Kubuat Kau Menyesal!

Kubuat Kau Menyesal!
Menerima Dimas


__ADS_3

Raihan dan Bunda Bunga sudah pamit pulang. Untuk sementara waktu, Killa tidur di kamar tamu yang berada di bawah. Sampai dirinya pulih.


"Anak Bunda yang pintar, jangan rewel ya! Bunda mau mandi dulu, agar tubuh Bunda bersih saat nanti kamu menyusu," ucap Killa. Killa bersyukur saat mengerti kehidupan sang bunda. Sakha begitu anteng, tidur dengan nyenyak.


Bahkan sang bunda sudah selesai mandi pun, Sakha masih saja tertidur nyenyak. Hingga akhirnya Killa berniat melakukan pumping, untuk stock yang dimasukkan ke dalam botol. Jika nanti dia sedang sibuk.


Killa sudah menyakinkan hatinya, kalau dia akan memilih Dimas sebagai calon suaminya. Sama halnya dengan yang lain, dia pun ingin hidup bahagia dengan laki-laki yang benar-benar mencintai dirinya dengan tulus. Killa berharap, Dimas akan menjadi pendamping hidupnya hingga akhir hayat.


Suara dering ponsel Killa berbunyi.


"Siapa ya yang telepon?" Killa bermonolog.


Akhirnya, Killa menghentikan dahulu pumpingnya. Untuk menerima panggilan telepon. Killa langsung mengambil ponselnya, dan ternyata Dimas yang menghubunginya.


"Assalamualaikum, Kak," ucap Killa, saat menerima panggilan telepon dari Dimas.


"Waalaikumsalam. Sakha gimana La? Anteng?" Tanya Dimas.


"Alhamdulillah Kak, anteng banget. Tadi aku tinggal mandi, dia lagi tidur. Aku selesai mandi, masih tidur juga. Ini akhirnya aku pumping, masukin ke dalam botol Kak, habisnya sakit banget kalau penuh. Alhamdulillah ASInya melimpah, Sakha enggak akan kekurangan stok ASI," sahut Killa.


"Syukurlah.Tapi La, kamu harus tetap susui Sakha. Jangan biarkan dia tidur terus. Bayi yang baru lahir memang cenderung seperti itu, dia masih banyak tidur. Kita sebagai, seorang ibu harus rajin menyusui. Nanti kalau udah di tempelin pu*ting, dia pasti akan menyusu. Semangat ya La! Nikmati prosesnya menjadi ibu baru, terlebih usia kamu masih dibilang muda. Nanti, setelah pulang kerja. Kakak mau main ke rumah Killa boleh? Killa mau makan apa? Biar kakak belikan. Biasanya, ibu menyusui mudah lapar. Oh iya, mantan suami kamu masih ada enggak? Kalau ada, kakak nanti saja ke rumah kamunya. Malas bertemu mantan suami kamu yang tak tahu diri itu," cerocos Dimas.


"Hehehehe. Jangankan kakak. Aku saja sebel banget. Dulu, jahat banget dia sama aku. Sekarang, ngajak aku balikkan terus. Enggak sadar apa, kalau dia dulu nyakitin aku terus. Sudah pulang kak dari tadi, kakak tenang saja. Kalau kakak mau ke rumah, ke rumah saja! Aku pesan apa ya? Emm, bakso kali ya enak. Pengen yang seger-seger kak. Makasih ya kak sebelumnya. Jadi ngerepotin kakak," ujar Killa.


Obrolan mereka terhenti, karena Sakha bangun dari tidurnya. Killa langsung menggendong sang anak untuk disusui. Killa begitu menikmati perannya sebagai seorang ibu. Dia sangat menyayangi Killa, mencurahkan segenap rasa sayangnya untuk sang anak.


"Semoga kelak, Sakha menjadi anak yang sholeh. Anak yang bertanggung jawab, dan menghargai seorang wanita. Jika nanti Sakha berkeluarga, Sakha harus jadi kepala keluarga yang baik, dan jangan pernah sakiti istri Sakha. Seperti yang ayah lakukan kepada Bunda," ucap Killa sambil mengusap kepala sang anak lembut.

__ADS_1


Dimas baru saja sampai di rumah Killa, tak lupa dia juga membawa bakso sesuai pesanan Killa. Dimas membelikan tiga bungkus bakso. Untuk supir Killa, Killa, dan juga ART Killa.


"Sebentar ya Pak, saya panggilkan Ibu Killa dulu," ucap sang ART.


"Iya, Bi. Terima kasih. Nanti jangan lupa ya Bi, tolong tuangkan baksonya ke mangkuk yang untuk Ibu Killa!" Ujar Dimas dan sang ART mengiyakan.


Kini Dimas berada di ruang tamu. Ternyata, Killa sedang tidur. Mendengar suara ketukan pintu kamar, perlahan Killa pun membuka matanya.


"Kenapa, Bi?" Tanya Killa dari kamarnya. Dengan suara ciri khas baru bangun tidur.


"Ada Pak Dimas Bu, datang," sahut sang ART dari luar.


"Ya sudah, suruh tunggu dulu! Tolong buatkan minum Bi!" Ucap Killa.


Killa langsung mencuci mukanya dan langsung mengganti dasternya dengan gamis santai. Kemudian memakai jilbabnya.


Killa keluar menghampiri Dimas.


"Enggak kok, baru. Justru kakak yang minta maaf. Gara-gara kakak datang, kamu jadi keganggu tidurnya," sahut Dimas.


Tak lama kemudian sang ART datang membawa nampan berisi satu mangkuk baso, dan juga dia buah sirup.


"Ini bakso dari kakak ya? Makasih ya," ujar Killa.


"Iya. Tapi enggak tahu juga itu, enak apa enggak. Soalnya tadi kakak beli di jalan yang ke arah rumah sini," jelas Dimas.


"Kakak mau enggak? Bagi dua ya sama aku?" Killa menawarkan bakso kepada Dimas.

__ADS_1


"Enggak usah, buat kamu saja! Tadi kakak sudah makan nasi padang di jalan. Ibu menyusui pasti 'kan laper terus," sahut Dimas.


Dimas tampak memperhatikan Killa yang saat itu sedang makan bakso, sambil mereka mengobrol. Killa merasa nyaman mengobrol dengan Dimas. Terlebih Dimas memang mencintai Killa, Killa dapat merasakan dari sorot matanya.


Killa sudah selesai makan, dan dia berniat untuk bicara serius dengan Dimas. Killa sudah memutuskan, setelah masa nifas selesai. Dia siap menerima lamaran Dimas.


"Kak ...," ucap Killa yang kini menatap serius ke arah Dimas.


"Kenapa?" Tanya Dimas lembut.


"Aku sudah berpikir matang, dan aku memutuskan untuk menerima kakak sebagai pendamping aku," ungkap Killa.


"Beneran? Serius kamu?" Tanya Dimas untuk memastikannya lagi, Killa pun menganggukkan kepalanya dengan malu-malu.


"Alhamdulillah. Kakak semalam mimpi apa ya? Sumpah, kakak masih tak menyangka. Seperti sebuah mimpi. Makasih ya sayang, sudah mau menerima kakak di hidup kamu. Kakak janji, akan selalu mencintai kamu, dan kakak berjanji tidak akan menyakiti hati kamu," ungkap Dimas. Karena dia memang benar-benar mencintai Killa.


"Iya, Kak. Semoga langkah kita di ridhoi Allah. Dilancarkan semuanya. Tapi, kita tunggu masa nifas dulu ya kak. Terus satu lagi, kakak yakin mau menerima aku yang sudah tak perawan lagi, dan bahkan aku sudah melahirkan satu orang anak?" sahut Killa.


Kala mengingat proses persalinan Killa, Dimas menjadi terkekeh.


"Dih, kakak kenapa? Kok jadi tertawa dan senyum-senyum tak jelas si," ujar Killa.


Dimas menceritakan kepada Killa, saat dirinya kemarin membantu proses persalinan Killa. Baru kali itu dia merasakan panas dingin, membantu persalinan pasiennya.


"Untung saja, aku kemarin tak salah jahit. 'Kan repot kalau aku jahit punya kamu semuanya. Asli, aku sempat stres tahu. Pas membantu persalinan kamu," sahut Dimas. Mereka tertawa bersama. Lucu kala mengingat saat-saat itu, karena Killa pun awalnya merasa risih dan malu, saat Dimas harus membantu melahirkan, dan menyentuh miliknya saat menjahit. Dimas juga harus melihat payu*dara Killa saat inisiasi menyusui dini.


"Nanti enak dong aku, kalau aku hamil anak kakak. Yang bantu melahirkan, suaminya sendiri," ujar Killa sambil senyum-senyum. Killa terlihat sekali bahagia.

__ADS_1


"Hahahaha. Kakak belum bisa janji. Kira-kira nanti kakak bisa apa enggak ya? Jangan-jangan malah lemas duluan," sahut Dimas. Mereka langsung tertawa bahagia.



__ADS_2