
"Apa penyakit endometriosis harus melakukan operasi pengangkatan rahim?" Tanya sang ibu. Dia berharap sang anak tidak sampai mengalami hal seperti itu. Bagaimana nanti nasib sang anak. Jika sang anak tahu, kalau dirinya harus di angkat rahimnya.
"Ini yang terbaik. Daripada nantinya akan menjalar ke penyakit lainnya. Karena anak ibu, mengalami kelengketan hingga dinding rahim. Nantinya, bisa menyebar menjadi kanker rahim. Yang bisa membahayakan nyawa anak ibu. Jika masih di titik aman, penyakit endometriosis sebenarnya tak harus operasi. Hanya saja, saat menstruasi pastinya akan mengalami rasa sakit yang luar biasa. Bahkan, ada yang sampai pingsan. Karena saking sakitnya, dan dia tak mampu menahannya," jelas sang dokter.
Diantara dua pilihan. Tidak di angkat enggak masalah, tetapi harus siap menahan rasa sakitnya, dan nantinya bisa menyebar ke kanker. Kalau diangkat, rasa sakit tak lagi di rasa. Tetapi, tak bisa memiliki anak. Karena sudah tak memiliki rahim.
Perlahan, Syila membuka matanya. Dia langsung melihat sekitar. Air matanya menetes satu persatu, dia tak menyangka kalau dirinya bisa terselamatkan. Dia kira, dirinya sudah mati meninggalkan dunia untuk selamatnya.
__ADS_1
Mendengar sang anak sudah sadar, tentu saja kedua orang tua Syila begitu senang. Karena akhirnya, sang anak bisa selamat. Namun, rasanya begitu sedih kalau mengingat sang anak tak akan bisa memiliki anak.
"Ibu sama Bapak ke sini? Siapa yang menghubungi kalian?" Tanya Syila dengan suara yang masih terdengar lemas. Kedua orang tua Syila, memilih untuk menahan tidak langsung bicara kepada Syila tentang kondisi Syila saat ini. Mereka berusaha untuk kuat dan menahan rasa sedihnya, di depan sang anak.
"Iya, saat ibu menghubungi kamu. Ibu diberi tahu, kalau kamu masuk rumah sakit. Makanya, kami langsung berangkat ke Jakarta untuk melihat keadaan kamu," jelas sang ibu.
"Aku sudah lama bercerai dengannya. Aku selingkuh, dan Mas Raihan melihatnya. Saat itu juga dia menceraikan aku," jelas Syila dengan wajah penuh penyesalan. Ucapannya membuat sang ibu membulatkan matanya dengan sempurna. Dia benar-benar dibuat terkejut, mendengar penuturan sang anak.
__ADS_1
"Dasar wanita bodoh! Bukannya suamimu itu pemilik perusahaan? Sudah begini, kau sendiri yang repot. Kau tahu, dokter bilang rahimmu rusak. Harus diangkat. Tak akan ada lagi yang mau padamu!" sahut sang ibu membuat Syila menangis, meneteskan air matanya. Semua sudah terjadi, dan tak akan pernah bisa kembali seperti dulu lagi.
Sang suami merasa kesal dengan sikap sang istri. Sebagai seorang ibu yang baik, tak pantas bicara seperti itu. Di saat sang anak sedang terpuruk memikirkan nasibnya. Syila merasa hancur. Tak ada lagi yang bisa dia banggakan sebagai seorang wanita.
"Lebih baik aku mati! Tak ada gunanya juga aku hidup! Hidupku sudah hancur! Hiks ... hiks ... hiks!" Syila terisak tangis. Dia menyesal telah mengkhianati Raihan, padahal Raihan dulu sangat mencintai dirinya. Dia rela memperjuangkan dirinya, dan harus hidup susah.
"Mungkin ini balasan untukku, karena mempermainkan rahim. Bahkan aku dulu yang telah membuat Killa harus berjuang sendiri mempertahankan bayinya. Aku memang wanita yang tak memiliki perasaan. Padahal, aku sama-sama seorang wanita. Ya Allah, aku menyesal. Aku menyesal! Ampuni aku ya Allah! Ampuni semua kesalahan yang aku telah perbuat dulu," ucap Syila. Dia terlihat begitu rapuh.
__ADS_1