
"Kak Arman tolong aku!" Arsen meneriaki nama kakaknya
"Ada apa Arsen? " Arman menghampiri Adiknya dan terkejut mendapati Edel tak sadarkan diri di pelukan adiknya, "Apa yang terjadi? ".
"Antar aku ke rumah sakit kak, Edel perlu pertolongan". mereka tergesa kerumah sakit, melajukan mobil dengan kecepatan tinggi, hanya kepanikan yang melingkupi mereka, sesekali Arman melihat keadaan di belakang dari kaca spion yang menggantung di dekat kepalanya. Tak henti-henti Arsen mengucapkan kata maaf dengan berderai air mata. Apa yang terjadi? hanya itu yang yang berputar di kepala Arman.
Setibanya di rumah sakit Edel segera mendapat pertolongan medis, Arsen dan Arman hanya menunggu di luar ruangan.
"Kak aku harus bagai mana? aku menyakiti Edel kembali dengan tanganku! ". Arman meradang mendengarnya, adiknya memang seorang cassanova sedari dulu tapi adiknya tidak pernah menyakiti fisik wanita sebelum ini.
"Apa yang terjadi padamu? aku bahkan tidak mengenal adikku di jiwamu sekarang Ars, kau lebih pantas di sebut sebagai monster di bandingkan manusia".
Awalnya Arsen hanya bungkam dan menundukan kepala dengan airmata dan penyesalan yang membingkai seluruh wajahnya sampai kemudian ia membuka suara
"Aku jujur padamu kak Aku memakai obat terlarang, bisa di katakan Ekstasi. Aku memakainya sudah lebih dari dua tahun dan itu membuat diriku menjadi sosok lain, jangankan dirimu aku saja tidak mengenali diriku sendiri kak",
"Sekarang aku harus bagai mana? rumah tanggaku berada di ujung tanduk, aku seringkali tidak dapat mengendalikan berbagai perasaan pada diriku, aku bersalah kak".
Arman geleng-geleng kepala dengan keterangan adiknya entah harus dengan apa ia menyikapi, tapi di sisi lain dirinya bersukur adiknya mau jujur terhadapnya.
__ADS_1
"mengapa kau menyentuh obat terlarang itu Ars? "
"aku tidak berniat menyentuh ataupun mendekati hal semacam itu kak, sampai pada aku dan teman-temanku merayakan pesta atas berhasilnya tender yang aku menangkan, di pesta itu aku minum beberapa gelas bir, tapi tanpa di duga sebelumnya temanku Max mencekoki obat setan itu kak".
"Lalu apa pemicunya sampai-sampai kau menyiksa Edel sampai seperti itu? ".
"Edel telah berani tidur dengan pria lain hanya untuk membalas diriku, terbukti dengan tanda merah yang pria itu tinggalkan di leher dan dada istriku".
Deg..
Secara tidak langsung Edel mendapat perlakuan kasar dari Arsen itu karna dirinya, karna Arman meninggalkan jejak di tubuh adik iparnya, haruskah ia jujur bahwa Edel tidak pernah tidur dengan Pria manapun, tiba tiba pikiran Arman terbang ke malam itu.
"Mangapa kau mengkhianatiku Ars?" Edel terus menerus meracau saat sampai di Aparteman Arman.
"Apa kesalahanku?" Edel menangkup pipi Arman saat ia di letakan di atas tempat tidur, tanpa di duga Edel menciumnya dengan paksa. "Lihat aku Ars, padahal aku masih melihat cinta di matamu tapi kenapa kau brgitu tega".
"Aku Arman, Edel sadarlah".
"Sentuh aku, buktikan jika kau masih mencintaiku". Edel merobek pakaiannya sendiri, menyerang Arman dengan ciuman dan cumbuan bak wanita liar, Arman yang awalnya memberontak dan mencoba menyadarkan adik iparnya akhirnya goyah ia terhanyut atas pemainan Edel, Arman mulai tergoda dan terbuai dengan sentuhan Edel nalurinya sebagai pria dewasa muncul, sedang Edel yang dalam pengaruh alkohol menganggap bahwa laki laki yang bersamanya kini adalah Arsen.
__ADS_1
"katakan dengan cara apa jalaang itu membuatmu berpaling?" Arman tak kuasa untuk menolak lagi dengan cepat ia melayangkan sentuhan demi sentuhannya dan beberapa jejak di tubuh molek itu, bahkan Arman membiarkan dan menghatrarkan Edelweis ke puncak kenikmatan wanita itu hanya dengan pernainan tangan dan mulutnya, tapi saat Edelweis mencapai puncak yang di teriakinya nama Arsen dan hal itu membuat arman tersadar dari tindakannya.
"Astaga aku hampir saja menodainya kembali" Arman memandang tubuh polos itu dan menyelimutinya dengan selimut, "maaf" ia segera menuju kamar mandi untuk menuntaskannya sendiri.
Dan mengenai malam panas itu tidak benar-benar terjadi Arman hanya senang menggoda Edel saja semuanya hanya rekayasa kecuali tanda itu hanya pelengkap sandiwaranya.
"Flash Back Off".
.
"Kak aku takut Edel meninggalkanku, aku tidak bisa jika tanpanya". Arsen histeris dan membenturkan kepalanya ke dinding berulang kali sampai darah segar mengucur membasasi wajahnya.
"Ars berhenti jangan sampai kau mati sebelum Edel memaafkanmu".
"Kau menyumpahiku mati agar bisa menikahinya kan? ".
'Astaga Arman malah ingin tangannya sendiri yang membenturkan kepala adiknya itu'.
.
__ADS_1