
Mereka baru saja sampai di hotel. Sebuah hotel bintang 5 yang menjadi pilihan Dimas untuk wanita yang dia cintai. Lusa, Dimas akan langsung mengajak Killa berbulan madu. Mereka sudah sepakat akan membawa serta Sakha dalam perjalanan honeymoon mereka.
"Bi, saya titip Sakha dulu ya! Kalau memang Sakha rewel banget, Bibi ketuk pintu kamar kami saja ya!" Ujar Dimas kepada sang ART.
Dimas dan Killa butuh waktu untuk bisa berduaan, tetapi mereka tak tega jika harus meninggalkan Sakha di rumah bersama sang ART. Paling tidak, kalau Sakha rewel, mereka berada di dekat Sakha. Killa terpaksa melakukan hal itu, karena dia sekarang adalah istri dari Dimas. Pastinya, ingin menyenangkan hati sang suami.
"Sudah jangan sedih! Nanti, Sakha jadi merasa gelisah. Kalau kangen, kan dekat," ucap Dimas yang mencoba memberi pengertian kepada sang istri. Dimas melihat wajah sang istri terlihat sedih. Killa pun akhirnya menganggukkan kepalanya mengerti.
"Jangan di bawa keluar ya, Bi! Di dalam kamar saja! Saya titip dulu malam ini!" Ujar Killa. Sebagai seorang ibu, Killa merasa tak tega. Dia berada di posisi yang sulit. Inilah salah satu alasan, kemarin dia sempat terpikir untuk menunda ingin menikah.
"Ayo sayang!" Ajak Dimas. Dimas menggandeng tangan sang istri, meninggalkan kamar sang anak. Dimas mengajak Killa ke kamar pengantin mereka.
"Surprise," ucap Dimas saat membuka pintu kamar pengantin mereka. Kamar yang begitu indah. Pernikahan kali ini, Killa benar-benar diperlakukan dengan baik dan penuh cinta. Pastinya, sangat berbeda dengan pernikahan pertamanya.
Dimas menutup pintu kamar, dan langsung melingkarkan tangannya di pinggang ramping sang istri. Killa pun menyambut, dia langsung mengalungkan tangannya di leher Dimas. Netra mereka saling bertemu. Tatapan penuh cinta, keduanya saling mencintai.
Perlahan bibir mereka menyatu, ciuman pun terjadi. Perlahan lidah mereka saling membelit satu sama lain. Ciuman itu semakin bergairah. Tangan Dimas kini mulai membuka kancing kebaya Killa satu persatu. Dimas melihat tubuh indah istrinya untuk kedua kalinya, yang pertama saat melahirkan Sakha.
Ciuman mereka harus terhenti, disaat pasokan oksigen mereka hampir habis. Killa terlihat tersipu malu. "Kita mandi dulu yuk! Setelah ini kita sholat dua rakaat, sebelum melakukannya. Meskipun kita menunda dulu memiliki anak," ucap Dimas dan Kia menganggukkan kepalanya.
Kini keduanya sudah berada di kamar mandi. Keduanya sudah sama-sama polos. Mereka mandi di bawah guyuran air shower. Namun, Dimas berusaha untuk menahannya. Untuk tidak melakukan di kamar mandi. Mereka langsung memakai bathrobe dan berwudhu untuk sholat. Saat dulu melakukan bersama Raihan, Killa tak pernah seperti ini. Raihan melakukan hanya karena nap*su.
__ADS_1
Mereka kini sedang sholat dua rakaat, sholat yang sebelum melakukan hubungan suami istri. Dimas dan Killa juga tampak membaca doa bersama. Setelah itu, Dimas langsung membuka bathrobe yang sang istri kenalan. Kemudian mengarahkan sang istri ke ranjang, dan membaringkan sang istri di ranjang.
"Apa kamu sudah siap?" Tanya Dimas kepada Killa. Dia tak akan memaksa Killa, jika Killa merasa belum siap. Dimas tampak tersenyum, kala Killa mengatakan kalau dirinya sudah merasa siap untuk memenuhi kewajibannya sebagai seorang istri.
Mereka melanjutkan yang tadi sempat tertunda. Meskipun ciuman mereka masih terasa kaku, tetapi keduanya tampak menikmati. Ini adalah hal pertama kali dalam hidup Dimas. Tetapi, dia akan berusaha memuaskan sang istri. Lambat laun, dirinya merasa yakin, lama kelamaan akan pintar dengan sendirinya.
Killa tampak menikmati sentuhan demi sentuhan yang sang suami lakukan. Desa*han pun akhirnya lolos dari bibirnya. Membuat Dimas menjadi bertambah semangat. Killa memberanikan memegang milik suaminya yang sudah menegang.
"Apa kamu ingin mencoba rasanya milik kamu di kulum?" Tanya Killa. Saat sang suami bermain di area sensitifnya. Dimas tampak menyapu dengan lidahnya, dan jarinya kini bermain di area sensitif istrinya.
Dimas menghentikannya. Dia ingin mencobanya. Kini dia yang membaringkan tubuhnya di ranjang. Killa yang memuaskan sang suami. Dimas yang baru saja merasakan, tentu saja merasa begitu nikmat. Miliknya semakin menegang, miliknya terasa begitu penuh di mulut Killa.
"Kamu yang mau mimpin, apa aku yang memimpin?" Tanya Killa. Yang kini sudah menghentikan permainan mulutnya.
Untuk yang pertama, Dimas ingin yang memimpin permainan. Kini Killa membaringkan tubuhnya di ranjang kembali. Dimas langsung melebarkan kedua pangkal paha istrinya, dan mulai mengarahkan miliknya ke area sensitifnya.
Perlahan Dimas mulai memasukkannya. Meskipun istrinya sudah tak perawan, dia tetap melakukan dengan penuh kelembutan. Jika kemarin dia hanya bisa melihat dan memegang, saat ini dia bisa merasakan.
Meskipun sang istri sudah tak perawan dan telah memiliki anak, bagi Dimas rasanya masih begitu nikmat. Desa*han demi de*sahan mengiringi percintaan mereka. Dimas semakin mempercepat permainannya, tetapi dia tetap melakukan dengan hati-hati. Dia tak ingin UID Killa terlepas atau bergeser. Mereka sudah sepakat untuk menunda memiliki anak dalam waktu dekat ini.
"Sayang, aku sudah tak tahan," ucap Dimas. Dia sudah tak mampu menahannya, ingin pelepasan.
__ADS_1
"Aku juga ...," sahut Killa. Mata Killa sudah terlihat merem melek.
"Kita keluarkan bersama ya, Sayang!" Ujar Dimas dan Killa menganggukkan kepalanya. Dia sudah tak mampu berkata-kata lagi. Dimas semakin mempercepatnya, rasanya sudah benar-benar nikmat. Hingga akhirnya, keduanya mendapatkan pelepasan.
"Terima kasih, Sayang! I love you," ucap Dimas sambil memberikan kecupan di pucuk kepala dan kening istrinya.
Setelah itu dia turun dari tubuh sang istri, dan mencoba mengatur napas dan jantungnya berpacu cepat. Keduanya masih membaringkan tubuhnya di ranjang, Dimas tampak menggenggam tangan istrinya erat, dan memandang sang istri penuh cinta.
"Makasih ya, kamu sudah menerima aku apa adanya. Menerima aku yang sudah tak perawan," ucap Killa.
"Aku bangga memiliki apapun yang kamu miliki. Bagiku perawan atau tidak, tak jadi masalah. Aku juga merasa puas kok. Milikmu, masih terasa enak," bisik Dimas di telinga Killa membuat wajah Killa memerah.
Dimas mencium pipi Killa. "Sepertinya, aku akan kecanduan dengan istriku," ucap Dimas.
Dimas dan Killa memutuskan untuk membersihkan miliknya. Mereka ke kamar mandi secara bergantian. Killa bersyukur, karena akhirnya dia bisa merasakan pernikahan yang sesungguhnya. Bisa merasakan cinta dari suaminya.
"Terima kasih ya Allah, karena engkau telah memberikan jodoh terbaik untukku, dan memberikan kesempatan kepadaku untuk hidup bahagia. Inilah kebahagiaan yang sesungguhnya," ucap Killa dalam hati.
Killa tertawa bahagia, saat Dimas menggendong tubuhnya dan membawa ke kamar mandi. Killa tampak melingkarkan tangannya di leher sang suami.
__ADS_1