
"La, aku mohon! Aku ingin bicara dulu sebentar sama kamu!" Ujar Syila dengan wajah yang mengiba.
"Sebenarnya, aku malas bicara padamu! Malas berurusan denganmu lagi. Tapi ... ya sudahlah! Kalau memang kau ingin bicara sebentar, karena waktuku tak banyak. Aku harus pulang, tadi habis menjenguk Raihan yang kritis," ucap Killa.
"Apa? Raihan kritis, La?" Tanya Syila untuk memastikan.
"Ya. Tapi, alhamdulillah sudah sadar. Semoga saja kondisinya semakin membaik, dia mengalami geger otak dan kelumpuhan. Kondisinya memprihatinkan. Setelah habis sholat subuh, ayah Abi menghubungi aku, dan memberi kabar kalau Raihan kecelakaan. Dia tak terima aku menikah. Dia sempat mengajak kembali, tetapi aku menolaknya," jelas Killa.
"Semua gara-gara aku, rumah tangga kalian harus hancur. Aku pun menyesal, telah selingkuh darinya. Padahal, aku mencintainya. Hidupku benar-benar hancur La. Maafkan aku ya, La! Aku ingin tenang, saat pergi menghadap sang pencipta nanti. Aku berdosa padamu. Hingga akhirnya, Allah menghukum aku seperti ini. Awalnya, aku mengidap penyakit endometriosis. Rahimku harus diangkat, dan kini justru berkembang menjadi kanker rahim stadium 4. Kedatangan aku ke sini, karena aku menjalani kemoterapi. Aku di rujuk dari rumah sakit di kampungku. Kini aku tinggal di rumah singgah yang disediakan pihak rumah sakit untuk pasien yang tinggal jauh. Sekali lagi, aku minta maaf. Aku juga ingin bertemu Raihan. Dia di ruang apa, La?" Ujar Syila.
__ADS_1
Dimas terpaksa mencari keberadaan Killa, karena Killa tak kunjung kembali. Dia khawatir kepada istrinya, takut terjadi hal buruk dengan sang istri. Ternyata, dia melihat sang istri yang sedang mengobrol dengan seorang wanita. Dimas berjalan menghampiri sang istri.
"Sayang, aku tunggu dari tadi. Ternyata, kamu masih di sini. Apa masih lama? Sakha sudah rewel, sejak tadi," ucap Dimas kepada sang istri.
"Ya, sudah! Aku pamit! Aku sudah maafkan kamu, tak perlu khawatir lagi! Semoga kamu lekas sehat, dan bisa hidup normal lagi. Kamu coba saja ke tempat Raihan ya nanti! Dia di ruang ICU," ucap Killa.
Dimas menggandeng tangan Killa mesra, Syila menatapnya kepergian Killa dari jauh. Syila tampak meneteskan air matanya, dia teringat atas apa yang dia lakukan dulu. Di mana dia dulu telah merebut kebahagiaan Killa dengan Raihan, dan pada akhirnya dia tak bisa merasakan kebahagiaan. Hidupnya kini justru menderita.
"Memangnya, wanita itu siapa kamu?" Tanya Dimas kepada sang istri.
__ADS_1
"Dia mantan mauku, mantan istri Raihan. Dia yang membuat rumah tangga aku dengan Raihan hancur," jelas Killa.
"Pantas saja Allah menghukumnya. Dia dulu jahat padamu. Lantas, kamu memaafkan dia?" Tanya Dimas.
"Ya, tentu saja! Kamu lihat kan, kondisi dia sekarang ini? Aku tak tega. Lagi pula, aku memang sudah melupakannya. Aku sudah tak peduli. Allah telah menggantikan rasa sedihku, dengan kebahagiaan. Untuk apalagi, aku melanjutkannya dengan membenci dia? Allah pun sudah menghukumnya, aku tak perlu lagu membalasnya," sahut Killa.
Dimas merasa salut dengan istrinya, yang begitu baik mau memaafkan orang yang telah menyakiti hatinya. Kini mereka sudah dalam perjalanan pulang. Rencananya, mereka ingin mampir dulu, untuk makan, dan baru setelah itu mereka akan pulang ke rumah.
__ADS_1