Kubuat Kau Menyesal!

Kubuat Kau Menyesal!
Kecemburuan Raihan


__ADS_3

Hari ini adalah jadwalnya Killa periksa kandungan. Dia sudah mengabari ke Bunda Bunga tentang rencananya periksa kandungan. Mendapat informasi dari sang Bunda, tentu saja Raihan merasa senang. Inilah kesempatan baginya untuk mendekati Killa.


"Bun, bilang saja sama Killa. Nanti kita jemput dia saja dulu, dia suruh tunggu di rumah saja," ujar Raihan.


"Iya, nanti coba Bunda bicara sama dia dulu. Semoga saja dia mau satu mobil sama kamu," sahut sang Bunda. Membuat Raihan menelan salivanya.


Bunda Bunga mencoba menghubungi Killa, untuk memberitahu rencana Raihan. Mendengar ponselnya berbunyi, Killa langsung mengambil ponselnya yang berada di atas meja rias. Dia baru saja selesai mandi.


"Assalamualaikum. Iya, bun. Ada apa?" Tanya Killa.


"Waalaikumsalam. La, gimana kalau nanti kita berangkat bareng saja ke rumah sakitnya. Nanti Bunda sama Raihan jemput kamu dulu ke rumah," ujar Bunda Bunga.


Killa terdiam, dia tampak sedang berpikir. Sebenarnya dia sangat malas satu mobil dengan mantan suaminya itu. Terlebih Raihan secara terang-terangan berniat untuk meminta rujuk kembali dengannya. Jika mengingat hal itu, hatinya terasa sakit kembali.


"Gimana La?" Tanya Bunda Bunga kembali memastikan mantan menantunya itu.


"Emmm, gimana ya Bun? Sebenarnya aku risih satu mobil sama Mas Raihan. Lagi pula, jadinya Mas Raihan tahu rumah baru aku. Aku jadi bingung. Kami 'kan bukan pasangan suami istri lagi," ungkap Killa.


Hingga akhirnya Bunda Bunga mengerti keputusan Killa. Mereka sepakat untuk bertemu di rumah sakit. Bunda Bunga dan Killa sepakat mengakhiri panggilan telepon. Karena mereka harus bersiap-siap.


"Gimana Bun? Killa ngizinin enggak?" Tanya Raihan saat sang Bunda mengakhiri panggilan telepon dengan Killa.


"Enggak mau dia. Kamu si dulu bertingkah. Ya sudah sekarang tanggung akibatnya. Kita harus terima keputusannya. Sudah ayo siap-siap, nanti telat ke rumah sakitnya," sahut Bunda Bunga.


Wajah Raihan terlihat lesu tak bersemangat.


"Nyesel 'kan? Ya sudah tanggung saja akibatnya," sindir Bunda Bunga. Bunda Bunga langsung pergi meninggalkan Raihan, untuk bersiap-siap.


"Masa iya, seorang Raihan tak bisa menaklukkan hati kamu La? Ok, saat ini kamu masih menolak aku. Kita lihat nanti," ucap Raihan sombong.

__ADS_1


Sama halnya dengan sang Bunda, Raihan pun langsung ke kamarnya untuk berganti pakaian. Mereka kini sudah sama-sama siap, dan tinggal berangkat. Demi bisa mengantarkan Killa periksa, Raihan rela izin bekerja.


Bunda Bunda dan Raihan sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit. Killa pun kini sudah dalam perjalanan menuju rumah sakit.


Dimas terlihat sudah tak sabar menanti kedatangan wanita yang dia cinta. Sejak tadi dia memperhatikan daftar pasien yang akan periksa padanya, tetapi tak ada satupun nama Killa.


Dimas tak tahu, kalau hari ini Killa akan datang bersama Raihan dan Bunda Bunga. Killa sudah sampai di rumah sakit, dia langsung melakukan daftar ulang di bagian pendaftaran. Setelah itu dia memilih langsung ke poli, menunggu Bunda Bunga dan Raihan di sana.


Tak lama kemudian, Raihan dan Bunda Bunga pun sampai di rumah sakit. Bunda Bunga langsung menghubungi Killa untuk menanyakan keberadaan Killa.


"Killa dimana, Bun?" Tanya Raihan. Kini mereka berdua masuk ke dalam.


"Dia nunggu di poli, kita langsung ke sana," ujar Bunda Bunga dan Raihan mengiyakan. Keduanya langsung menuju poli.


Melihat Raihan dan Bunda Bunga datang, Killa langsung mencium tangan mantan mertuanya. Sedangkan dengan mantan suaminya, dia terlihat cuek. Bahkan memilih untuk diam, menganggap Raihan tak ada. Membuat Raihan salah tingkah.


"La, kenapa si kamu masih bersikap keras hati? Kenapa kamu masih saja menolak aku? Padahal, anak kita itu butuh orang tua yang lengkap. Kelak anak itu akan membutuhkan figur seorang ayah," ucap Raihan dalam hati. Dia tak berani mengutarakan hal ini kepada Killa.


Saatnya Killa di panggil, ketiganya masuk ke dalam ruang periksa. Dimas tampak mengerutkan keningnya melihat laki-laki yang datang bersama Killa dan Bunda Bunga.


Dimas sempat menatap Raihan sekilas, membuat Raihan merasa curiga dengan Dimas. Dia merasa, kalau Dimas seperti tak menyukai dirinya.


"Mengapa aku melihat, tatapan dokter itu seperti tak suka kepadaku. Apa dokter itu menyukai Killa?" Raihan bermonolog.


Raihan merasa tak suka melihat kedekatan Dimas dan Killa. Bahkan Killa memanggil sang dokter, dengan panggilan kakak.


"Mengapa Killa terlihat akrab dengan dokter itu, bahkan Killa memanggil dokter itu dengan sebutan kakak," ucap Raihan dalam hati.


Sejak tadi Raihan merasa panas. Ingin sekali dia bicara, kalau dia merasa tak suka. Ya, Raihan cemburu. Cemburu melihat kedekatan mantan istrinya itu dekat dengan sang dokter kandungannya.

__ADS_1


"Nanti, kalau sudah mulai ada tanda-tanda. Kamu hubungi kakak saja ya!" Perintah Dimas.


"Bahkan sampai sekarang, kamu tak juga memberitahu kalau aku ayah dari anak yang kamu kandung," ucap Raihan dalam hati.


"Apa dia mantan suaminya Killa ya?" Dimas bermonolog. Keduanya sama-sama sibuk dengan pemikirannya.


Sampai akhirnya Raihan dengan percaya diri, ikut bicara.


"Apakah istri saya boleh ditemani saat persalinan?" Tanya Raihan. Sejak tadi dia merasa gemas.


Tentu saja ucapan Raihan, membuat Killa merasa kesal.


"Mas ...," protes Killa. Raihan meletakkan jari telunjuknya di bibir, sebagai tanda kalau Killa tak boleh protes.


Sama halnya dengan Raihan, Dimas pun merasa tak suka.


"Oh, jadi Anda itu mantan suami Killa? Mengapa sudah jadi mantan, malah mau nemani periksa? Giliran masih berstatus suami, Anda justru membiarkan Killa untuk periksa sendiri. Miris sekali nasibnya Killa," sindir Dimas membuat Raihan naik pitam.


Tangannya sudah terlihat mengepal dan ingin sekali memberikan tonjokan ke wajah Dimas. Raihan merasa tak terima meskipun kenyataannya memang benar.


"Jangan ikut campur! Kau ini hanya seorang dokter! Tugas kamu hanya memeriksa, bukan untuk ikut campur masalah pribadi pasien," sindir Raihan dengan sombongnya.


"Ya, Anda benar. Jika saya hanya seorang dokter, rasanya tak pantas berkata demikian. Tapi lain ceritanya. Karena Killa adalah sahabat dari adik saya, rasa iba saya semakin tinggi. Dia harus menjalani pernikahan palsu, dan menjalani kehamilannya sendiri," jelas Dimas.


"Sudah kak! Sudah, tak perlu dibahas! Aku pun sudah melupakannya! Aku hanya fokus dengan kesehatan anakku. Lebih baik kakak fokus periksa saja," pinta Killa. Dimas pun mengiyakan.


Killa tak peduli lagi dengan urusan cintanya dulu dengan sang mantan suami. Dia ingin fokus kepada kelahiran buah hatinya. Meskipun tanpa di dampingi ayah dari anaknya. Killa sudah berusaha untuk kuat demi buah hatinya.


__ADS_1


__ADS_2