
"Aw, sakit perut aku. Sakit banget," ucap Killa.
Tiba-tiba saja perutnya terasa sangat sakit. Bahkan kini keringat bercucuran membasahi wajahnya, karena ras sakit yang luar biasa.
Uang pun dia tak ada. Syila benar-benar mati kutu tak berkutik.
"Tolong! Tolong saya! Tolong bawa saya ke rumah sakit!" Teriak Syila. Dia berharap, ada orang yang merasa iba kepadanya. Yang mau menolong dirinya. Bayangan kematian menari di pikirannya.
"Ya Allah, aku mohon! Tolonglah aku! Hiks ... hiks ... hiks." Hanya air mata yang mewakili perasaannya saat itu.
Semakin lama rasa sakit yang Syila rasakan semakin bertambah, hingga dirinya tak mampu menahannya lagi. Pertahanan Syila, akhirnya runtuh. Syila jatuh pingsan, tergeletak di jalan. Darah segar mengalir dari selangkangannya.
Awalnya, tak ada yang berani menolongnya. Mereka tak ingin nantinya bermasalah. Mereka membiarkan Syila begitu saja.
__ADS_1
"Kalau kita tak menolongnya. Dia akan mati, kasihan! Lihatlah, wanita itu mengeluarkan darah dari selangkangannya. Kita harus bawa dia ke rumah sakit," ujar seorang pria yang merasa iba saat melihat kondisi Syila saat itu.
Dengan pertimbangan matang, akhirnya ketiga pria yang melihat Syila memutuskan untuk membawa Syila ke rumah sakit. Syila sudah tak sadarkan diri. Sesampainya di rumah sakit, Syila langsung di bawa ke IGD untuk mendapatkan pertolongan.
Kondisi Syila kritis, dia membutuhkan transfusi darah. Pihak rumah sakit membutuhkan informasi untuk menghubungi pihak keluarga Syila. KTP Syila masih menggunakan alamat Bandung. Membuat mereka bingung mencari identitas Syila. Ponsel Syila pun di password. Membuat pihak rumah sakit sulit mendapatkan informasi tentang Syila.
"Pasien harus segera operasi pengangkatan rahim. Karena endometriosis yang di alami pasien bisa membahayakan nyawanya. Pasien mengalami kelengketan hingga dinding rahim," jelas sang dokter.
Sampai akhirnya, ponsel Syila berdering. Orang yang menolong Syila langsung menerima panggilan telepon dari orang tua Syila. Alangkah terkejutnya, sang ibu. Saat mendapatkan kabar, kalau sang anak saat ini sedang kritis. Orang tua Syila akan segera berangkat ke Jakarta, untuk menemui sang anak. Terlebih mereka tahu, kalau sang anak harus segera di operasi.
"Ada apa ya Pak dengan Syila? Memangnya si Raihan, suami si Syila kemana ya? Bukannya, suaminya si Syila pemilik perusahaan," ujar sang ibu.
"Bapak juga enggak tahu bu. Kita harus segera berangkat ke Jakarta. Biar jelas semuanya," sahut sang bapaknya Syila.
__ADS_1
Dengan uang yang dia miliki, orang tua Syila akhirnya memutuskan untuk nekat ke Jakarta bertemu sang anak.
Kini kedua orang tua Syila sudah dalam perjalanan menuju Jakarta. Mereka berangkat dari Bandung menuju Jakarta dengan menggunakan bis.
Sesampainya di rumah sakit, orang tua Syila langsung bergegas menghampiri sang anak untuk melihat kondisi sang anak sekarang ini. Orang tua Syila langsung menghampiri sang perawat untuk menanyakan penyakit yang di derita sang anak saat ini.
"Sebenarnya, anak saya sakit?" Tanya bapaknya Syila.
"Menurut hasil pemeriksaan. Pasien menderita penyakit endometriosis. Pasien harus segera di operasi, karena bisa saja menjadi penyakit kanker rahim. Karena mengalami kelengketan di dinding rahim. Harus dilakukan pengangkatan rahim," jelas sang perawat. Karena saat itu tidak ada dokter. Sang perawat hanya bisa menjelaskan berdasarkan data yang di miliki.
"Ya Allah Pak, kasihan Syila. Malang sekali nasibnya. Berarti dia enggak bisa punya anak, kalau rahimnya di angkat. Suaminya si Raihan ke mana ya?" Ujar sang ibu.
Kedua orang tau Syila teringat apa yang terjadi dulu. Saat mereka tahu, kalau saat itu Raihan masih berstatus suami dari wanita lain. Tetapi, mereka tetap menikahkan Syila dengan Raihan. Seharusnya, mereka mengingatkan sang anak, bukan justru mendukung perbuatan buruk anaknya untuk tetap menikah dengan Raihan. Menyesal pun rasanya tak ada artinya sekarang. Anaknya kini sudah menjadi korban. Menjadi wanita yang gelap mata akan kemewahan. Bahkan rela membuat Raihan dan Killa berpisah.
__ADS_1