Kutukan Pengantin Hamil

Kutukan Pengantin Hamil
Memohon pengampunan


__ADS_3

"Kau merasakannya, Hmm"


"Kau tegang? "


Bisa-bisanya perjaka tua ini, Edel merasakan ketegangan senjata pria itu, pikirannya langsung melanglang buana. Tentu saja memikirkan hal yang berbau mesum. Sepertinya otaknya benar-benar tidak beres.


"Kau mesum sekali tuan! "


"Hanya padamu"


"Menyingkirlah, jika tidak ingin keperjakaanmu hilang saat ini."


"Aku tidak keberatan melepas keperjakaanku dengan janda pujaanku. " Vincenzo semakin mengeratkan pelukan pada perut wanitanya, menopangkan dagu pada pundak Edel serta sesekali mengecupi leher jenjang calon istrinya, Edel di buat meremang, sekuat mungkin ia mengenyahkan pikiran nakalnya, sungguh ingin sekali ia melenyapkan diri dari sana.


"Segeralah mandi Vin". Edel melerai pelukan kekasihnya


"Mandikan ya?!"


"Tidak mau, nanti saja kita sudah menikah."


"Kau tidak kasihan pada kekasihmu yang perjaka ini? "


"Ish.. kau ini" Setelah berhasil melepas pelukannya Edel segera berlari keluar.


...


Arman termenung di kursi kebesarannya memikirkan takdir hidupnya, sudah lebih dari sembilan tahun dirinya menyandang setatus duda. "Mengapa aku tidak bisa menyingkirkan Edel dalam pikiranku, dirinya selalu membayangi langkah kakiku, aku tau aku bersalah di masa lalu, tapi tidak bisakah Tuhan mengampuninya?". Dan Arman ingin Edelweis mencabut kutukannya, sungguh ia tersiksa dengan takdir yang seperti ini.


'Aku harus menemuinya!'


.


"Vin aku keluar sebentar ya, aku akan kembali sebelum makan siang tiba"


"Kau mau kemana?, jangan pergi kemanapun tetaplah di sampingku, atau aku akan merindukanmu"


"Rindukan aku sebanyak yang kau mau, tapi aku benar-benar harus pergi".


"Kemana, jangan membuatku berpikiran buruk atau apapun, aku tidak suka di bohongi"


"Aku akan menemui Arman, katanya ada hal penting yang ingin ia sampaikan kepadaku"


"Tentang apa? "


"Entah" Edel hanya mengedikan bahu acuh, ia pun tidak mengetahui apa yang ingin di bicarakan mantan cinta pertamanya dulu.


"Segeralah kembali, jangan membuatku menunggu terlalu lama"


"Iya cerewet, minum obatmu lalu tidurlah, aku akan kembali sebelum kau terjaga" Edel meraih obat kekasihnya lalu di munumkan dengan pelahan, "Tidurlah". membaringkan tubuh kekar itu mengecup pucuk kepala prianya.


Hangat, itulah yang dirasakan Vincen kebahagiaan mengalir d dirinya, perlakuan manis itu adalah mimpinya sedari dulu, sungguh ia tidak keberatan jika harus sakit sepanjang waktu asal bisa di perhatikan wanitanya.

__ADS_1


"Terimakasi". Vincenzo segera memejamkan matanya memuai petualan mimpi di tengah matahari tengah mulai meninggi.


...


"Ada apa? "


"Duduklah terlebih dahulu Edel aku ingin berbicara".


Ia mengeser kursi lalu duduk dengan kasar, mengankat dagunya angkuh serta merta tangan yang ia lipat di atas perut, alih-alih terlihat sombong justru Edel terlihat menngemaskan dengan tingkahnya.


"Katakan jangan terlalu banyak basa basi, aku sibuk".


"Sibuk mengurus calon suamimu?"


"Tentu saja, aku mengurus si Tampan calon suamiku" Arman berdecak kesal mendengar kalimat Edel yang terdengar berlebihan.


"Aku minta maaf Edel"


"Maaf, untuk apa? "


"Semuanya, semua kesalahan yang ku lakukan di masa lalu, aku mohon pengampunan untuk itu Edel!"


"Jelaskan dosa yang mana yang ingin ku ampuni?"


"Yang pertama, Tentang dimana aku selalu menolak cintamu aku minta maaf".


"Untuk itu aku memaafkan, aku juga bersalah memaksamu untuk menyukaimu, padahal aku tahu cinta tidak dapat di paksakan".


"Kedua aku minta maaf, karna telah mempermalukanmu di acara pernikahanku dan ..." Arman tak dapat meneruskan kata lidahnya kelu, ia menunduk penuh sesal.


"Aku tidak bisa, rasanya sakit dan sesak" Edel beberapa kali memukul rongga dadanya berharap bisa menghilangkan atau sekedar mengurangi rasa sesak di dadanya, tapi sesak itu terus menghimpitnya Edel bahkan lupa bagai mana caranya bernafas.


"Ku mohon Edel". Arman memnghampirinya memegang kedua kakinya berlutut memohon pengampunan. "Ku mohon ... Ku mohon, ampuni aku".


"Kasihanilah aku Edel" Raung Arman di sertai tangisnya


"Aku juga dulu memohon belas kasihan terhadapmu, tapi kau menulikan telingamu, dan menutup pandanganmu dengan tatapan menghina dan mencemooh, bahkan aku masih ingat kata demi kata yang keluar dari mulut beracunmu, aku masih menghapal saat kau mengayaiku murahan Arman. Lalu untuk apa kau sekarang belutut layaknya budak yang memohon penganpunan sang raja? "


"Aku tahu aku bersalah dan mengakuinya"


"Setelah sepuluh tahun kau baru sadar, kau selalu melihat kejelekanku, lantas hidungmu tidak bisa berpungsi untuk mencim bau busuk yang berasal dari tubuhmu sendiri, sungguh kau manusia buruk Arman".


Akhirnya dengan penuh perjuangan Edel dapat menghirup oksigen dengan benar, membebaskan paru-parunya dari rasa sesak.


"Aku sampai bersudud di kakimu jika kau lupa".


Arman kemudian bersujud di kaki Edelweis, tidak hanya itu bahkan ia mencium punggung kaki wanita itu "Mafkan aku. Maafkan aku".


Meskipun Edel merasa puas dengan apa yang telah terjadi, tapi Edel merasa tak tega "Bangun lah"


"Tidak kau belum memafkanku" Arman masib di pososinya bersujud.

__ADS_1


"Baiklah, aku memaafkanmu"


"Cabut kutukanmu"


"Kutukan yang mana? " Edel berlaga bodoh, malas ia pindah tempat duduk menjauhi pria itu.


"Kau menyumpahiku untuk impoten dan itu terbukti"


"Apa?, kapan aku mengatakannya? "


"kau lupa, kau yang bilang di hari itu"


"Aku hanya mengutukmu untuk tidak memiliki anak selain dariku,"


" Dan fonisnya aku impoten".


"Benarkah, apa separah itu? "


"Ya, kau pikir karna apa aku menduda selama sembilan tahun lebih"


Edel mendapat penghiburan, baguslah jika seperti itu.


"Lalu mengapa kau tidak mengutuk Arsen, padahal ia telah menghiatimu? "


"Setidaknya Arsen tidak mempermalukanku, kau tau aku selalu memiliki alasan untuk memaafkan seseorang, hanya dirimu yang sulit ku maafkan, setidaknya aku selalu mencari satu kebaikan orang lain yang melukaiku, tidak seperti dirimu."


"Edelweis aku tahu ada harga yang harus ku bayar dari semua tingkah lakuku di masa lalu, tapi aku juga menginginkan hidup normal dan damai, ku mohon cabutlah kutukan itu"


"Aku telah memaafkanmu, mengenai kutukan itu biar Tuhan saja yang menyelesaikannya denganmu, aku tidak berhak menghakimi seseorang melebihi yang Tuhan kehendaki, Aku pergi, hiduplah dengan damai, permisi" Edel pergi tanpa menoleh lagi, Arman hanya mematung di tempatnya dengan menatap kepergian wanita itu.


...


"Kau mengikari janjimu, kau bilang akan kembali sebelum aku bangun, aku bahkan sudah bangun sepuluh menit yang lalu...," Vincenzo menggantung omelannya, "Kau menangis? "


"Tidak hanya kelilipan tadi"


"Mana ada kelilipan kedua matamu mengeluarkan air mata".


"Kan perih jadi ikutan nangis mata yang satunya"


"Jangan bilang hidungmu juga kelipan! "


"Mana ada."


"Hidungmu juga memanjang, kau pasti berbohong" Refleks Edel menyentuh hidungnya.


"Ish.. "


"Bagai mana kabar cinta pertamamu? "


"Dia sudah kehilangan pesonanya"

__ADS_1


Vincenzo tergelak kencang "Kau yakin? "


"sangat yakin".


__ADS_2