Kubuat Kau Menyesal!

Kubuat Kau Menyesal!
Pertengkaran Dimas dengan Raihan


__ADS_3

Raihan merasa cemburu, melihat kedekatan mantan istrinya dengan sang dokter. Dimas terlihat tak peduli, meskipun Raihan menatapnya sinis. Mereka berdua tak menganggap Raihan ada.


"Nanti coba kamu susuin ya Sakhanya! Biar dia nanti enggak bingung pu*ting! Dia jadi terbiasa menyusu ASI," ujar Dimas dan Killa mengiyakan. Raihan semakin panas mendengarnya.


"Jadi kamu namain anak kita Shaka?" Tanya Raihan ketus. Killa mengiyakan.


Mereka sempat berdebat. Karena Raihan kurang suka nama itu. Tetapi, Killa tetap bersikeras untuk memberikan nama buah hatinya itu. Hingga akhirnya, mau tak mau Raihan menuruti Killa.


"Sepertinya, tugas Anda sudah selesai dokter Dimas di sini! Karena pasien Anda ingin mencoba menyusui, dan seharusnya tugas ini adalah tugas bidan. Bidan yang akan memberikan penyuluhan kepada Nyonya Killa. Saya, sebagai ayahnya Sakha merasa risih, kalau Anda memperhatikan Killa menyusui anak saya," ucap Raihan ketus, dia mengusir Dimas.

__ADS_1


"Memang benar, Anda adalah ayahnya Sakha. Tapi, Anda harus ingat. Anda itu sudah tak memiliki hubungan apapun dengan ibunya Sakha. Jika saya tak boleh di sini, Anda pun tak boleh di sini. Karena Anda bukan suaminya Killa lagi. Sebelum Anda mengusir saya, pikirkan dulu ucapan Anda," sahut Dimas ketus.


Raihan terpancing emosi, dia hendak menonjok wajah Dimas. Sang bunda mencoba melerainya.


"Cukup! Kalian ini apa-apaan si? Karena kalian, Sakha jadi terganggu tidurnya. Mas, aku mohon dengan sangat! Tolong Mas segera keluar dari ruangan ini, karena aku ingin menyusui Sakha. Kita bukan mahram Mas. Tolong kamu hargai keputusan aku, kalau kamu masih ingin bersama Sakha," ujar Killa tegas.


"Oke, aku akan keluar dari ruangan ini. Asalkan dia juga keluar dari ruangan ini!" sahut Raihan.


"Nanti, kalau kamu ada keluhan apapun. Kamu kabarin kakak saja ya! Kakak mau periksa pasien lainnya dulu," ujar Dimas dan Killa mengiyakan.

__ADS_1


"Aku ingin azankan Sakha dulu. Setelah itu, aku baru keluar dari ruangan ini," pinta Raihan. Killa mengizinkannya. Karena Killa tak akan melarang Raihan untuk bisa dekat dengan Sakha. Asalkan, Raihan tak pernah mengusik dirinya.


Killa tampak memperhatikan Raihan yang menggendong Sakha. Dia masih terlihat kaku. Meskipun demikian, dia masih terus ingin belajar. Raihan terlihat meneteskan air matanya, suaranya pun terdengar bergetar. Dia terlihat begitu menyesal, saat menggendong bayi mungil darah dagingnya. Bunda Bunga pun terlihat sedih, melihat apa yang terjadi dengan sang anak.


"Maafkan Ayah sayang. Jika ayah dulu tak melakukan kesalahan, pasti kita bisa hidup bersama. Ayah tak akan merasakan seperti ini. Ayah begitu menyesal, sekarang Ayah harus kehilangan kamu dan bunda," ujar Raihan. Raihan tak mampu membendung perasaannya. Dadanya terasa sesak, menahan perasaannya saat itu.


Sakha merasa tak nyaman di pelukan sang ayah. Dia tampak menangis. Seorang bayi, memiliki ikatan batin dengan kedua orang tuanya. Bagaimana Raihan dulu begitu jahat padanya. Tak mempedulikan dirinya, saat dia dalam kandungan sang bunda. Membiarkan sang bunda berjuang sendiri melewati masa kehamilan.


"Bun, tolong ambilkan Sakha! Sepertinya, Sakha tak nyaman di pelukan Mas Raihan. Atau mungkin dia ingin nyusu," pinta Killa kepada Bunda Bunga.

__ADS_1


Killa mengusir Raihan dari ruangan. Karena dia ingin menyusui Sakha. Perasaan Raihan saat ini, ibarat kata sakit tapi tak berdarah. Hatinya terasa sakit, melihat anaknya sendiri tak merasa nyaman di dekatnya.


"Semua ini salahku! Aku memang bodoh! Rela menyakiti Killa, demi mempertahankan Syila, dan ternyata Syila membalas aku seperti ini," ucap Raihan lirih. Raihan tampak memegangi dadanya yang terasa sesak. Seakan dunia runtuh, napasnya seakan terhenti seketika.


__ADS_2