
Pasangan suami istri itu melewati malam dengan panas meskipun penuh dengan ke hati hatian, keduanya sudah berpeluh di sekujur tubuh mereka, ruang gerak Arsen juga terbatas dia tidak ingin menyakiti istri serta calon bayinya.
Tepat setelah Arsen mencapai puncak telpon genggamnya berdering dengan masih mengatur nafas Arsen mengangkat telpon.
"Sayang aku harus ke rumah sakit Ray kambuh!, kamu baik baik di rumah" Arsen segera memakai baju dan celananya dengan tergesa bahkan dirinya tidak membersihkan diri terlebih dahulu.
***
ke Esokan paginya.
Saat Edel bangkit dari tempat tidur dari tubuh bagian bawahnya keluar cairan bening yang di serta dengan rasa mulas yang merekat bagian perutnya. Edel berusaha agar tetap tenang dan duduk kembali di atas ranjang memakai pakaiannya tadi dengan perlahan, tenaganya seakan terkuras habis ia tidak mampu berteriak untuk meminta tolong, darah segarpun turut keluar dari jalan lahir semakin panik saja dirinya. Dengan segera dirinya mengambil ponsel berusaha menelpon suaminya tapi tidak dapat tersambung berkali kali Edel mencoba tetap saja tidak ada sahutan dari sebrang sana, ia pun akhirnya mengirimkan pesan mengabarkan tentang kondisi dirinya saat ini. Keringat di dahinya sudah sebesar biji jagung dia sudah tidak kuat lagi untuk sekedar membuka mata dan di detik berikutnya Edel tidak mengingat apapun.
__ADS_1
Bertepatan dengan itu orang tua Edel telah sampai di kediaman Anak serta menantunya. Pelayan mengantarkan Tuan Chandra berserta sang istri ke depan kamar putrinya,
Tok.. Tok..
"Sayang ini Papa dan Mama sudah tiba tolong buka pintunya!". tidak ada sahutan dari dalam kamar sampai beberapa kali di ketukpun tidak ada saat Papa menekan gagang pintu yang ternyata tidak di kunci, alangkah terkejutnya mereka mendapati putrinya di atas ranjang dengan kondisi bersimbah darah.
Dengan bantuan pelayan rumah Edel di bawa kerumah sakit. "Sayang apa yang terjadi denganmu?, kemana perginya suamimu?, maafkan Papa, Papa benar benar gagal jadi seorang Ayah".
***
"Arsen bagai mana ini? Ray sebelumnya tidak pernah sampai muntah darah" Clara sudah menangis karna tidak tahan dengan perasaan takut.
__ADS_1
"tenang lah, semua pasti baik baik saja".
"Aku takut Ray tidak mampu bertahan".
"Stttt, jangan berbicara seperti itu".
tidak lama ruangan itu terbuka menampilkan dokter yang menangani Ray, Dokter itu menarik nafas berat."Maaf putra kalian tidak mampu kami selamatkan, kami turut berduka cita".
'untuk sesaat Arsen kehilangan ke warasannya mengapa bisa Tuhan begitu tega terhadap dirinya, baru saja beberapa bulan dapat memeluk sang anak kini anak itu telah kembali ke pelukan penciptanya, memang Arsen tidak menginginkan seorang anak di waktu dulu di saat usia nya masih sangat muda, tadi di saat dirinya mengetahui sudah memiliki anak tentu saja dirinya merasa bahagia, meskipun pada akhirnya kebahagiaan itu hanya bertahan beberapa bulan saja'.
Clara berlari menghampiri putranya yang telah terbujur kaku lalu mengamuk dengan brutal. Arsenpun tidak mampu menenangkannya.
__ADS_1
'Arsen bersedia bersamanya lagi karna Ray sekarang Ray telah tiada lalu bagai mana anak dalam perutnya kini, Clara pingsan dalam pelukan suami sirinya.
.