sahut Killa.


"Kamu lagi enggak ngeprank aku 'kan? Kamu bohong 'kan?" Raihan masih berharap, semua itu hanya untuk bohong dia. Raihan masih berharap, suatu saat nanti Killa akan membuka hatinya kembali.

__ADS_1


Sebenarnya, hal ini memang belum terjadi. Baru hanya omongan. Tapi, entah mengapa tiba-tiba saja dia ingin berucap demikian. Hatinya merasa yakin dengan pilihan hatinya, untuk menerima Dimas di hidupnya.


"Benar Mas, aku enggak bohong. Aku sudah merasa yakin. Kalau aku juga membutuhkan seorang pendamping yang menemani hari-hari aku. Bagaimanapun aku seorang wanita, aku butuh seseorang yang mencintai aku dengan tulus, dan aku yakin kalau Kak Dimas adalah laki-laki yang tepat untuk aku. Aku pun sudah selesai masa nifas, sudah diperbolehkan aku menikah kembali. Tapi, kamu tenang saja! Karena kami sudah sepakat untuk menunda memiliki momongan. Kami ingin fokus sama Sakha dulu. Insya Allah aku ingin memberikan Sakha ASI selama dua tahun. Kak Dimas mau mengerti. Dia pun akan berusaha menjadi papa yang baik untuk Sakha, meskipun kamu tetap menjadi ayah kandungnya," jelas Killa.


Hingga akhirnya terjadi perdebatan antara Killa dan dengan Raihan. Raihan merasa tak terima, dia merasa shock mendengar penuturan Killa mengenai keinginan Killa untuk menikah dengan Dimas. Membuat Raihan tersulut api kemarahan. Jika Killa menikah dengan Dimas, Raihan akan merebut hak asuh Sakha dari tangan Killa. Dengan alasan, pasti nantinya Killa akan mengabaikan Sakha.


"Lakukan saja, jika Mas ingin bersaing dengan aku! Jika sampai Mas melakukan hal itu, aku tak akan pernah memberikan kesempatan kepada Mas untuk dekat dengannya. Mas harusnya sadar, dengan apa yang Mas lakukan dulu kepada kami. Disaat aku hamil Sakha. Mas ke mana? Mas justru lebih sibuk dengan ja*lang itu. Dengan tegas Mas tak menginginkan anak kini. Lantas mengapa sekarang Mas justru malah meributkan hak asuh Sakha. Aku tak akan biarkan hal ini! Aku tidak terima! Meskipun Mas yang membuatnya, tapi aku ibunya. Aku yang mempertahankan dia untuk tetap hidup, aku yang berjuang agar dia bisa terlahir ke dunia. Aku ada hak melarang Mas untuk bertemu Sakha. Selama ini aku sudah bersikap baik sama Mas, memperbolehkan Mas untuk bisa dekat dengan Sakha. Tapi kok semakin lama, Mas malah semakin ngelunjak. Istilah kata, dikasih hati minta jantung!" Ucap Killa tegas.


Bahkan dia berbicara sambil bergetar. Dia sangat emosi. Hatinya terasa panas.


"Sudah ... sudah! Kalian itu malah bertengkar, kasihan Sakha dia jadi menangis melihat orang tuanya bertengkar," ucap Bunda Bunga.


Killa langsung mengambil Sakha dari tangan Bunda Bunga. Killa langsung menggendong dan mendekap hangat sang anak mencoba menenangkannya.


"Lebih baik sekarang Mas pergi dari sini! Aku tak akan terima Mas lagi di rumah aku, jika membuat aku merasa tak nyaman. Ini rumah aku, aku berhak menentukan siapa saja yang boleh menginjakkan kakinya di rumah aku. Untuk selanjutnya, aku yang akan mendatangi rumah Bunda bersama Sakha. Kita bertemu di sana saja, jika Mas ingin bertemu Sakha. Terlebih bulan depan aku akan menikah, sudah sepatutnya aku menjaga perasaan suamiku. Bagaimanapun, dulu kita pernah memiliki hubungan yang dekat. Bisa saja hal ini memicu kecemburuan pada suamiku nanti," ucap Killa tegas.


"Bun, aku mohon. Tolong beri pengertian kepada Mas Raihan. Tolong jaga sikapnya! Karena kami bukan lagi pasangan suami istri lagi. Tak baik seperti ini! Urusan kami hanya sekadar tentang Sakha. Tak lebih. Karena sampai kapanpun, aku tak akan pernah kembali kepadanya," ucap Killa kepada Bunda Bunga dan Bunda Bunga mengiyakan.


Dia tak bisa berkutik, dia harus terima dan hargai dengan keputusan yang Killa ambil. Semua ini karena kesalahan anaknya.

__ADS_1


Dengan perasaan kecewa akhirnya Raihan pergi meninggalkan rumah Killa. Killa benar-benar mampu mengobrak-abrik perasaan hatinya. Membuat dirinya menyesali perbuatannya dulu.


__ADS_2