Kubuat Kau Menyesal!

Kubuat Kau Menyesal!
Kelahiran Buah Hati


__ADS_3

"Aw, perut aku kenapa ya? Mengapa rasanya begitu sakit. Apa ini pertanda akan melahirkan?"


Saat itu jam menunjukkan pukul 10.00 WIB. Killa baru saja selesai mandi, dan perutnya tiba-tiba saja terasa sakit. Killa mencoba menarik napas panjang, dan mencoba untuk tenang.


"Bi ... bi!" Panggil Killa. Killa tertatih keluar dari kamarnya. Membuka pintu kamarnya dan menghampiri sang ART.


"Ibu mau melahirkan? Itu ibu pecah ketubannya," ujar sang ART.


"Iya Bi, ibu kayanya mau melahirkan. Tolong bawain koper ibu yang di kamar. Kamu temani ibu ke rumah sakit ya. Sekalian tolong bawakan charger ponsel ibu. Ponselnya juga jangan lupa, masukkan ke dalam tas!" Perintah Killa.


Killa juga berteriak memanggil supirnya untuk menyiapkan mobil. Wajah Killa mulai terlihat pucat, keringat mulai bercucuran membasahi wajahnya. Rasa sakit yang Killa rasa semakin menjadi. Ternyata hal itu dirasakan oleh Raihan juga. Dia mengalami kontak batin. Raihan pun merasakan mules secara tiba-tiba. Padahal, dia rencananya ingin berangkat bekerja.


"Kamu kenapa Rai?" Tanya sang bunda saat melihat sang anak yang meringis. Keringat mulai membasahi wajahnya.


"Enggak tahu ini Bun, tiba-tiba saja perut aku terasa mulas. Apa tadi aku makan sambal kebanyakan ya? Tapi, biasanya tak pernah seperti ini," ungkap Raihan.


Raihan sampai tak kuat berjalan, sampai-sampai sang bunda memapahnya ke sofa. Sang bunda juga meminta sang ART untuk membuatkan teh tawar hangat untuk sang anak, berharap bisa mengurangi rasa sakit yang dirasa sang anak.


Killa sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Dia baru teringat, kalau dirinya belum mengabari Bunda Bunga. Killa mencoba menghubungi Bunda Bunga. Mendengar ponselnya berbunyi. Bunda Bunga langsung bangkit dari tempat duduk, dan berjalan mengambil ponselnya. Dia langsung mengangkat telepon dari Killa.


"Waalaikumsalam. Iya, La. Kenapa?" sahut Bunda Bunga saat menerima panggilan telepon dari mantan menantunya itu.

__ADS_1


"Ma, aku kayanya mau melahirkan. Ini aku sudah mau sampai rumah sakit. Aku sudah pecah ketuban, dan perut aku sudah merasa kencang dan mulas," ucap Killa dengan napas yang terengah-engah. Dia sambil menahan rasa sakit yang dia rasakan saat itu.


"Berarti, rasa sakit yang Raihan rasakan saat ini karena kamu mau melahirkan. Raihan juga saat ini sedang merasa mulas. Ya sudah, bunda siap-siap dulu, dan langsung berangkat ya ke sana. Semangat ya sayang! Bunda yakin kalau kamu wanita yang kuat. Semoga diberikan kelancaran ya!" Ucap Bunda Bunga.


"Amin. Makasih ya bun doanya! Bun, maaf. Aku sudah sampai di rumah sakit. Aku akhiri dulu ya Bun," ucap Killa dan Bunda Bunga mengiyakan.


Killa langsung menghubungi Dimas. Mengatakan kalau dirinya sudah sampai di rumah sakit, dan akan melahirkan. Mendengar Killa mau melahirkan, Dimas ikut merasa deg-degan. Padahal, dialah yang akan menolong Killa melahirkan. Berbeda halnya saat menolong pasien lainnya. Dia menjadi tegang, tetapi dia berusaha untuk bersikap profesional.


"Tarik napas kamu yang panjang! Coba bersikap tenang! Yakinlah semuanya akan baik-baik saja! Kakak masih ada pasien di poli. Sebentar ya! Nanti kami biar di cek dulu sama bidan ya. Kalau memang pembukaan sudah lengkap, kakak akan ke sana," ucap Dimas dan Killa mengiyakan.


Rasa sakit semakin bertambah, karena pembukaan sudah lengkap. Killa mencoba menghubungi Dimas kembali. Membuat Dimas menjadi ikut tak tenang.


"Ka, ayo kak cepat ke sini! Aku sudah tak tahan lagi! Rasanya, anak ini sudah mau keluar," ucap Killa di iringi isak tangis. Membuat Dimas merasa tak tega.


Dimas langsung keluar dari ruangannya dan berdiri di depan ruangannya. Mengungkapkan, kalau dirinya harus membantu persalinan pasiennya. Dimas juga meminta maaf, untuk pasien selanjutnya terpaksa harus di pindahkan ke dokter lainnya. Untungnya para pasiennya mengerti, meskipun mereka kecewa. Karena yang dia tuju adalah dokter Dimas.


Dimas langsung bergegas menghampiri ruangan tempat Killa berada. Dia melihat wajah Killa yang sudah terlihat pucat. Dia langsung memerintah bidan dan juga perawat yang berada di sana untuk mempersiapkan persalinan.


"Apa tekanan darah pasien normal?" Tanya Dimas.


"Semuanya normal, Dok! Pembukaan juga sudah lengkap. Ketuban sudah pecah," jelas sang Bidan dan Dimas menganggukkan kepalanya. Ini adalah pengalaman pertama bagi Dimas selama menjadi dokter kandungan, yaitu membantu melahirkan wanita yang dia cintai.

__ADS_1


"Dok, di depan ruangan ada keluarga Ibu Killa. Katanya mertua dan suaminya. Mereka ingin masuk ke dalam menemani Ibu Killa melahirkan," jelas sang perawat.


Dimas merasa tak suka, dia menjadi lesu. Killa dapat merasakan hal itu. Namun, Dimas berusaha untuk bersikap profesional. Dia tak ingin egois, dia serahkan kepada Killa.


"Coba kamu tanya sama Ibu Killa!" Ujar Dimas kepada sang perawat.


"Saya hanya mau di dampingi Bunda Bunga," ucap Killa tegas.


Sang perawat berniat menyampaikan pesan ini kepada Bunda Bunga dan juga Raihan. Raihan merasa tak terima, karena dia merasa kalau dialah ayah dari anak yang akan dilahirkan oleh Killa. Bunda Bunga pun mencoba memberikan pengertian kepada sang perawat. Raihan tampak seperti orang yang kesetanan, terlebih dia tahu kalau Dimas memiliki perasaan kepada mantan istrinya itu.


Raihan langsung menerobos masuk ke dalam ruangan, hingga menimbulkan keributan.


"La, kamu tak bisa seperti ini! Aku ini ayah dari anak yang kamu kandung! Aku yang berhak yang mendampingi kamu melahirkan!" Cerocos Raihan.


"Iya, kamu memang ayahnya. Tapi urusan kamu nanti, setelah anak ini lahir. Aku akan memperjuangkannya dulu! Tolong jangan buat masalah! Aku tak sudi melihat kamu di sini! Tolong usir dia dari ruangan ini! Saya tak melahirkan di dampingi dia!" Ucap Killa tegas.


Hingga akhirnya mereka terpaksa mengusir Raihan secara paksa dari ruangan bersalin, dan mengancam akan mengusir Raihan dari rumah sakit, jika membuat masalah. Akhirnya Raihan mengerti, meskipun dia merasa kecewa. Karena tak bisa mendampingi Killa melahirkan.


"Brengsek! Pasti Killa seperti ini karena pengaruh Dokter sialan itu! Aku ini ayah dari anak itu, seharusnya aku yang berada di samping kamu!"


Raihan tampak mengacak-acak rambutnya, pakaiannya juga menjadi tak karuan. Dia merasa tak terima di perlakuan seperti ini. Bahkan, dia tak bisa melihat pertama kali anak itu lahir.

__ADS_1


Di dalam ruangan, Killa sedang berjuang untuk melahirkan buah hatinya. Dimas tampak telaten membantu Killa melahirkan, meskipun dia sempat merasa deg-degan, dan juga grogi.


__ADS_2